Rabu, 27 Juni 2012

Tentang Raport "Hizballah"


Ummi-nya Hizba Junda Hibban


Dibanding semester kemarin, catatan untuk Hizba di semester ini jauh lebih banyak. Antara lain absen yang mencapai angka 40 hari, buku kegiatannya banyak yang kosong, bintang dua lebih banyak dibanding bintang empat, nilai C dimana-mana, hingga tidak bergairah saat mengerjakan tugas di kelas.

Lalu saya bertanya pada guru kelasnya tentang kapan Hizba tampak bersemangat saat di sekolah? Gurunya pun menjawab saat istirahat tiba. Saya bertanya kembali, kenapa bisa demikian? Apa yang Hizba lakukan saat istirahat? Gurunya menjawab, saat istirahat Hizba bisa bermain sesuka dia termasuk menyusun balok atau bercanda bersama teman-teman. Saya pun hanya tersenyum. Lega saya mendengarnya.

Anyways, dua hari sebelum terima raport tiba. Saat sepulang sekolah, baru juga sampai depan pagar. Sepatu juga masih nempel di kaki. Seperti tidak sabar, Hizba masuk rumah sembari berlari dan berteriak "Alhamdulillah mi.. kata Bu Jaroh, mas mau kelas B! Yey..yey mas sudah tambah besar ya mi! Tar mas jagain ummi terus sama adek-adek juga". Lalu saya dipeluknya. Sumpah, merinding saya dibuatnya!

Bukan karena naik kelasnya. Bukan juga nilai raportnya. Tapi karena kepribadiannya. Hizba yang belum genap 5 tahun, dengan segala kesederhanaannya mampu menciptakan sesuatu yang - menurut saya - selalu ajaib! Cara ia bersyukur, begitu spontan, membuat saya takjub. Dan pelukan itu, berhasil membuat air mata saya akhirnya menetes juga.

Bagi saya, Hizba sudah cukup berprestasi. Apa yang Hizba lakukan di usianya sudah lebih dari cukup. Kemampuannya untuk membaca, berhitung, dan menulis saya anggap sebagai bonus. Lebih dari sekedar itu semua. Hizba begitu peduli dengan orang-orang yang menyayanginya dan yang ia sayangi. Karakternya yang suka mengalah tidak jarang menjadikan ia sebagai penikmat yang kedua. Namun selalu menjadi inspirasi bagi siapapun yang mengenalnya. "Adek mau beresin maenan ndak? Kalo ndak, mas yang beresin lho". Hehe. Polos, tapi penuh makna. Pada akhirnya membuat adeknya termotivasi untuk membereskan mainan.

Ia juga begitu dekat dengan alam hingga membuatnya dan orang disekitarnya ingat akan Penciptanya. Pertanyaan yang selalu muncul saat Hizba bangun tidur di pagi hari, tapi saya tidak pernah bosan mendengarnya. Mataharinya sudah keluar apa belum mi? Planet venus sama Mars kelihatan ndak mi? Bulannya masih ada tah mi? Awannya kenapa mendung mi? Sungguh, itu bukan pertanyaan sembarangan! Paling tidak menurut saya. Dan, saya bangga.

Hizba yang tidak pernah puas dengan jawaban singkat. Ia selalu mencari tahu dan mencari tahu. Hizba yang selalu bersemangat saat menemukan passionnya. Masih ingat kemarin Hizba tidak mau berhenti belajar mengaji Iqro'. Alhamdulillah sudah hampir Iqro' 3. Hafalan surat dan doa-doanya juga nambah. Katanya, "mas suka ngaji mi. mas suka yang gandeng-gandeng. tambah lama tambah banyak ya mi gandengnya. seru!". Lucunya, ia hanya mau belajar mengaji sama saya atau abinya. Tidak mau dileskan.

Hizba, di mata saya begitu sederhana tapi istimewa. Begitu juga anak-anak saya yang lain. Dan anak-anak kita semua. Biarkan mereka tumbuh seiring dengan kemampuannya. Senatural alam ini tumbuh. Karena hanya dengan begitu, mereka bisa menjadi sempurna. Tugas kita, orangtuanya, hanya mendampingi dan membantu menemukan jati dirinya. Biarkan mereka yang menentukan sendiri kapan dan dimana ia nyaman dan mencintai dunianya.


Pinang, saat ketiganya terlelap..
ummi