Minggu, 24 Agustus 2008

An Unconditional Love...

taken from mailing list of psiunair01

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam.
He called his parents from San Francisco.

"Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me."

"Sure," they replied, "we'd love to meet him."

"There's something you should know", the son continued, "he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us."

"I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live."

"No, Mom and Dad, I want him to live with us."

"Son," said the father, "you don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own."

At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told.

The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg.

Anyway...
The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable.

We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are.

We all should have the strength to accept people as they are, and be more understanding of those who are different from us!!!

Rabu, 20 Agustus 2008

Cucu Presiden

oleh: Prima

Mumpung masih dalam nuansa Agustusan. Hehe.. Ada-ada saja ya ide orang-orang jaman sekarang. Ternyata bukan hanya balap karung, makan kerupuk, kepruk kendil, dan sejenisnya saja yang menjadi bahan 'langganan' warga masyarakat untuk memeriahkan HUT kemerdekaan negara tercinta ini. Yang lain daripada yang lain pun ada. Intip saja Bapak Indonesia kita, yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih akrab disapa dengan sebutan Pak SBY, tepat di tanggal 17 Agustus 2008 kemarin resmi sudah menjadi kakek dari Almyra Tunggadewi Yudhoyono (Ayra). Seorang bayi mungil nan cantik terlahir dari pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Pohan.


Ceritanya singkat saja. Sejak hari Sabtu, 16 Agustus 2008 pukul 16.00 WIB, Annisa sudah masuk Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Pada saat itu masih terjadi simpang siur mengenai kelahiran calon cucu Presiden. Ada yang mengira kelahiran cucu Pak SBY ini akan ditepatkan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ada juga yang mengira kalau Annisa hanya berjaga-jaga untuk menyambut kelahiran anak pertamanya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Ternyata eh ternyata keesokan harinya yaitu hari Minggu, 17 Agustus 2008, bayi mungil yang dinanti-nanti pun lahir. Yah.. 'agak' kebetulan memang! Hehe.. Seorang Presiden yang berjiwa Nasionalis memiliki cucu pertama yang lahir di Hari Kemerdekaan, sementara Agus Yudhoyono menyatakan bahwa prediksi kelahiran menurut
ultrasonografi adalah sekitar tanggal 4 September 2008.

Menurut kabar dari kabar berita.com, proses kelahiran yang ditempuh Annisa adalah melalui operasi caesar. Proses kelahiran tersebut diketuai oleh dr. Azen Talim dari RSPI. Menurut Gatot, operasi harus bergeser dari jadwal yang seharusnya karena pematangan plasenta ternyata lebih cepat. Kalau hal ini tidak dilakukan akan mempengaruhi kelincahan bayi.

Bahkan ada salah satu sharing dari seorang ibu --mengaku sebagai 'korban' infotainment-- yang tergabung dalam milis sehat mengatakan bahwa pada dasarnya suami Anisa bilang maunya juga normal tapi karena ada indikasi yang mengharuskan caesar ya mau gimana lagi. Katanya lagi disuruh milih antara tanggal 15-17 Agustus, jadilah dipilih tanggal bersejarah itu. Kemudian ada ibu lain yang menanggapi komentar ibu tadi dengan menceritakan pengalaman pribadinya seperti ini.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear all,

Kebetulan saya ditangani oleh SpOG yg sama dgn ketua tim dokter Annisa Y tsb. Pada kasus saya yg mengalami pre-eklampsia yg lumayan heboh, SpOG tsb masih mengusahakan normal, tetapi melihat bahwa tekanan darah naik dgn sukses, langsung diputuskan operasi & waktunya juga langsung ditentukan keesokan harinya.. padahal saya cuma lagi periksa rutin & baru masuk minggu-38..
padahal anak
pertama lahir normal & asiknya minta ampun karena jam 6 pagi melahirkan,jam 4 sore sudah mandi & jalan2..ngeri banget pas diputuskan harus caesar..(Curhat colongan ni)
Boro2 mau milih hari, wong harusnya operasi jam 4 sore malah dipercepat jadi jam 12 karena tekanan darah meningkat pesat sekali..
Yah mungkin lain kasus lain lagi penanganannya..siapa tau kalo kasusnya tdk emergency banget bisa milih hari untuk operasi..
Asik juga ya kalau bisa milih hari..kan lumayan tuh bisa milih hari bersejarah, jadi ultah anak ga akan kelupaan..ga seperti saya yg suka lupa tgl lahir anak..hehehe..


AW

Mama yg suka pikun tanggal lahir anak

------Original Message------
From: segaintil
Sender: Mailing List Sehat Group

To: Mailing List Sehat Group

ReplyTo: Mailing List Sehat Group

Sent: Aug 20, 2008 5:28 PM

Subject: [sehat] Re: Bayi 17 Agustus ....


Dear semuanya,

Saya juga ternyata melahirkan harus sesar, sekalipun dijadwalkan normal. Tapi engga bisa tuh milih tanggal apalagi bedanya sampai dua hari. Ini kasus saya lho.
Saya melahirkan lebih maju 2 minggu dari jadwal normal, tetapi anakku itu selain gede banget juga terlalu banyak gerak di dalam perut, jadilah ketubannya pecah dini, lalu diinduksi semalam ya gak mau keluar juga karena kepalanya gede banget booo...
Akhirnya diputuskan besok siang dioperasi saja. Keputusan itu diambil jam 12 malam, karena sudah sehari semalam sang bayi gak mau juga keluar.
Tetangga saya sebelah rumah, kita melahirkan bersama-sama ditanggal yang sama di rumah sakit yang sama, bayinya kecil hanya 2,5 kilo, tetapi juga disesar karena pinggulnya kecil.
Bayinya gak mau keluar juga. Saat harus lahir normal gak bisa, jadilah disesar, tapi gak
boleh nunggu-nunggu tuh. Apalagi milih tanggal hehehe...

JM
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

sementara itu, masih dalam milis yang sama, seorang dokter berpendapat seperti ini:

Re: [sehat] Bayi 17 Agustus ...hmhm:-)

hehehe...
jd pengin ikutan.

analoginya gampang

coba buah kalau belum masak terus dipetik......apa rasanya.....asem....kecut..sepet.....lan sapanunggale.
tongkol...buahnya tanaman anthuriumpun demikian...biarkan mecotot dengan sendirinya......tinggal nanti disemai.....Insya Alloh akan lebih eksis di dunia fana ini.

terlepas dari pro kontra anisa.....soalnya ada juga yg punya alasan...supaya awet muda..singset gitu........ndak tahu yg punya pemikiran seperti ini dapat wangsit dari mana.....

secara ilmiah..sudah dijelaskan panjang lebar.....masalah caesar ini.....lebih banyak mudhorotnya.....monggo silakan bisa di googling.... pun secara kodrat manungso...alias manusia.......wong sudah diatur........kecuali...ini kecuali......karena alasan medis yg tdk dapat di hindari.

salam prihatin,
bapakeghozan--heran kadang saya sama menungso
duh maaf..maaf...maaf......ikutan ngerrorrrrr.


yang kemudian ditanggapi oleh seorang anggota milis lainnya, seperti ini:

Re: Bayi 17 Agustus ...hmhm:-)

Ikut komentar boleh tidak?
Rasanya membuat program melahirkan di caesar di dunia ini cuma terjadi di Jakarta. Bagaimana pun melahirkan normal akan jauh lebih baik daripada caesar. Umumnya kelahiran bayi diupayakan normal, jika tidak dimungkinkan karena beberapa hal, barulah di caesar.
Jakarta yang macetlah, awal-awalnya dokter dan pasien memilih kesepakatan di caesar saja. Tetapi lama-lama menjadi mode untuk memilih tanggal yang dimaui.
Setahu saya, awal-awalnya dahulu program ini sudah dikritik juga di kelompok kedokteran, tapi kok malah engga bisa dibendung lagi, bahkan keluarga presiden juga ikut-ikutan.
Memberi contoh?


Salam,
Julia Maria


Bukannya mau bagaimana yang bagaimana yaa.. Kalau memang dibilang ini sudah takdir, ya boleh lah. Lha wong ultrasonografi bukan Gusti Allah tho?! Walaupun sebenarnya anak SD sambil merem saja juga tahu, kalau apapun yang sudah terjadi itu dinamakan 'takdir'. Tapi kalau ada yang bilang beliau hanya ingin mencari sensasi, ya silahkan saja. Ini negara demokrasi kan?! Hehe..

Sekali lagi, teruntuk keluarga besar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, saya pribadi bersama keluarga mengucapkan "Selamat atas kelahiran Ayra, moga menjadi pemimpin yang sholihah...amin"

Piss ahh!!

Jumat, 15 Agustus 2008

Berjodoh Via Internet

based on the true stories

Hanya berbagi…
Sebut saja Diana, 23 tahun. Alumnus PTN ternama di Surabaya yang lulus dengan predikat cumlaude. Kebetulan Diana tercatat sebagai mahasiswi jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi tahun 2002, mundur setahun karena gagal lulus di UMPTN 2001.

Diana termasuk cerdas dalam hal akademis. Hobi membaca serta fasih berbahasa Inggris dan Mandarin. Selepas kuliah, Diana langsung ‘dilamar’ perusahaan asing milik India yang berlokasi di Sidoarjo, kota kelahirannya. Gayung bersambut, karena memang Diana tipe-tipe wanita karir.

Sepintas, Diana terlihat biasa saja. Menjadi sedikit istimewa karena Diana kini tidak sendiri lagi. Yah, Diana sudah menikah! Dengan seorang Akuntan Bank ternama – berkewarganegaraan Arab Saudi – di negara yang sama, yang dia kenal melalui obrolan via Yahoo! Messenger.

Sebut saja Elsayd. Dua puluh tahun lebih tua dari Diana. Diana dan Elsayd baru hitungan bulan berkenalan melalui chatting. Tanpa berlama-lama, Elsayd langsung melamar Diana dan menikahinya, dengan pesta yang sangat sederhana. Hanya upacara akad-nikah. Berlangsung kurang lebih sekitar dua jam termasuk makan-makan yang dihadiri rekan dan kerabat dekat yang dikenalnya saja.

Sebulan setelah menikah, Diana langsung diboyong suami ke Saudi dan tinggal di apartemen. Dan yang paling membanggakan, Diana sekarang memakai burkah, lebih dari sekedar memakai cadar. Padahal dulu Diana asal-asalan memakai jilbab. Bahkan lebih sering melepas jilbab pada saat keluar rumah, dengan alasan ribet atau lupa. Surprise-nya adalah Diana sekarang menjadi seorang full-time mom dan lebih memilih untuk mengabdi pada suami. Yah, adakah pekerjaan yang lebih baik dari itu, saudara??

Insya Allah empat bulan lagi, lengkap sudah kebahagiaan pasangan ‘berjodoh via internet’ ini karena kehadiran malaikat kecil dari rahim Diana…

Hanya berbagi…
Rahmi, beberapa orang memanggilnya. Usianya
menginjak 25 tahun sekarang. Tercatat sebagai mahasiswi Psikologi PTN ternama di Surabaya tahun 2001 dan lulus di tahun 2006.

Siapapun yang mengenal Rahmi pasti akan mengatakan tiga hal. Cantik, smart, dan perfeksionis! Sangat berambisi menjadi wanita karir. Dan hal itu pun berhasil dia raih. Rahmi menjadi seorang advisor pendidikan di salah satu SD di Jombang, kota kelahirannya. Terkadang Rahmi juga dimintai tolong untuk menjadi pembicara dalam suatu seminar-seminar terkait pendidikan.

Dua bulan yang lalu Rahmi menikah. Dengan seorang Teknisi IT yang dia kenal lewat ajang mencari teman di situs friendster. Daniel namanya. Beda setahun saja dengan Rahmi. Mahasiswa lulusan Institut ternama di Surabaya.

Sekarang ini Rahmi mengikuti suami tinggal di Kalimantan untuk kepentingan pekerjaan Daniel. Sekarang pun Rahmi lebih memilih untuk mengabdi pada suami dan menjadi seorang full-time mom di rumah sambil berbisnis.

Satu lagi, pasangan tercipta karena ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Haidar dan Matahari harus bersabar menunda hari jadinya un
tuk sementara waktu. Ada satu pekerjaan penting yang harus Haidar lakukan. Tepat di September tahun ini, Haidar harus melanjutkan studi Psikologinya ke Rusia selama tiga tahun. Sedangkan Matahari pun masih kurang sekitar tiga tahun lagi untuk meraih gelar sarjana Psikologinya di PTN ternama di Yogyakarta.

Setali tiga uang dengan pengalaman Diana-Elsayd, Yahoo! Messenger lah yang telah ‘berjasa’ memperkenalkan dan mempertemukan mereka berdua. Mereka sama sekali tidak menganggap ‘penting’ jarak usia diantara mereka yang berbeda sekitar sepuluh tahun lebih tua Haidar.

Yah, mungkin saja mereka memang ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Sampai sekarang Anita masih panik bercampur bahagia untuk me
mpersiapkan hari yang selalu menjadi mimpi indah bagi para anak perempuan sewaktu kecil. Yah, insya Allah akhir tahun ini Anita akan mengakhiri masa gadisnya! Bersama seorang teknisi IT – tak beda jauh dengan suami Rahmi – berkewarganegaraan Afrika. Mauritius, tepatnya. Kota kelahiran Govinda, calon pendamping seumur hidup Anita.

Pria keturunan India-Iran ini dikenal Anita sejak mereka berdua sama-sama tergabung sebagai member dalam situs ajang mencari teman di facebook. Sebelas-dua belas dengan situs friendster.

Hanya satu syaratnya, Anita – yang masih tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi di PTN ternama Surabaya tahun 2001 – harus menyelesaikan skripsinya terlebih dahulu untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Semoga mereka benar-benar menjadi pasangan never endless love yang secara kebetulan ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Bersyukur sekali saya termasuk orang yang hobi berselancar di dunia maya. Karena sama sekali saya tidak mengira kalau ternyata jodoh saya adalah pria yang saya kenal melalui situs friendster.

Mulanya biasa saja. Hingga hanya dalam hitungan bulan saja saya dilamarnya. Kaget, tidak percaya, antara takut dan senang, benar-benar seperti mimpi. Di usia saya yang baru 23 tahun waktu itu, tentu bukan menikah yang menjadi target utama saya. Karir! Yah, saya harus berkarir dan menjadi orang berhasil dahulu. Baru tiba saatnya nanti saya akan memikirkan masalah pernikahan. Pun dengan orangtua saya, setali tiga uang dengan saya. Mereka menganggap saya masih kecil dan awam untuk urusan membuat sebuah komitmen dengan seseorang. Dasar pemahaman kami mengenai ‘kesuksesan’ yang memang masih konvensional waktu itu.

Baru sekali bertemu, waktu itu kami memadu janji untuk bertemu di sebuah warung sederhana depan kampus idola kami. Tentu saja kami tidak hanya berdua, akan tetapi berempat. Yah, kami datang dengan ditemani oleh masing-masing muhrim kami.

Bulan depannya sang belahan jiwa sudah membicarakan masalah waktu yang tepat untuk pertemuan orangtua dan keluarga kami masing-masing. Beberapa minggu sebelum pertemuan itu, sedikit demi sedikit saya semakin yakin dengan keseriusan sang belahan jiwa untuk menjadikan saya sebagai istrinya. Istikharah memantapkan hati saya. Jalan saya semakin diarahkan ke arah sang belahan jiwa. Pun dengan orangtua saya. Mereka percaya kalau pilihan anaknya tidak salah. Dan yang pasti adalah keputusan yang terbaik! Allah mendengar doa kami dan mungkin karena memang kami berjodoh…

Tepat di Sabtu, 29 Juli 2006, sumpah itu terucap dari sang belahan jiwa. Untuk seumur hidup menjadi imam bagi saya dan anak-anak kami kelak. Dengan tanpa keraguan sedikitpun, sang belahan jiwa mengucapkan sumpahnya di depan orangtua kami masing-masing, di depan para saksi, dan beberapa undangan baik dari para kerabat juga sahabat yang hadir kala itu. Dan yang terpenting adalah disaksikan oleh Allah…

Alhamdulillah… saya dan sang belahan jiwa termasuk pasangan yang ‘berjodoh via internet’…


Mari berbagi…
Andalah yang akan mengisi kisah anda di ruang “Mari Berbagi” ini. Suatu anugerah yang tidak biasa, karena telah menjadi pasangan yang “berjodoh via internet”. Terlalu ind
ah kalau hanya untuk disimpan sendiri. Mari berbagi...

Kamis, 26 Juni 2008

Bangkit Bersama

Oleh : Arief Bama

“… Bangkit itu Marah, Marah jika martabat Bangsa dilecehkan …”

”… Bangkit itu Malu, Malu menjadi benalu, Malu minta melulu …”

“… Bangkit itu Tidak Ada, Tidak Ada kata menyerah …”

“… Bangkit itu Mencuri, Mencuri perhatian dunia dengan prestasi …”


Demikian potongan kata-kata yang belakangan ini sering saya dengar di televisi, dan kalau tidak salah dibawakan oleh actor watak Dedy Mizwar. Relevansi kata-kata ini adalah memperingati 100 tahun kebangkitan nasional 1908 yaitu pada saat berdirinya Budi Utomo.


Momen kebangkitan 1908 tersebut telah menjadi api pemicu keberhasilan Indonesia dalam mengentaskan bangsa dari penjajahan colonial. Dan waktu itu Indonesia memiliki banyak tokoh kharismatik yang dikagumi dan disegani oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia, katakanlah H.O.S Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, serta Bung Karno sendiri yang juga merupakan produk Kebangkitan Nasional.


Saat ini, 100 tahun berselang, kita lihat bukan kemajuan bangsa yang terjadi tapi lebih cocoknya adalah suatu kemunduran, kemunduran “progress perkembangan dan pembangunan” baik itu perkembangan secara fisik maupun secara mental. Lihat betapa terpuruknya kita di mata dunia, saat ini bangsa kita seperti pengemis lemah yang compang camping, berjalan tak tentu arah dan tak bertujuan. Lebih parahnya lagi bangsa kita telah mengalami kemunduran secara moral, semangat serta idealisme. Kita kehilangan potensi mendasar yaitu kepercayaan diri untuk menjadi Negara Besar, menjadi bangsa yang maju.


“Apakah kita bisa bangkit di tahun ini berkaitan dengan kebangkitan yang terjadi 100 tahun lalu?” Seorang dosen FISIP Unair menjawab, “Belum tentu dan belum jelas” kenapa demikian? “karena terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, dimana pada tahun 1908 jauh hari sebelumnya terdapat suatu proses penting yang dinamakan proses penyadaran, baik itu penyadaran berbangsa yang baik, persatuan, dan sejenisnya. Sedangkan saat ini kita lebih konsentrasi untuk proses pemupukan egosentris”. Memang benar jika dikatakan demikian, sudah bukan rahasia lagi dimana-mana kita temui semangat egosentris yang lebih dominan dari pada kebersamaan.


Membahas tentang egosentris akan mengarahkan kita pada masyarakat yang materialis, hedon dan cenderung memenuhi kebutuhan fisik dirinya dan memperbesar nafsunya, dari pada spiritualisme dan nasionalisme. Sebuah keniscayaan jika Bangsa ini “tiarap”, karena tidak adanya semangat persatuan.


Kekayaan dan kekuasaan seolah menjadi harga mati untuk masyarakat kita sekarang. Karena tak ada yang lebih dihargai dari itu semua. Artis dan entertainer jauh lebih menarik di mata masyarakat dari pada para ulama dan cendekiawan. Audisi dangdut, konser musik jauh lebih ramai ditonton dari pada sebuah majelis ilmu. Masyarakat lebih suka “bersantai” dan “terlena” dari pada “belajar” dan “berjuang”.


Budaya berfikir keras di masyarakat kita sudah mulai luntur dan lebih suka berfikir yang enteng-enteng serta hal-hal yang instan. Kita sudah mulai berani meramal dan menerka dalam ketidaktahuan dari pada belajar sebelum bicara. Kita sudah merasa lebih nyaman tidur dengan spring bed dan ruang ber-AC dari pada tidur dikelilingi buku-buku yang belum sempat ditutup.


Belum lagi ketidakseimbangan social masyarakat yang semakin besar. Sebuah rumah besar tidak lagi malu berdiri tegap di sebelah rumah kecil yang mulai rapuh. Keseharian kita semakin mengacuhkan kita dari saudara-saudara kita yang bergelut dalam kemiskinan, kita bahkan terus meninggikan posisi untuk semakin menjauhi mereka. Kebanggaan untuk menjadi yang “ter-“ seolah menertawakan mereka yang jauh tertinggal. Kita lebih nyaman berdiri di tempat paling atas, dari pada berdiri di atas bersama-sama.


Inilah fenomena masyarakat kita sekarang. Apakah sebuah kebangkitan bisa diraih dengan keadaan yang seperti ini?? Apakah sebuah keberhasilan bisa diraih dengan mentalitas yang manja?? Apakah sebuah kekuatan bisa diciptakan dengan tempaan yang instan?? Apakah sebuah kemakmuran Bangsa bisa diciptakan oleh kita seorang diri?? Tentu tidak… perjuangan yang gigih adalah satu-satunya cara yang harus ditempuh, dan kebersamaan adalah pondasi yang kuat untuk membangun kembali sebuah kekuatan. Eratkan tali persaudaraan dan kepedulian kita terhadap sesama, kepalkan tangan kuat-kuat, dan susun kembali puing-puing semangat kita untuk berjuang. Karena kita harus BANGKIT.

Rabu, 25 Juni 2008

Untuk Mereka Yang Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu. --end--

Tulisan ini begitu mengena, dan menginspirasikan saya sebagai seorang anak dan sekaligus sebagai seorang bapak. Oleh karena banyak sekali kesibukan sering kita lupa atau bahkan melupakan tanggung jawab kita kepada orang tua, seolah dunia tak pernah bergerak dan seolah manusia hidup selamanya. Sering kali kita berfikir terlambat, "menyadari setelah mendapatkan peringatan atau bahkan setelah semua menjadi tidak mungkin".

Saat ini orang tua saya tinggal satu, bapak saya, sedangkan Ibu telah meninggal di pertengahan tahun 2007. Setahun berselang setelah meninggalnya ibu, hampir setiap hari selama setahun ini selalu terlintas penyesalan, perasaan "nelangsa", dan ketakutan akan kekurangpedulian saya. "Memang penyesalan datangnya belakangan" dan selalu menyesakkan.

Bertahun-tahun saya sekolah hingga harus berpisah dengan orang tua, sampai saatnya bekerjapun saya masih terpisah kota dengan orang tua saya. Selama itupun saya merasa belum banyak berbuat untuk mereka, bahkan tiap kali saya pulang saya lebih banyak bersikap manja layaknya seorang anak yang ingin menunjukkan dan memamerkan banyak hal baru yang saya dapat di dunia baru saya, atau lepas dari itu hanya ingin "sambatan/mengeluh" tentang keuangan-lah kerjaan-lah rumah tangga-lah dan banyak hal lain hingga "mungkin" menambah beban pikiran mereka.

Waktu itu saya belum sadar dan "berfikir dalam" sampai akhirnya saya mendapati kabar bahwa ibu menderita kangker stadium 3B, dan "ironisnya" ibu sudah mengeluh ke saya tentang tangan kanannya yang sakit sejak setahun sebelumnya, tapi "mungkin untuk meringankan beban saya" saya bilang "paling juga rematik". Kabar itu sudah meledakkan emosi saya.

"Nak... tolong pijitin punggung ibu, rasanya panas dari semaleman baringan di sini", dan sayapun mijit punggung ibu, baru beberapa detik kemudian ibu saya tinggalkan untuk menanyakan cara baca alat perekam jantung yang dipasang di sudut kanan ranjang ibu ke seorang perawat. Setelah kembali ke ranjang ibu, beliau telah tertidur, akhirnya saya keluar ruangan. Dan itulah percakapan terakhir saya dengan ibu, dan "itu" juga permintaan terakhir ibu pada saya, dan saya tak mengerjakannya dengan "baik".

Betapa kejadian itu selalu terbayang di kepala saya, dan sanggup membuat saya menangis di tengah tawa saya. Apakah saat itu bisa diulang, apakah semuanya bisa diulang untuk diperbaiki lagi?? jawabnya jelas "TIDAK" karena dunia terus berjalan ke depan.

"Kalo bukan mulai sekarang, kapan lagi??" kita tempuh cara terbaik untuk malayani "mereka", karena sudah saatnya mereka dilayani dan sudah saatnya kita melayani. Jangan menjadi benalu selama kita hidup, "kalo bukan mulai sekarang, kapan lagi??" Fithroh manusia adalah memberi bukan hanya menerima.

UNTUK ORANG TUA KITA... DO YOUR BEST selagi masih ada kesempatan. KALO BUKAN MULAI SEKARANG, KAPAN LAGI??