Selasa, 23 Desember 2008

Berapa Lama Kita Di Alam Kubur?

dari milis sebelah

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemud ian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915 : 20- 01-1965 "

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah...." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana .. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya ... Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?

Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan? Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani. Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu.. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya... "Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Wassalam…., mudah-mudahan bermanfaat...

Rabu, 17 Desember 2008

Seminar Microsoft tentang Piagam HKI

Rabu, 10 Desember 2008
Sheraton Hotel, Ballroom 1 & 2
Jl. Embong Malang 25-31 Surabaya 60261
Pukul : 08.30 – 14.00 WIB


Details Agenda:

08.30 – 09.00 : Registration and Welcome Refreshment
09.00 – 10.00 : Welcome Speech, Ibu Anti Suryaman – Licence Compliance
Manager PT. Microsoft Indonesia
10.00 – 11.00 : Piagam HKI Program, SAM Consultant – PT. Microsoft
Indonesia
11.00 – 11.15 : Customer Testimony (Guest: IT Supervisor PT. Mega Depo
Indonesia dan Chief BSA Indonesia)
11.15 – 11.45 : Licencing Cl
inic, Ibu Yuliarini – Licencing Specialist
PT. Microsoft Indonesia
11.45 – 12.15 : Q & A (Question and Answer)
12.15 – 13.00 : Technical Demo (MSIA & Piagam HKI)
Ricky Tjahyadi – PT. Microsoft Indonesia
13.00 – 13.15 : Q & A (Question and Answer)
13.15 – 13.30 : Door Prize
13.30 – 14.00 : Closing + Lunch


WELCOME SPEECH (Ibu Anti Suryaman)

Microsoft merupakan sebuah perusahaan piranti lunak yang telah digunakan secara World Wide, sehingga pengaruhnya besar sekali dalam hal Teknologi Informasi. Sayangnya, di Indonesia banyak terjadi pelanggaran hak cipta dengan bebasnya penjualan CD-CD program aplikasi yang counterfeit (bajakan).

Beberapa tahun terakhir mulai diterapkan law enforcement. Pihak Microsoft bekerja sama dengan penegak hukum di negeri ini mulai melakukan penertiban dengan mengadakan inspeksi ke perusahaan-perusahaan, maupun individu pengguna computer untuk melakukan checking and sweeping jika memang terbukti menggunakan software bajakan.

Dalam suatu instansi ataupun perusahaan yang paling bertanggung jawab dalam hal pemakaian software adalah departemen IT (dalam rumah sakit adalah SIRS). Jika memang sewaktu dilakukan inspeksi terbukti melakukan pelanggaran maka ancaman hukuman yang dikenakan adalah denda minimal 500 juta rupiah dan/atau kurungan minimal 5 tahun.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi counter terhadap common issues yang beredar di masyarakat. Diantaranya:
1. Setiap ada inspeksi di perusahaan atau instansi selalu ada komponen
- Pihak Microsoft atau BSA (Business Software Alliance)
- Ada pihak berwajib (biasanya Polwil setempat)
- Ada Surat Perintah mengadakan inspeksi yang sudah ada nama perusahaan/inspeksi yang dituju serta nama masing-masing personal yang melakukan inspeksi (jika nama perusahaan atau nama personal inspector diisi sendiri di tempat bisa dipastikan bahwa itu oknum)
2. Microsoft tidak pernah melakukan inspeksi atau sweeping terhadap laptop yang dibawa di bandara. Dinyatakan dengan tegas bahwa itu adalah oknum dan bisa diadukan langsung ke Microsoft atau pihak berwajib.
3. Jika dalam inspeksi, pihak yang berwajib membawa sample bukti, kita bisa memberikan computer sesuai dengan pilihan kita dengan tujuan protecting data.


BUKTI-BUKTI LEGALITAS SOFTWARE MICROSOFT (PROOF OF LICENSE)

1. Piagam HKI Program, (SAM “Software Asset Management” Consultant)

Piagam HKI merupakan program sertifikasi khusus software
Yaitu sebuah program inisiatif BSA (Business Software Alliance) untuk mendukung perusahaan/instansi membuktikan kepatuhan legalitas melalui audit terencana (setiap tahun)

Tujuan:
- Kesadaran (Awareness), untuk membantu perusahaan memahami dengan benar software apa yang mereka gunakan dan memahami kegunaan proses SAM (Software Asset Management)
- Kepatuhan (Compliance), adalah proses audit yang dilakukan oleh badan auditor independent yang ditunjuk BSA untuk membantu perusahaan/instansi dalam memastikan kepatuhan berlisensi di perusahaan mereka
- Pengenalan (Recognition), untuk mengenali perusahaan yang telah mematuhi peraturan berlisensi melalui kesuksesan mereka berpartisipasi dalam program piagam HKI
- Ketenangan (Peace of Mind), adalah ketenangan dalam bisnis dan operasional dari jerat hukum ataupun virus software

Komponen Piagam HKI:
- Partisipasi
- Audit (oleh Audit Independent)
- Kepatuhan (Compliance) – penindaklanjutan hasil audit
- Pengenalan – menjadi mudah dikenali

Ada beberapa kategori dalam perolehan Piagam HKI, berikut beserta kriterianya:

A B C D E F
PC 0-20 Pcs 21-50 Pcs 51-100 Pcs 101-250 Pcs 251-499 Pcs 500-600 Pcs
Nominal US $ 50 US $ 100 US $ 150 US $ 250 US $ 350 US $ 500
Misal Kurs 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000 12.000
Rupiah 600.000 1.200.000 1.800.000 3.000.000 4.200.000 6.000.000

Untuk saat ini ada fasilitas 50% funding dari Microsoft

2. SAM (Software Asset Management)

Selain dengan Piagam HKI yang proof of License-nya berupa “sertifikat” bisa juga hanya dengan SAM. Dimana dengan fasilitas ini kita bisa mendapatkan bukti legalitas secara online (dari website Microsoft) yang bisa diprint.


CUSTOMER TESTIMONY (Guest: IT Supervisor PT. Mega Depo Indonesia dan Chief BSA Indonesia)

Ada beberapa tips yang diberikan oleh IT Supervisor PT. Mega Depo Indonesia dalam pengelolaan PC karyawan, di antaranya:
1. Networking yang bagus, dan 1 gate system (install maupun uninstall menjadi wewenang 1 departemen yaitu IT/SIRS)
2. Disable USB, Internet Connection, and CD Room Access untuk PC karyawan.
3. Legalisasi seluruh software, tentunya dengan ijin direktur
4. Mempertahankan kondisi yang sudah ada
5. Audit rutin tahunan untuk masing-masing PC (jika sudah memiliki Piagam HKI, akan dilakukan oleh auditor independent yang sudah ditentukan Microsoft dan BSA)


LICENCING CLINIC (Ibu Yuliarini – Licencing Specialist PT. Microsoft Indonesia)

Macam-macam lisensi untuk produk-produk yang dikeluarkan oleh Microsoft:

1. Full Package Product (FPP)
- Physical, 1 lisensi diwakili oleh 1 box (berisi CD, book kit, dan COA Label)
- Tidak direkomendasikan untuk corporate, hanya untuk personal (rumah) dengan PC yang kurang dari 5 pcs
- Certificate of Authenticity (COA) yang ada di box dan invoice pembelian bisa dijadikan bukti lisensi
- The End User Licensed Agreement (EULA), yang merupakan agreement antara end user dengan Microsoft

2. Original Equipment Manufacture (OEM)
- Khusus untuk PC baru (pre-installed on a new PC) – diinstal oleh reseller sewaktu kita membeli PC baru (1 paket software dan hardware)
- Paling mudah, dan paling efektif dalam hal biaya
- Non transferable, tidak bisa ditransfer ke PC lain walaupun PC aslinya sudah tidak digunakan
- Certificate of Authenticity (COA) ditempel di PC dan invoice pembelian digunakan untuk verifikasi lisensi windows

3. Right Legalization License
Terbagi menjadi beberapa kategori sesuai dengan jumlah PC di perusahaan/intansi. Diantaranya yang sesuai dengan karakteristik Rumah Sakit Mata Undaan adalah sebagai berikut:
1. Untuk Operating System Windows, Lisensi memakai GGK atau GGWA small clients and medium
- GGK (Get Genuine Kit), perlu COA di masing-masing PC. Tidak bisa downgrade, maksudnya pembelian GGK untuk Vista hanya berlaku untuk Vista tidak boleh untuk XP
- GGWA (Get Genuine Windows Agreement), bisa paket untuk beberapa PC, Proof of Lincense-nya tidak perlu COA tetapi Accessible di website (per 1 November 2008 lisensi XP sudah tidak dikeluarkan lagi, dan hanya lisensi untuk Vista yang berlaku downgrade – bisa untuk XP atau lebih lama)
2. Untuk Aplikasi Office, Server dll bisa memakai OLP (Open Licensed Programme)

4. Open Licensed Programme (OLP) and Open Value Programme
Open Licenced Programme (OLP), basis nilai fisik
- Memakai perjanjian 2 tahun
- Up front payment at time of order required (beli sekarang bayar sekarang)
- Dalam 2 tahun perjanjian bisa melakukan pembelian ulang dengan harga yang sama
- Proof of License online @ http://eOpen.microsoft.com
- Software Assurance is optional
Open Value Programme, basis nilai uang
- Untuk pembayaran bertahap
Missal, lisensi untuk 50 pc dengan biaya 50 juta, dalam perjanjian kita mengajukan 3 kali pembayaran dalam jangka waktu 3 tahun maka pada saat pembayaran pertama kita sudah mendapat hak pakai sepenuhnya untuk keseluruhan PC tersebut. Catatan: tingkat bunga 0% (Microsoft tidak memungut bunga)
- OVP ada 2, yaitu:
a. Subscription – kontrak berlangganan, jika habis waktunya bisa diperpanjang atau dialihkan perpetual, jika tidak maka harus diuninstall.
Fasilitasi ini cocok untuk perusahaan yang keadaanya thru up – thru down sehingga hanya yang dibutuhkan saja yang dibayar
b. Perpetual – kepemilikan tetap

5. Select Agreement

6. Enterprise Agreement
Keduanya untuk perusahaan dengan jumlah PC diatas 250 pcs

Senin, 15 Desember 2008

Awas Rumah Sakit Gadungan

Agar orang tua lebih cerdas dalam memilih yang terbaik sewaktu anak sakit

Hari Senin, tepatnya Tanggal 1 Desember 2008, semua berjalan seperti biasa. Weekend ke Gresik kemaren menyisakan pegal-pegal di punggung. Seperti biasa, pagi itu saya ngajak si junior “Hizballah” untuk keliling komplek naik motor. Setelah itu langsung berangkat kerja.


Jam 2 siang saya pulang kantor dengan oleh-oleh “cerita lucu” untuk istri saya dan sedikit makanan dari kantor untuk anak saya. “Assalamu’alaikum…” spontan terdengar jawaban dengan suara yang cukup akrab, “Wa’alaikum salam… Hizba…!!! Ini abi udah datang, Nak!!!”. Dengan cepat anak saya memaksa lari mendekati saya, langsung saja saya sambut dengan pelukan, ciuman, dan langsung saya gendong. “Badannya kok agak panas??” saya tanya lirih, “iya seharian ini badanya agak anget, sampek 38,5 derajat, udah tak kasih Tempra juga, tapi belum reda” jawab istri saya. Spontan aja perut saya lapar, “wah… pasti sangat melelahkan nanti malam, ada mencretnya nggak? Muntahnya?”, “enggak” jawab istri saya.

Kebiasaan kami memang, tidak langsung membawa ke rumah sakit atau ke dokter jika anak sakit. Kami membiasakan untuk lebih kritis dengan melakukan observasi sendiri selama beberapa saat, begitu juga waktu itu. Saya langsung tarik motor saya ke apotik terdekat beli obat penurun panas untuk persediaan nanti malam.

Benar saja… malem jam 11 panas Hizba semakin tinggi, minta gendong terus sambil ngigau macem-macem. Saya dan istri cukup panic juga. Setiap 4 jam sekali saya kasih obat penurun panas tapi tak kunjung reda, malahan jam 1 dini hari panasnya sampai 40 derajat itupun thermometer belum bunyi Hizba keburu nangis, jadi kemungkinan sampai 40 lebih, waduh… kami tambah panik.

Jam 3 pagi langsung saya putuskan untuk bawa Hizba ke rumah sakit, karena jam segitu belum ada praktek dokter spesialis yang buka. Saya dan istri mandi bergantian sambil menunggu shubuh. Sekitar jam 4 ba’da sholat shubuh, cepat-cepat saya pamitan ke mertua untuk bawa Hizba ke rumah sakit. Kondisi jalan masih sepi jadi mobil saya pacu secepat mungkin. “Kerumah sakit mana?” tanya istri saya, “ke *** aja” saya coba kasih pertimbangan, “apa gak mending ke RS Siti Hajar aja?” tanya dia lagi, “*** aja soalnya saya tahu banyak tentang ***” saya sedikit memaksa.

Setelah sampai, pintu UGD segera saya dorong dan menuju tempat pelayanan, kami mulai daftar ini dan itu kemudian Hizballah langsung diperiksa dokter jaga. Sebagai orang tua wajar saja kalo saya banyak bertanya, cuman ada satu pertanyaan saya yang sangat “bodoh”, “apa tidak diperlukan opname, dok?”, cepat-cepat dokter itu menjawab “oh, kalo mau opname juga boleh” dan dengan cepat tangannya mengisi form rujukan ke rawat inap. “tapi kalo gak diperlukan ya gak usah dok” saya coba sedikit meng-counter. “kan bisa untuk observasi Pak, soalnya panasnya tinggi” jawabnya, “iya juga sih, takutnya kalo sampai kejang” saya mengalah. Yang saya garis bawahi di sini adalah “observasi” dan perlu diingat Hizballah tidak muntah ataupun mencret sama sekali.

Saya diarahkan ke admin untuk pendaftaran rawat inap, dikasih form opsi kelas rawat inap dsb. Setelah saya isi semua istri saya dengan sedikit kaget “lho, kok pake rawat inap?”, saya gak berani jawab karena saya juga merasa ada salah waktu konsultasi ke dokter jaga. Setelah berada diruang rawat inap, Hizballah dipasang infuse, bukannya lancar-lancar saja, tapi Hizballah menangis sangat keras dan baru kali ini dia menangis dan meronta sampai seperti itu, saya jadi ikutan pengen nangis, tapi… untungnya masih bisa saya tahan, seorang Bapak “gitu loh”.

Dengan sangat ketakutan, Hizballah memandangi tangannya yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, “tanganku diapain?” mungkin begitu maksud tangisnya. Segera saja istri saya menggendong dan mencoba menghiburnya sedang saya mengurus administrasi untuk persiapan masuk kamar rawat inap. Akhirnya saya dapat kamar kelas 2 nomer 2, kelas 2 ditempati oleh 3 pasien dengan ukuran kamar 3x4 m. Kebetulan waktu itu tidak ada pasien lain di kamar itu.

Kurang lebih satu jam setelah diinfus, panas Hizballah mulai turun, dan kayaknya dia mulai ngantuk. Segera saya pulang untuk ambil perlengkapan Hizballah dan umminya, setelah itu saya langsung ke kantor untuk minta ijin pulang cepat. Sekitar jam 10 pagi WIB saya sudah kembali ke rumah sakit itu, saya liat Hizballah masih tidur nyenyak, tapi kali ini kami tidak sendiri lagi karena sudah ada pasien lain yang berada disebelah Hizballah.

Kondisi Hizballah sudah membaik, panasnya udah normal sekitar 37 derajat. Saya bersama istri sudah mulai diskusi tentang bagaimana hasil pemeriksaan dokter tadi pagi. Istri menunjukkan obat yang sudah ditebus, kebetulan berada dikresek putih jadi saya bisa melihat dengan jelas isinya. Dan… “infuse 4 ampul?, untuk apa ini?, infuse segini cukup untuk 2-3 hari, emangnya Hizba sakit apa kok sampai disuruh nginap 3 hari?”, saya bicara sendiri dengan sedikit kaget. “iya itu Bi… tadi tiba-tiba disuruh nebus resep ini, sedangkan dokternya gak bilang apa-apa, dan hasil labnya belum keluar” jawab istri saya. Dengan banyak tanda tanya di kepala saya menuju ruang perawat, “ibu… saya pengen tahu hasil tes darah anak saya”, “oo belum jadi Pak, ntar kalo udah jadi besok pagi biar dilihat dokternya dulu” jawabnya. “terus itu kenapa ya kok saya dikasih resep infuse 4 ampul?”, “kata dokternya gitu Pak” jawabnya lagi. Ya sudahlah saya pikir memang perawat nggak in charge dalam hal ini, saya kembali ke kamar nungguin Hizballah tidur sambil bersih-bersih.

Siang, kondisi Hizballah sangat bagus, bahkan sudah lincah sekali, tapi tetap saja masih tidak boleh banyak tingkah. Sore hari Hizba dapat temen lagi di kamar yang sama, lengkaplah 3 bed anak-anak yang tersedia semua terisi. Sampai sore, malam, bahkan sampai paginya lagi kondisinya sangat bagus. Saya berfikir untuk segera pulang karena dalam hal kesehatan dan perumahsakitan ada istilah “Nosokomial” atau gampangnya Pengendalian Infeksi, maksudnya orang yang tidak sakit berada di rumah sakit terus menerus bisa ikutan sakit, jadi pasien yang sudah memungkinkan untuk dibawa pulang lebih baik rawat jalan. Dengan pertimbangan itu saya berfikir nanti siang pasti sudah bisa pulang, itu kalo dokternya memang mengerti tentang hal itu, dan seharusnya memang mengerti tentang hal itu lha wong dia dokter.

Seperti biasa, pagi saya berangkat dari rumah sakit ke kantor. Sepulang dari kantor saya langsung ke rumah sakit. Dan, istri saya dengan sedikit kesal bilang “belum boleh pulang Bi…, katanya besok baru boleh pulang”, “waduh, lama disini sakitnya bisa tambah banyak”, saya cemas dan kecewa. Bagaimana tidak, yang satu kamar dengan anak saya ada yang typhus, ada yang mencret – muntah dengan tidak ada sekat sama sekali. Dan kalo saya boleh bilang rumah sakit ini sangat kumuh, mulai dari airnya, kelayakan kamarnya dan bahkan saluran air selokannya yang terbuka dan airnya tidak jalan.

Mencoba untuk tetap bersabar dan positive thinking, saya dan istri nunggu sampek besok. Pagi datang perasaan senang, sehabis sholat shubuh segera saya menuju ke kamar anak saya untuk ganti jaga sementara istri saya mandi dan sholat. Setelah sholat istri saya bersih-bersih dan cuci mencuci, dan Hizballah saya gendong ke depan kamar. Tak lama kemudian perawat datang membawa satu piece spuit (suntikan) komplit dengan needle (jarum) yang sudah terpasang serta isi penuh, dan dengan sigap menusukkan di saluran infuse Hizballah.

Karena Hizballah memang sudah benar-benar sehat saya berangkat kerja dengan sangat senang, dan serasa tidak sabar menunggu nanti siang. Dokter kemaren bilang bahwa sekarang bisa pulang. Tidak lama saya dikantor, saya ditelpon istri dengan sedikit menahan tangis, dia bilang Hizballah mendadak panas, muntah sekalian mencret-mencret. Drastis sekali, saya bertanya dalam hati, siapa yang memberi pertolongan saat ini sedangkan dokter tidak akan datang jika tidak ada jadwal datang yaitu besok pagi. Saya coba tidak panic dan mengikuti perkembangan lewat telpon.

Jam komputer menunjukkan pukul 2 siang, cepat-cepat saya kemasi barang-barang. Gas mobil saya tancap kenceng-kenceng (untungnya jam 2 siang belom macet). Begitu saya sampai kamar Hizballah, istri saya langsung nangis, mungkin karena badan capek dan juga bingung kenapa Hizballah mendadak kayak gini. Segera saya kemasi barang, sementara ada seorang perawat datang untuk control rutin pasien. “Jadi pulang sekarang Pak?” tanya salah seorang perawat, “iya Mbak!” saya jawab singkat, “kan, masih panas Pak, kenapa tidak besok saja?” tanya si perawat lagi (saya tidak ingat benar ucapannya, tapi kira-kira maksudnya demikian), “tidak apa-apa, saya mau rawat jalan aja ntar” saya jawab lagi.

Setelah selesai berkemas, segera saya ke ruang perawat (waktu itu sekitar pukul 15.00), saya menagih janji dokter untuk pulang sekarang. “sebentar ya Pak, saya telpon dokternya dulu karena kondisi anaknya panas lagi” kata perawat yang paling senior. “iya saya tunggu” saya jawab singkat. Agak lama menunggu akhirnya jam 16.10 saya diberi kabar bahwa Hizballah belum boleh pulang, dan disuruh menginap semalam lagi. Kontan aja darah saya naik, muka saya merah, “mmm… mending saya rawat jalan aja Bu, jadi saya tetap minta pulang sekarang” saya mencoba tetap sopan, “tapi dokternya tidak mengijinkan Pak, kalo Bapak tetap mau pulang, Bapak harus tanda tangani surat pulang paksa” dia menjawab, “iya, saya tanda tangani sekarang” mulai hilang kesabaran saya, “tadi pagi anak saya diinjeksi apa Bu?” saya sedikit tanya menyelidik, “ooo… itu antibiotic aja kok” jawabnya.

Dari jawaban itu saya coba menarik kesimpulan. Berarti 2 hari terakhir Hizballah memang sudah tidak sakit, karena yang diinjeksikan cuma antibiotic. Adapun injeksi antibiotic itu dimaksudkan untuk mencegah penyakit masuk (dalam hal ini bisa dikatakan mencegah tertular dari sekelilingnya). Saya tegaskan lagi, dalam hal “nosokomial” jika pasien tersebut memungkinkan untuk rawat jalan atau dirawat di rumah, maka lebih baik dirawat jalan atau dirawat di rumah untuk menghindari tertular penyakit dari sekitarnya, ataupun penyakit yang ada di rumah sakit itu sendiri (lingkungan yang kurang kondusif untuk kesehatan fisik dan psikologis anak). Pertanyaannya, “kenapa Hizballah tidak boleh pulang?” dan memang terbukti rumah sakit salah perhitungan karena di hari ketiga Hizballah malah sakit yang lebih parah dari waktu masuk.


“begini aja Bu, saya rawat jalan aja ke tempat praktek dokter ******* (yang menangani Hizballah)”, “ooo… dokter ******* tidak praktek disitu lagi” jawabnya, “tidak apa-apa, tempat prakteknya masih buka kok, biarpun disitu ada temannya, anaknya, atau menantunya juga tidak apa-apa, yang penting saya periksa ke sana”, “saya tanya ke dokternya dulu ya Pak” sambil berjalan ke ruangannya. Tidak lama, perawat itu muncul lagi dan bilang “Pak… iya Hizballah sudah boleh pulang, ternyata dokter ******* ada praktek di sana sore ini” jawabnya. Yah begitulah… barang-barang segera saya bawa ke mobil, setelah itu saya ke ruang perawat untuk pembayaran. “ooo pembayarannya di admin Pak, adminnya pulang jam 4 tadi, Bapak apa belum bayar?, kalo bayar nunggu adminnya dulu Pak besok pagi” kata seorang perawat, “ya belum lah Bu… lha wong Anda sendiri yang bilang kalo nunggu Anda konfirmasi dengan dokter. Saya kan bilang mau pulang dari jam 3 tadi, kenapa Anda memberitahukan kalo boleh pulang baru jam 4 lebih? Sedangkan admin Anda sudah pulang semua?? Apa ini salah saya?? Tentang admin sudah tutup itu urusan Anda yang jelas saya mau bayar dan pulang sekarang.” Saya jawab dengan sedikit kesal. “ooo bentar ya Pak, saya coba telpon UGD barangkali dititipkan di sana” sambil telpon. Tidak lama kemudian “Pak, ternyata sudah dititipkan di UGD”, “Nah… kan???” saya nyeletuk. Setelah saya bayar-bayar, maka Hizballah kali ini benar-benar pulang. Di jalan terlihat senang sekali, teriak-teriak, tertawa.

Sesampainya dirumah saya lihat kulit Hizballah banyak bintik-bintik merah dan ada cairannya. Wah, Hizballah kena gatal-gatal juga, padahal seumur-umur belum pernah Hizballah kena gatal-gatal seperti itu. Waktu saya bongkar kuitansi-kuitansi dari rumah sakit, saya lihat surat pemberitahuannya ternyata Hizballah tidak “pulang paksa” seperti yang diancamkan tetapi “pulang dengan kondisi membaik”, nah… ini ada sesuatu yang ga beres lagi, apa ini karena saya bilang bahwa saya mau rawat jalan di praktek dokter yang menangani Hizballah? Atau “tanda tangan pulang paksa” hanya suatu bentuk ancaman agar kita tidak pulang dulu? Who knows?

Karena Hizballah sakitnya tambah parah sekarang, pukul 04.00 pagi keesokan harinya saya bawa ke rumah sakit lain, kali ini ke RS Siti Hajar Sidoarjo. Di sana langsung saya bawa ke UGD, dengan pelayanan yang jauh lebih baik, Hizballah langsung didiagnosa sakit perut, “apa ini karena bakteri dok? Ini juga ada gatal-gatalnya” saya bertanya dengan sedikit menyelidik, “iya, ini dari makanannya, sedangkan gatal-gatalnya bisa karena air” jawab dokter itu. Spontan aja saya berfikir makanan dan air di rumah sakit sebelumnya, karena Hizballah sama sekali tidak makan apa-apa sesampainya dirumah sampai saya bawa ke RS Siti Hajar ini. “Rawat jalan aja ya Pak, nanti siang kalo tidak ada perubahan silahkan Bapak bawa ke sini lagi untuk rawat inap kalo memang diperlukan”. Kata dokter tersebut. “Kalo misalnya ntar siang saya bawa check up dulu gimana dok? Sebelum saya periksakan lagi ke sini”, “oo itu malah lebih baik, jadi kita ada pembanding untuk pemeriksaan” kata dokter itu. Akhirnya kami pulang membawa obat, dan alhamdulillah baru diminum sekali kondisi Hizballah jauh lebih baik. biarpun masih mencret sampai 2 atau 3 hari setelahnya tapi kondisinya terus membaik dan sekarang sudah normal lagi.

Jumat, 28 November 2008

Muhasabah Tentang Hal-hal Yang Tidak Terpuji

Beberapa hari yang lalu sewaktu saya baca-baca Kitabullah Al-Qur’anul Karim, kebetulan tepat pada surat Al-Isro’, saya temui beberapa ayat yang saya rasa “pas” banget.

Flashback sedikit ke hari-hari sebelumnya. Bahwa akhir-akhir ini saya merasa “kering” dalam arti kurang siraman rohani, semangat tuma’ninah dan istiqomah terasa mulai terkikis secara gak sadar. Sholat mulai berantakan, hati menjadi keras, semangat belajar hilang sama sekali, mata hati menjadi sulit memisahkan yang haq dan yang bathil. Apa yang sudah terjadi pada diri saya? Hal buruk apa yang telah saya lakukan?

Berangkat dari sini, saya merasa harus segera berbenah, dan subhanallah, Allah memberikan banyak sekali petunjuk dengan cara-caraNya yang selalu unik dan tak terduga. Salah satunya yang cukup menguatkan adalah langsung lewat Al-Qur’an. Edisi baca Al-Qur’an kali ini saya mendapat hal berharga (bukan berarti edisi yang lain tidak).

Adalah Surah Al-Isro’ (walaupun juga ada di surat-surat yang lain secara terpisah), saya menemui ringkasan jelas mengenai amalan manusia yang sangat dibenci oleh Allah ‘azza wajalla. Sayangnya, akhir-akhir ini, amalan-amalan buruk ini sering saya temui disekeliling saya, mungkin juga di sekeliling Anda, baik itu kita sendiri ataupun orang lain sebagai subjeknya, na’udzubillah.

Amalan-amalan tersebut antara lain,

1. Menyekutukan Allah, Al-Isro’ ayat 22:

“Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)

2. Berlaku kasar dan menyakiti kedua orang tua, Al-Isro’ ayat 23 dan 24:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”

dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"

3. Menghamburkan harta dengan boros, Al-Isro’ ayat 26 dan 27:

dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

4. Berucap kasar kepada orang miskin ataupun orang2 lain yang berhak menerima pemberian dari kita, Al-Isro’ ayat 28:

dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas

Maksudnya: apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang disebut di ayat sebelumnya (memberikan hak orang miskin, ibnu sabil, dll), maka Katakanlah kepada mereka Perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

5. Bakhil (kikir), Al-Isro’ ayat 29:

dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (kikir dan terlalu boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal

6. Membunuh anak sendiri karena takut kemiskinan (ini banyak dilakukan orang2 dahulu, terutama untuk anak perempuan. Akan tetapi saat ini juga banyak kita temui orang membunuh anaknya sendiri karena khawatir mengurangi “jatah makannya”, nau’dzubillah “hewani sekali”), Al-Isro’ ayat 31:

dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar

7. Berzina, walaupun hanya “mendekati”, Al-Isro’ ayat 32:

dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

8. Membunuh sesama muslim, Al-Isro’ ayat 33:

dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar (maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya). dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan (maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau Penguasa untuk menuntut qishash atau menerima diat. qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih. diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan) kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

9. Memakan harta anak yatim, Al-Isro’ ayat 34:

dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

10. Berlaku curang dalam berdagang, Al-Isro’ ayat 35:

dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

11. Mengikuti ajaran tanpa dasar pengetahuan yang jelas (termasuk hal-hal syubhat), Al-Isro’ ayat 36:

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

12. Sombong dan Congkak, Al-Isro’ ayat 37:

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Dari beberapa hal yang tersebut dalam Surah Al-Isro’, saya bermuhasabah untuk diri saya sendiri (sebatas hal-hal besar yang dengan jelas bisa direcord indera manusia). Sayangnya, walaupun itu hanya hal2 yang bisa dijudge secara manusiawi, banyak sekali “borok” saya yang mungkin juga bisa berakibat infeksi dan menggelapkan cermin hati. Dan parahnya lagi, borok ini sudah stadium akut. Astaghfirullah… semoga Allah mengampuni saya.

Bakhil… masya Allah… saya merasa tertohok dan seperti sedang dikursi pesakitan (mungkin tinggal nunggu waktu saja, disaat saya dipanggil oleh Allah pasti saya berada di kursi pesakitan untuk masalah ini).

Sombong… apalagi yang satu ini, astaghfirullah.

Berlaku curang dalam berdagang (saat ini istilah kerennya berbisnis). Nah, kena lagi deh! Sadar atau tidak sadar kadang saya “ngentengno” (menganggap enteng) hal-hal yang “orang lain sentries” dan cenderung menghitung yang menguntungkan diri sendiri. Semoga tidak terulang untuk seterusnya.

Dan masih banyak lagi yang lain.

Masya Allah, betapa banyak yang harus saya pertanggungjawabkan nantinya. Setelah muhasabah “kasaran” ini mungkin rapor saya merah semua, terbakarlah saya nantinya jika tak segera bertaubat. Tapi, apakah melakukan “taubat” itu semudah saya mengucapkannya? Semoga saja!!!!!!

Ditulis 28 November 2008

Kamis, 16 Oktober 2008

Jadi FTM, Berani ??!!

oleh: Kushidayati Septarini
seorang FTM (Full-time Mom) yang dulunya sempet jadi seorang WM (Working Mom)
*diambil dari milis HEBADD!!*



Setelah memutuskan untuk berhenti bekerja, saya sendiri juga butuh waktu setahun lamanya untuk merasa yakin inilah yang terbaik untuk saya dan keluarga. Berikut alasan-alasan yang mungkin juga bisa membuat mbak merasa bangga menjadi ibu rumah tangga :


1. Anak adalah amanah dari Tuhan.
Kewajiban kitalah sebagai orang tua yang melahirkan untuk membesarkan dan mendidik mereka, menjadikan anak-anak kita generasi yang sehat, cerdas, beriman, dan berhasil dalam hidupnya.
Kita semua tahu, periode emas tumbuh kembang anak (baik fisik maupun psikis) adalah dari usia 0-10 thn.
Relakah selama masa itu anak-anak kita lebih banyak diasuh oleh baby sitternya, kakek nenek, atau saudara?? Bisakah kita membentuk anak-anak kita sesuai keinginan kita padahal kita hanya sedikit punya andil atau waktu dalam proses di dalamnya?

2. Tugas mencari nafkah adalah tugas seorang ayah.
Memang kedengarannya klise tapi memang itulah gambaran sebuah keluarga ideal, dalam agama apapun, dan di negara manapun.
Dari seorang ayahlah, anak diajarkan bagaimana bekerja keras, disiplin, kemandirian, dan kedewasaan hidup. Dan dari seorang ibu anak diajarkan kelembutan, kasih sayang, kesabaran, dan kesantunan. Dengan gabungan "perbedaan" peran ayah dan ibu inilah anak akan memperoleh keseimbangan psikis atau mental dalam tumbuh kembangnya.
Bagi saya, mengalihkan peran ibu kepada orang lain berarti mengalihkan pula amanah dan tanggung jawab yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita, sayang bukan...??


3. Bagaimana dengan kondisi finansial??
Terus terang ketika saya berhenti bekerja penghasilan keluarga kami otomatis berkurang cukup banyak. Tapi, dengan sedikit menurunkan standar hidup, alhamdulillah kami bisa survive.
Waktu itu, kami mengurangi frekuensi jalan-jalan, memangkas anggaran belanja yang tidak perlu, mengatur pola makan dengan tetap memperhatikan kualitas, dan lainnya.
Yang perlu diketahui adalah bahwa kekurangan materi merupakan satu bentuk pendidikan anak juga. Dengan membeli baju dan sepatu yang tidak terlalu mahal, anak diajarkan hidup sederhana. Dengan mengurangi jajan di luar, anak diajarkan untuk hidup sehat (sudah tahu kan alasannya?). Dengan keterbatasan mainan, anak diajarkan kreatif memanfaatkan apa saja sebagai alat bermainnya. Dan dengan keterbatasan uang, anak diajarkan untuk menghargai uang. Bahkan dengan sekolah di tempat yang biasa (bukan tempat yang mewah dan mahal), anak diajarkan kepekaan sosial dengan sesama. Bukankah juga dengan ikut milis ini secara tidak langsung kita diajarkan untuk hidup hemat? (tidak perlu sering-sering ke dokter dan RS, tidak perlu banyak obat, tidak perlu makanan-makanan tidak sehat yang berharga mahal, dan lain-lain)
.
Materi memang perlu, tapi tidak perlu dana yang melimpah untuk menjadikan anak-anak kita anak-anak yang sukses, karena materi bukan segalanya. Mengapa kita lebih mementingkan kecukupan materi, sementara anak-anak kita kekurangan kasih sayang dan pendidikan dari ibunya sendiri?

4. Untuk aktualisasi diri, tidak perlu pekerjaan yang menyita waktu
seharian (dari jam 8 pagi - 5 sore).
Banyak peluang bisnis dan karir yang bisa dikerjakan di rumah. Bahkan aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah pun merupakan aktualisasi diri. Tak perlu minder dengan titel pendidikan yang tinggi tapi tak bekerja (formal). Kita sekolah sebagai bagian dari proses hidup, mencari kematangan berpikir, dan tentu saja, untuk mendapatkan pasangan hidup yang sekufu atau selevel pendidikannya dengan kita.


5. Coba kita renungkan, wanita bekerja hanya sebagai pelengkap.

Kebutuhan finansial keluarga, sementara pria bekerja karena merekalah tulang punggung keluarga masing-masing. Jika kesempatan kerja dan karir cemerlang banyak 'direbut' oleh kaum wanita, secara otomatis banyak pula kaum pria yang kehilangan kesempatan tersebut. Karena penghasilan mereka tidak mencukupi, mereka 'meminta' para istri mereka untuk bekerja pula. Seperti lingkaran setan bukan?
Maka, lebih baik kesempatan karir atau pekerjaan (formal atau kantoran) diberikan untuk para pria, sehingga mereka merasa tenang dalam mencari nafkah. Saya bisa memahami kenapa sebagian pria di tempat kerja sedikit 'cemburu' dengan para rekan wanitanya, karena merekalah yang harus menanggung beban keluarga lebih besar dibanding para wanita.


6. Banyak pelecehan (kata-kata, seksual, dan lain-lain) yang dialami para wanita ketika bekerja di luar rumah, baik di luar maupun di dalam kantor, sekecil apapun bentuknya.

Bukankah lebih terhormat (dan lebih terlindungi) jika para ibu tinggal di rumah serta mendidik anak-anak mereka? Sebagai renungan, Tengoklah ke dlm hati nurani kita, tegakah kita meninggalkan anak kita yang sakit di rumah karena harus mengejar deadline di kantor?
Kecewakah kita saat baru tahu anak kita sudah bisa mengucapkan kata pertamanya beberapa hari yang lalu? Merasa bersalahkah kita karena setiap pulang kantor hanya bisa melihat anak kita tertidur lelap?
Cukupkah waktu untuk memberikan kasih sayang sepenuh tenaga pada saat akhir pekan saja? Dari mana anak-anak kita bisa belajar berdoa, ditanamkan kegemaran membaca, diajarkan semangat berbagi dan peduli sesama, kalau bukan dari orang tua? Kita semua tahu, pendidikan di rumah adalah bekal penting kehidupan anak ketika mereka dewasa kelak. Dalam kenyataannya, para baby sitter, kakek nenek, om tante yang mengasuh anak kita punya kehidupan sendiri, punya masalahnya sendiri, dan tak akan bisa menyamai pendidikan sepenuh jiwa yang diberikan langsung oleh seorang ibu.

Bagi saya, kedekatan kualitas dan kuantitas dalam mendidik anak adalah ASI bagi kehidupan anak, sementara meninggalkan anak (untuk bekerja karena alasan syar'i atau darurat) adalah SUFOR. Bila tidak dalam keadaan 'gawat darurat', sebaiknya tidak usah dilakukan.


Saya disini tidak bermaksud menyinggung para ibu yang bekerja, ataupun membuat kontroversi yang tidak perlu. Saya sangat menghormati keputusan para ibu berkarir tersebut. Saya juga tidak men-judge bahwa anak-anak yang ibunya di rumah akan lebih sukses dibanding anak-anak yang ibunya bekerja, tidak sama sekali.
Masa depan itu hanya Tuhan yang tahu, kita hanya berusaha sesuai dengan yang kita anggap terbaik.

Hidup itu pilihan, dan bagi para wanita yang mengorbankan karir demi keluarga, jangan pernah menyesali pilihan tersebut.
Berbanggalah, dan tunggulah (hasilnya) nanti saat anak-anak kita jadi anak-anak yang berhasil dalam hidupnya, bukan hanya kesuksesan dalam bentuk materi, yang penting adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bagi agama, orang tua, dan negaranya.