Senin, 05 April 2010

Pentingnya Peranan Wanita Sebagai FTM di Jepang...

Sumber : Kompas Sabtu 20 Nov 1993.
Oleh : Anni Iwasaki

PADA usia 21 tahun Chaeriyani (Anni) menikah seorang pria Jepang. Yasuhiro Iwasaki. Dua bulan kemudian, bulan Feb 1975, Anni ke Jepang diboyong suaminya. Pernikahan itu menghentikan semua cita-citanya semula menjadi produser file, sekaligus mengakhiri jalan yang pernah ditapakinya sebagai wanita bekerja-wanita karir.

Sampai saat ini , sudah hampir 20 tahun ia tinggal di Jepang, berperan sebagai ibu rumah tangga tok. Apa yang istimewa dari seorang wanita yang "cuma tinggal di rumah?"
Banyak hal yang sifatnya sehari-hari , kadang luput dari perhatian orang. Kepercayaan tentang pentingnya sesuatu yang seperti tidak istimewa, yakni sebagai "ibu rumah tangga", peranan domestik , itulah justru yang menjadikannya istimewa. Wanita ini merefleksikan signifikansi peranan ibu rumah tangga dalam tulisan-tulisan di media Jepang, maupun buku-buku yang diterbitkan di Indonesia. Jepang yang banyak dikagumi orang karena kedisiplinan dan kemajuannya ternyata menurut Anni disebabkan kukuhnya peranan domestik wanita-bukan wanita yang malang melintang di luar. 

***
SELAMA berada di Jepang ia melihat sebagian besar wanita adalah ibu rumah tangga total. Menurut pengalaman Anni, para ibu rumah tangga di Jpeng bisa merasa bangga menyandang profesi itu. Orang-orang Jepang tahu persis bahwa menjadi ibu rumah tangga bukan berarti hidup menganggur (jobless).

Ia rajin menulis untuk koran-koran besar di Jepang. Pekerjaan menulis ia lakukan di rumah setelah selesai mengurus segala keperluan suami dan anak-anak. "Saya menulis setelah suami pergi ke kantor, anak-anak ke sekolah dan selesai berbelanja serta masak," ujar wanita hitam manis asal Kediri, Jatim ini. 

Setelah satu artikelnya dimuat untuk memperingati penerbitan ke 15.000 harian terbesar Jepang, The Daily Yomiuri pada hari Rabu 25 Maret 1992.

Dalam artikel dengan judul Japan A Safer Place for Housewives, Kids, Anni bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai ibu rumah tangga di Jepang. Sebelumnya ia hanya tahu dari bacaan, bahwa wanita Jepang, terutama yang telah menikah, adalah kaum lemah yang hanya mengabdi kepada suami. "Ternyata Jepang adalah tempat yang paling damai dan aman bagi setiap ibu rumah tangga dan anak-anak," ujar Anni dalam artikel tersebut.

Profil Anni Iwasaki juga pernah terpampang di majalah Jepang berbahasa Inggris, Look Japan (Mei 1992). Dalam wawancara dengan wartawan majalah itu, Anni berbicara tentang betapa profesi ibu rumah tangga ini membutuhkan konsentrasi total dari setiap wanita. Seperti sebagian besar wanita Jepang , termasuk mereka yang pernah lulus dari perguruan tinggi, lebih memilih menjadi ibu rumah tangga total. "Sebagian besar wanita Jepang lulusan perguruan tinggi memanfaatkan hasilstudinya semaksimal mungkin untuk membina rumah tangganya dan mengasuh anak-anak mereka," ujar Anni.

Selama tahun 1992 anni telah menulis tiga buku pertamanya. Semuanya telah diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta. Ketiga bukunya adalah Dinamika Kehidupan, Mahligai Perkawinan dan Senyum Untuk Anakku. "Hampir semua tulisan saya adalah dalam rangka kampanye kepada dunia wanita agar menjunjung tinggi profesi ibu rumah tangga...dan kaum wanita karier yang terlalu banyak kerja di luar rumah agar kembali mencurahkan tenaga di dalam rumah," ujarnya.

Anni masih punya banyak tulisan yang akan ditawarkan ke berbagai penerbitan dan majalah di Indonesia. "Saya tidak akan memilih memasukkan artikel saya di majalah wanita, karena sebagian besar redakturnya adalah wanita yang gandrung pada karier di luar rumah, mereka selalu menolak pendapat saya," ujarnya. Nah...

***
DIA kini tinggal bersama suami, da ketiga anaknya, Rio (kelas tiga SMA), Yudo (kelas dua SMP) dan Rido (enam SD), serta suaminya di 1-317 Kashima 22-Hachioji, Tokyo. Tempat tinggalnya berada di kawasan perumahan terdiri dari 160 keluarga. Di kawasan perumahan tersebut terdapat sekolah dari taman kanak-kanak sampai SMA.
Suaminya sering bertugas ke berbagai negara. Sampai kini Anni telah menjelajah ke 26 negara, antara lain di Amerika Serikat, beberapa negara Eropa, Arab, Afrika dan Asia. "Di negeri-negeri itu saya selalu memperhatikan kehidupan keluarga dan sistem yang berlaku. Dari situ saya yakin Jepang adalah negeri teraman bagi para ibu rumah tangga dan anak-anak," ujarnya.
Para ibu rumah tangga Jepang merasa aman, karena lapangan kerja diprioritaskan untuk para lelaki, berarti ancaman pengangguran bagi suami mereka tidak begitu besar. Karena banyak wanita Jepang lebih memilih sebagai ibu rumah tangga, lapangan kerja cukup untuk para suami. Para ibu rumah tangga Jepang tidak perlu terlalu khawatir suami mereka harus bersaing dengan kaum wanita dalam memperebutkan lapangan kerja.
Karena para ibu banyak di rumah pendidikan awal di bidang social behavior (tingkah laku sosial) bagi anak-anak mendapat perhatian pernuh. Misalnya untuk bidang-bidang tata krama, cara berpakaian rapi, menggunakan sapu tangan dan menggunakan bak mandi. "Maka orang Indonesia akan heran bila msuk ke toko-toko di Jepang menemui beribu-ribu jenis dan bentuk sapu tangan, mereka akan bertanya apakah semua itu bisa laku," ujarnya.
"Semua itu bisa laku karena orang Jepang telah terbiasa menggunakan sapu tangan sejak kecil dan pabrik-pabrik sapu tangan tidak khawatir bangkrut," ujarnya.
Selain itu sejak kecil para ibu rajin mengajarkan anak mandi dan mencintai kamar mandi. Karena itulah Jepang sangat kreatif memproduksi berbagai bentuk kamar mandi. "Itu karena sejak kecil orang Jepang telah diajar untuk mencintai mandi," ujar Anni.
Budaya disiplin waktu, berpakaian dan antre di Jepang bisa berjalan karena hal itu sudah ditanamkan sejak anak-anak. Dan itulah tugas ibu rumah tangga yang banyak meluangkan waktunya di rumah. "Kalau segala macam budaya itu harus dimulai di dalam rumah, maka itu sangat berkaitan dengan peran ibu rumah tangga yang harus banyak meluangkan waktu untuk hal itu...dan lihatlah rumah tangga di Jepang," ujar Anni.
Menurut Anni tidak ada ruginya bila seorang wanita lulusa fakultas kedokteran harus memilih menjadi ibu rumah tangga. Keahliannya bisa digunakan untuk mendidik anak-anaknya di bidang kesehatan, misalnya menjaga gigi supaya tetap baik. "Untuk mencetak manusia-manusia tangguh di masyarakat, pendidikan awal sebelum masuk sekolah sangat penting, karena itulah para ibupun perlu memperoleh berbagai keahlian khusus, selain punya pengetahuan umum yang kuat," kilah Anni. 

*** 

DALAM visi Anni, Amerika Serikat akan tertinggal jauh dalam kehidupan ekonomi dari Jepang. Di AS, banyak orang tenaga brilyan masuk ke militer, sedang yang kurang brilyan masuk ke pekerjaan sipil. Sementara itu terlalu banyak kaum wanita AS terjun ke lapangan kerja di luar rumah. Rumah-rumah di AS kosong dari ibu. Prinsip kemajuan ekonomi bangsa, menurut Anni, terjadi bila ada pemasukan uang (orang pengumpul uang) dan pengelola uang itu (manajer). Di Jepang ayah sebagai pencari pemasukan. Ibu sebagai orang yang me-manage (mengelola) uang itu. "Kalau semua cari uang, tidak ada yang mengelola dengan baik, misalnya merancang uang itu untuk apa saja dan apa saja yang harus diprioritaskan, maka uang yang masuk akan sirna begitu saja dan ekonomi keluarga akan ambruk," ujar Anni.
Prinsip semacam ini di Jepang hidupd alam hati sebagian besar orang Jepang sejak kecil sampai tua, dari unit keluarga sampai perusahaan, bangsa dan negara. "Dan itu saya lihat dari dapur rumah tangga saya di Jepang ini...itu jadi keyakinan saya sekarang," ujar nyonya muda berambut panjang dan tinggi semampai itu. 

Ia tertawa ketika seorang pejabat Indonesia datang ke Tokyo dan memberi nasihat padanya, bahwa wanita kini harus bisa menjadi wanita karier. Katanya, pejabat itu berbicara dengan lidah gombalnya. Ia mengeluarkan kalimat yang dihafalkannya dari udapan atasannya atau dari penataran-penataran untuk kenaikan pangkatnya. 

Mungkin sang pejabat itu tidak sadar, ketika gerakan emansipasi begitu menggebunya dan kemajuan wanita hendak diukur semata-mata dari kiprah sosial wanita di luar rumah, ia sebenarnya tengah berhadapan dengan eksponen yang justru tengah mengkampanyekan arus gerakan sebaliknya. Bahwa wanita harus kembali ke rumah, bahwa pekerti tentang kehidupan harus ditanamkan dari dalam rumah, bahwa initi kejaksanaan hidup yang luas sebetulnya berasal dari rumah. 

Bukankah di Indonesia juga ada pepatah: surga berada di telapak kaki ibu?(J. Osdar)

MENGUCAPKAN SELAMAT BULAN DAN HARI KARTINI 21 APRIL 2010:


"Engkau tahu gemarnya hatiku akan kesusasteraan. Akan tetapi tiada mungkin bertuankan sekali dua orang. Menjadi guru bukan menjadi pengasah pikiran saja, melainkan juga menjadi pembentuk budi pekerti, seharian bergaul dengan anak-anak, lalu hendak berusaha pula dalam hal kesusateraan?

Hanya satu mata pekerjaan saja yang hendak kukerjakan sekali kerja, tetapi hendak kulakukan dengan baik-baik" Habis Gelap Terbitlah Terang 30 Sept 1901 (Nyonya Abendanon).

Rabu, 31 Maret 2010

Ketika Para Ibu Tak Mau Lagi Memberi ASI

Sumber : Eramuslim.com

Sebelum para ilmuwan melakukan penelitian tentang manfaat air susu ibu, Islam sudah memerintahkan agar para ibu menyusui anak-anaknya. Perintah itu terdapat Surat Al-Baqarah ayat 233 yang berbunyi;

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
 
Berdasarkan ayat tersebut, hubungan intim dengan ibu melalui kegiatan menyusui adalah hak seorang anak yang dilahirkan dari keluarga Muslim. Apalagi berabad-abad kemudian para ilmuwan yang melakukan penelitian mengakui bahwa ASI (Air Susu Ibu) memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak. Bayi-bayi diberi ASI dengan cukup memiliki kekebalan tubuh yang kuat dan memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih baik dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula.

Meski sudah tahu manfaat ASI, banyak kaum perempuan zaman sekarang yang enggan memberikan ASI pada anak-anaknya, termasuk ketakutan untuk melahirkan secara normal dan lebih memilih melahirkan lewat operasi. Ada fenomena para ibu bersikap lunak terhadap asupan makanan untuk anak-anaknya. Mereka lebih memilih memberikan susu formula dan makanan bayi instan, karena produk susu dan makanan itu kini sudah banyak tersedia di pasaran.

Kecenderungan itu juga terjadi di kalangan perempuan Muslim. Kesadaran untuk memberikan ASI pada anak-anaknya justeru masih tinggi di kalangan muslimah konservatif dengan tingkat pendidikan tinggi. Di balik pakaian tertutup mereka, masih mau memberikan ASI pada anak-anaknya yang masih bayi. Mereka masih memegang teguh kebiasaan kalangan kaum muslimin di awal-awal perkembangan Islam. Para ibu ketika itu, menyapih anaknya setelah berusia dua tahun dan tidak memberikan makanan padat sebelum gigi si anak tumbuh. Jika mereka tidak mampu menyusui bayi-bayi mereka karena alasan yang kuat, maka mereka akan mencari perempuan lain yang bisa menyusui bayi mereka.

Di zaman sekarang, banyak hal yang menyebabkan anak-anak Muslim kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ASI. Baik dari faktor si ibu, anak dan faktor luar seperti sistem rumah sakit yang tidak mempromosikan pemberian ASI Eksklusif pada bayi yang baru lahir. Baru belakngan ini saja, Indonesia mengkampanyekan inisiasi menyusui dini di rumah-rumah sakit.
Rumah-rumah sakit kadang memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir. Kadang terjadi praktik yang tidak etis, dimana terjadi kesepakatan antara pihak rumah sakit dan produsen susu atau obat tertentu untuk mempromosikan produk-produk mereka pada pasien. Ada juga kaum perempuan yang hanya mau menyusui bayinya sampai usia enam bulan dengan alasan produksi ASI nya sudah berkurang. Padahal hal itu bisa diatasi dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berkalori.

Di sisi lain, karena faktor sang bayi, banyak para ibu yang harus berjuang agar bayinya mau menyusu ASI dan menolak memberikan susu botol pada bayinya yang baru lahir. Untuk kasus seperti ini, seorang ibi membutuhkan dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya dan si ibu dibiarkan untuk bersama-sama dengan bayinya paling tidak di 40 hari pertama kehidupan sang bayi.

Mengingat pentingnya ASI, patut disayangkan jika kaum perempuan Muslim enggan memberikan ASI pada bayi-bayinya yang baru lahir.Karena pemberian ASI yang baik akan menciptakan generasi-generasi Muslim yang kuat, sehat dan cerdas baik dari sisi intelektual maupun emosional, seperti hasil penelitian para ilmuwan tentang manfaat ASI. (ln/iol)

Senin, 22 Maret 2010

Kuda Yang Bahagia Dengan Memberi...

Sumber : Eramuslim.com

Seekor anjing tampak menatapi tingkah seekor kuda yang berlari-lari tak jauh dari hadapannya. Sang kuda begitu ceria. Sesekali, kuda menggoyangkan kepalanya seperti sedang berdendang riang. Anjing pun mengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah kuda.
 
“Kamu begitu bahagia, kuda?” tanya sang anjing menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.

“Ya, aku bahagia!” ucap kuda sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.
“Kamu tidak merasa susah di masa kering seperti ini?” tanya anjing dengan wajah masih muram.
“Tidak!” jawab kuda singkat. Gerakan larinya makin melambat. Dan, sang kuda pun menghentikan langkahnya di depan sang anjing.
“Apa kamu sudah kaya, temanku?” tanya si anjing serius. Yang ditanya tidak memberikan reaksi istimewa. Kuda cuma menjawab pelan, “Tidak!”

“Mungkin kamu sudah punya rumah baru seperti kura-kura, keong, atau yang lainnya?” tanya anjing tetap menunjukkan rasa penasaran. Kuda hanya menggeleng.
“Mungkin kamu sudah bisa menghasilkan mutiara seperti para kerang di laut?” tanya sang anjing lagi. Lagi-lagi, kuda menggeleng. “Lalu? Kenapa kamu begitu bahagia?” sergah anjing lebih serius.

“Entahlah,” jawab kuda sambil tetap menunjukkan wajah cerianya. “Aku bahagia bukan karena punya apa-apa. Aku bahagia karena bisa memberi apa yang kupunya: tenaga, kecerdasan, bahkan keceriaan,” jelas kuda begitu panjang.

“Itukah yang membuatmu bahagia dibanding aku?” tanya anjing mulai menemukan jawaban menarik.
“Aku merasa bahagia dan kaya karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Dan bukan, apa yang bisa kudapatkan,” tambah si kuda yang mulai beranjak untuk kembali berlari. **

Manis pahit kehidupan kadang bergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah sikap diri akan menemukan cermin. Kalau hidup dipandang dengan wajah muram, maka cermin akan memantulkan sikap susah, suram, dan tidak mengenakkan.

Cobalah letakkan mata hati kita di tempat yang nyaman untuk memandang hidup ini secara positif. Maka, kita akan menemukan energi baru tentang bagaimana mengarungi hidup.
Dari situlah, sikap yang muncul persis seperti diungkapkan sang kuda, “Aku merasa bahagia karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Bukan, apa yang bisa kudapatkan.” (muhammadnuh@eramuslim.com)

**

فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ﴿٧﴾ وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ﴿٨﴾ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ﴿٩﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى ﴿١٠

Minggu, 28 Februari 2010

Manajemen Stres

Sumber : Indofamilyhealth oleh Ir. Dina Agoes, M.Kes

Stress bagi banyak orang menjadi musuh utama dalam menjalani kehidupan.  Stres adalah rangsangan dalam bentuk apapun dan darimanapun yang akan dapat mempengaruhi proses pikir dan tindakan seseorang. 

Stres dengan frekuensi dan jumlah yang tinggi akan menimbulkan ketidakseimbangan baik fisik ataupun psikis pada individu.  Ketidakseimbangan tersebut harus segera diselesaikan melalui pemenuhan kebutuhan berdasarkan jenis stresnya.

Stres menurut ilmu psikologi dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan diri dan menjadikan kewaspadaan pada diri seseorang.  Stres ketika kita akan menghadapi ujian, tindakan yang akan dilakukan adalah berusaha belajar keras untuk meraih nilai yang bagus.  Stres karena akan ada perampingan jumlah karyawan, sesegera mungkin akan mencari lowongan kerja untuk menyelesaikan masalahnya.

Untuk menghindari stres yang lebih lanjut, mulailah untuk berlatih melakukan manajemen stres melalui beberapa cara.

Pertama : Hadapilah setiap masalah yang datang dengan tetap berpikiran positif.  Berusaha untuk mencari jalan keluar adalah kunci keberhasilan menghadapi masalah tersebut.  Misalnya, hari Rabu, Ant diminta berbicara di depan  30 remaja berisiko tinggi terpapar NAPZA.  Hari senin, Anis sudah menyiapkan segala sesuatu sebaik mungkin.  Anis stres karena memikirkan pelaksanaan penyuluhan esok harinya, tapi Anis tidak menghindar dari permasalahan.  Ia tahu besok pasti akan terjadi, stres dan cemas Anis jadikan sebagai penambah semangat akan keberhasilan dan manfaat yang dirasakan remaja setelah diberikan penyuluhan.  

Kedua : Kenali  penyebab ketegangan/stres

Penyebab ketegangan atau stres bisa teridentifikasi, bisa juga tidak.  Misalnya setiap matakuliah epidemiologi, tanpa sadar Dian selalu berkeringat, malas dan selalu ingin keluar lebih dulu dibanding mahasiswa lain. Setelah dianalisa ternyata Dian stres karena dosen pengajarnya selalu memberikan tugas dan pertanyaan secara mendadak.

Diketahui tidaknya penyebab stres tetap harus membuat kita tetap sadar bahwa ketegangan akan selalu kita jumpai selama kita menjalani berbagai aktivitas.  Hendaknya kita selalu berpikir logis dan positif terhadap semua stres/ketegangan yang ada, sehingga dengan otomatis kita sudah mempersiapkan diri menghadapi ketegangan tersebut.

Ketiga : Biasakan hidup sehat Makan dengan gizi seimbang, Berusahalah mempertahankan aktifitas yang kreatif seperti olah raga dan rekreasi, Hindari rokok dan minuman keras, Cukup istirahat dan tidur

Keempat : Tetaplah memelihara hubungan persahabatan dan sosial dengan orang-orang diluar lingkungan kerja, misalnya tetangga, kerabat dekat, serta melibatkan diri dalam aktivitas yang berguna seperti kegiatan sosial dan keagamaan.

Keuntungan manajemen stres
Meningkatkan :   Sistim kekebalan tubuh, daya ingat dan daya pikir, kualitas tidur, kualitas hubungan sosial,kualitas hubungan seksualitas,produktifitas,lingkungan kerja yang sehat dan dinamis, serta mengurangi resiko terkena penyakit seperti jantung dan stroke.

Mengatasi Tantrum Pada Anak

Sumber: Indofamily.net oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.

Jika anak-anak menangis dan mengamuk hanya karena tak dibelikan mainan kesukaannya, orangtua diharap memahami kondisi ini. Luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol pada anak-anak, disebut sebagai  Temper Tantrum.

Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun. Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    
   1.Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
   2.Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
   3.Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
   4.Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
   5.Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
   6.Sulit dialihkan perhatiannya.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia:
     
1.   Di bawah usia 3 tahun:
    * Menangis
    * Menggigit
    * Memukul
    * Menendang
    * Menjerit
    * Memekik-mekik    
    * Melengkungkan punggung
    * Melempar badan ke lantai
    * Memukul-mukulkan tangan
    * Menahan nafas
    * Membentur-benturkan kepala
    * Melempar-lempar barang
 
2.   Usia 3 - 4 tahun:
    * Perilaku-perilaku tersebut diatas
    * Menghentak-hentakan kaki
    * Berteriak-teriak
    * Meninju
    * Membanting pintu
    * Mengkritik
    * Merengek
 
3.   Usia 5 tahun ke atas
    * Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
    * Memaki
    *  Menyumpah
    *  Memukul kakak/adik atau temannya
    *  Mengkritik diri sendiri
    *  Memecahkan barang dengan sengaja
    *  Mengancam

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum.

Diantaranya adalah sebagai berikut:
     
1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.
Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.
 
2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.
Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.
 
3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.
Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum.
Contoh lain:
anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia  memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.
 
4. Pola asuh orangtua
Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum.

Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan  orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum.

Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.
 
5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.  
6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).
    

Cara Mengatasi
Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir.
 
Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit.

Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan  disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut).

Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.
 
Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:
  •  Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.
  • Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
  • Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.
Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambahburuk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; "kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "mama/papa sayang kamu", "mama ada di sini sampai kamu selesai".  Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.