Kamis, 26 Juni 2008

Bangkit Bersama

Oleh : Arief Bama

“… Bangkit itu Marah, Marah jika martabat Bangsa dilecehkan …”

”… Bangkit itu Malu, Malu menjadi benalu, Malu minta melulu …”

“… Bangkit itu Tidak Ada, Tidak Ada kata menyerah …”

“… Bangkit itu Mencuri, Mencuri perhatian dunia dengan prestasi …”


Demikian potongan kata-kata yang belakangan ini sering saya dengar di televisi, dan kalau tidak salah dibawakan oleh actor watak Dedy Mizwar. Relevansi kata-kata ini adalah memperingati 100 tahun kebangkitan nasional 1908 yaitu pada saat berdirinya Budi Utomo.


Momen kebangkitan 1908 tersebut telah menjadi api pemicu keberhasilan Indonesia dalam mengentaskan bangsa dari penjajahan colonial. Dan waktu itu Indonesia memiliki banyak tokoh kharismatik yang dikagumi dan disegani oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia, katakanlah H.O.S Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, serta Bung Karno sendiri yang juga merupakan produk Kebangkitan Nasional.


Saat ini, 100 tahun berselang, kita lihat bukan kemajuan bangsa yang terjadi tapi lebih cocoknya adalah suatu kemunduran, kemunduran “progress perkembangan dan pembangunan” baik itu perkembangan secara fisik maupun secara mental. Lihat betapa terpuruknya kita di mata dunia, saat ini bangsa kita seperti pengemis lemah yang compang camping, berjalan tak tentu arah dan tak bertujuan. Lebih parahnya lagi bangsa kita telah mengalami kemunduran secara moral, semangat serta idealisme. Kita kehilangan potensi mendasar yaitu kepercayaan diri untuk menjadi Negara Besar, menjadi bangsa yang maju.


“Apakah kita bisa bangkit di tahun ini berkaitan dengan kebangkitan yang terjadi 100 tahun lalu?” Seorang dosen FISIP Unair menjawab, “Belum tentu dan belum jelas” kenapa demikian? “karena terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, dimana pada tahun 1908 jauh hari sebelumnya terdapat suatu proses penting yang dinamakan proses penyadaran, baik itu penyadaran berbangsa yang baik, persatuan, dan sejenisnya. Sedangkan saat ini kita lebih konsentrasi untuk proses pemupukan egosentris”. Memang benar jika dikatakan demikian, sudah bukan rahasia lagi dimana-mana kita temui semangat egosentris yang lebih dominan dari pada kebersamaan.


Membahas tentang egosentris akan mengarahkan kita pada masyarakat yang materialis, hedon dan cenderung memenuhi kebutuhan fisik dirinya dan memperbesar nafsunya, dari pada spiritualisme dan nasionalisme. Sebuah keniscayaan jika Bangsa ini “tiarap”, karena tidak adanya semangat persatuan.


Kekayaan dan kekuasaan seolah menjadi harga mati untuk masyarakat kita sekarang. Karena tak ada yang lebih dihargai dari itu semua. Artis dan entertainer jauh lebih menarik di mata masyarakat dari pada para ulama dan cendekiawan. Audisi dangdut, konser musik jauh lebih ramai ditonton dari pada sebuah majelis ilmu. Masyarakat lebih suka “bersantai” dan “terlena” dari pada “belajar” dan “berjuang”.


Budaya berfikir keras di masyarakat kita sudah mulai luntur dan lebih suka berfikir yang enteng-enteng serta hal-hal yang instan. Kita sudah mulai berani meramal dan menerka dalam ketidaktahuan dari pada belajar sebelum bicara. Kita sudah merasa lebih nyaman tidur dengan spring bed dan ruang ber-AC dari pada tidur dikelilingi buku-buku yang belum sempat ditutup.


Belum lagi ketidakseimbangan social masyarakat yang semakin besar. Sebuah rumah besar tidak lagi malu berdiri tegap di sebelah rumah kecil yang mulai rapuh. Keseharian kita semakin mengacuhkan kita dari saudara-saudara kita yang bergelut dalam kemiskinan, kita bahkan terus meninggikan posisi untuk semakin menjauhi mereka. Kebanggaan untuk menjadi yang “ter-“ seolah menertawakan mereka yang jauh tertinggal. Kita lebih nyaman berdiri di tempat paling atas, dari pada berdiri di atas bersama-sama.


Inilah fenomena masyarakat kita sekarang. Apakah sebuah kebangkitan bisa diraih dengan keadaan yang seperti ini?? Apakah sebuah keberhasilan bisa diraih dengan mentalitas yang manja?? Apakah sebuah kekuatan bisa diciptakan dengan tempaan yang instan?? Apakah sebuah kemakmuran Bangsa bisa diciptakan oleh kita seorang diri?? Tentu tidak… perjuangan yang gigih adalah satu-satunya cara yang harus ditempuh, dan kebersamaan adalah pondasi yang kuat untuk membangun kembali sebuah kekuatan. Eratkan tali persaudaraan dan kepedulian kita terhadap sesama, kepalkan tangan kuat-kuat, dan susun kembali puing-puing semangat kita untuk berjuang. Karena kita harus BANGKIT.

Rabu, 25 Juni 2008

Untuk Mereka Yang Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu. --end--

Tulisan ini begitu mengena, dan menginspirasikan saya sebagai seorang anak dan sekaligus sebagai seorang bapak. Oleh karena banyak sekali kesibukan sering kita lupa atau bahkan melupakan tanggung jawab kita kepada orang tua, seolah dunia tak pernah bergerak dan seolah manusia hidup selamanya. Sering kali kita berfikir terlambat, "menyadari setelah mendapatkan peringatan atau bahkan setelah semua menjadi tidak mungkin".

Saat ini orang tua saya tinggal satu, bapak saya, sedangkan Ibu telah meninggal di pertengahan tahun 2007. Setahun berselang setelah meninggalnya ibu, hampir setiap hari selama setahun ini selalu terlintas penyesalan, perasaan "nelangsa", dan ketakutan akan kekurangpedulian saya. "Memang penyesalan datangnya belakangan" dan selalu menyesakkan.

Bertahun-tahun saya sekolah hingga harus berpisah dengan orang tua, sampai saatnya bekerjapun saya masih terpisah kota dengan orang tua saya. Selama itupun saya merasa belum banyak berbuat untuk mereka, bahkan tiap kali saya pulang saya lebih banyak bersikap manja layaknya seorang anak yang ingin menunjukkan dan memamerkan banyak hal baru yang saya dapat di dunia baru saya, atau lepas dari itu hanya ingin "sambatan/mengeluh" tentang keuangan-lah kerjaan-lah rumah tangga-lah dan banyak hal lain hingga "mungkin" menambah beban pikiran mereka.

Waktu itu saya belum sadar dan "berfikir dalam" sampai akhirnya saya mendapati kabar bahwa ibu menderita kangker stadium 3B, dan "ironisnya" ibu sudah mengeluh ke saya tentang tangan kanannya yang sakit sejak setahun sebelumnya, tapi "mungkin untuk meringankan beban saya" saya bilang "paling juga rematik". Kabar itu sudah meledakkan emosi saya.

"Nak... tolong pijitin punggung ibu, rasanya panas dari semaleman baringan di sini", dan sayapun mijit punggung ibu, baru beberapa detik kemudian ibu saya tinggalkan untuk menanyakan cara baca alat perekam jantung yang dipasang di sudut kanan ranjang ibu ke seorang perawat. Setelah kembali ke ranjang ibu, beliau telah tertidur, akhirnya saya keluar ruangan. Dan itulah percakapan terakhir saya dengan ibu, dan "itu" juga permintaan terakhir ibu pada saya, dan saya tak mengerjakannya dengan "baik".

Betapa kejadian itu selalu terbayang di kepala saya, dan sanggup membuat saya menangis di tengah tawa saya. Apakah saat itu bisa diulang, apakah semuanya bisa diulang untuk diperbaiki lagi?? jawabnya jelas "TIDAK" karena dunia terus berjalan ke depan.

"Kalo bukan mulai sekarang, kapan lagi??" kita tempuh cara terbaik untuk malayani "mereka", karena sudah saatnya mereka dilayani dan sudah saatnya kita melayani. Jangan menjadi benalu selama kita hidup, "kalo bukan mulai sekarang, kapan lagi??" Fithroh manusia adalah memberi bukan hanya menerima.

UNTUK ORANG TUA KITA... DO YOUR BEST selagi masih ada kesempatan. KALO BUKAN MULAI SEKARANG, KAPAN LAGI??

Kamis, 19 Juni 2008

Cukup Sebutir Beras

dari milis YDSF

(Bagaimana Cina Bangkit)

Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin. Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya. Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara Uni Sovyet. Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet. Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, "Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya."

Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.

Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras, ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras. Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari. Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual. Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka. Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.

Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.

Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh bagi bangsa kita yang tengah terpuruk di antara bangsa-bangsa sekitarnya. Potensi manusia Indonesia yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang tepat. Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil namun dilakukan dengan sepenuh hati. Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat. Maukah kita?

(Kisah di atas diceritakan langsung oleh seorang pengusaha Indonesia yang kerap kali berkunjung ke negara Cina).

Senin, 16 Juni 2008

Menjadi Lebih Baik dengan Berusaha

dari Mailist YDSF

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.

Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung. Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghuni negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan. Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang. Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya.
Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang. Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah.

Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang. Kejam...? Ini hanya masalah kepraktisan. Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak. Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna.

Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.

Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya: "Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?"

Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: "Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat". Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang.
Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang jantan. Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah.

Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: "Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!"

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat e dua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya:
"Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?"
"Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!" jawab si induk elang dengan penuh kasih.
"Tapi aku takut!' ujar si anak
"Kami tahu, karenanya kami ta memaksa." Jawab si induk elang lagi.
"Lalu apa yang harus kulakukan agar aku beraai?" tanya si anak
"Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!"
"Bagaimana caranya?"
"Percayalah pada kami!" Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi.
"Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?"

Dengan tenang si elang jantan berkata: "Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!"

Lalu si induk elang menambahkan: "Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!"

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.

Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun untuk melangkah. Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil.

Mulailah rentangkan dan kepakkan sayap kemampuanmu, maka dunia ada digenggamanmu!


Selasa, 03 Juni 2008

Subhanallah...Aku Melahirkan Normal!!!

By. Prima (Ummi Hizballah)


Pembukaan satu terjadi sejak pukul sembilan pagi tadi. Hari itu adalah hari Jum’at. Hari paling baik dalam sepekan. Dan besok adalah hari perkiraan kelahiran menurut diagnosis ultrasonografi. Walaupun perawat menyuruh saya pulang dahulu dengan pertimbangan proses persalinan masih lama, tetap saja perasaan saya belum bisa tenang. Bahkan pikiran saya menjadi semakin tidak menentu. This is my first. Ini adalah bakal buah hati pertama saya dengan sang belahan jiwa. Dalam hati, saya sangat berharap ada seorang ibu yang menemani. Selain suami, saya ingin ibu saya juga menyaksikan.

Tepat pukul sembilan malam, frekuensi kontraksi rahim saya meningkat. Setiap lima menit sekali mencapai paling tidak tiga kali kontraksi. Sesampainya di Rumah Bersalin, perawat memeriksa keadaan saya. Ternyata baru pembukaan dua. Perawat menyarankan agar saya berjalan-jalan sebentar untuk mempercepat proses pembukaan. Pukul sepuluh malam pembukaan saya bertambah menjadi tiga. Akhirnya perawat membantu proses pembukaan saya secara manual. Lima menit kemudian saya sudah pembukaan lima. Dan pukul sebelas malam meningkat lagi menjadi pembukaan tujuh. Seketika itu juga saya digelandang oleh perawat ke ruang bersalin. Di tempat itu, saya diberi obat perangsang untuk mempercepat proses kontraksi. Dan saat itulah saya merasakan sakit yang luar biasa hingga pembukaan sempurna.

Caesar aja, dok…”. Sepenggal kalimat itulah yang keluar dari mulut saya ketika saya sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakit saat berkontraksi. Setengah berteriak, setengah merintih. Terjadi secara spontanitas. Kalimat itu lebih bernada memohon daripada memerintah. Saya sudah sangat kelelahan dengan keadaan itu. Nafas saya tersengal-sengal. Pun saya dehidrasi. Kondisi saya saat itu begitu lemah. Antara hidup dan mati. Dalam hati saya tidak pernah berhenti menyebut nama Allah. Saya berpikir kalaupun sudah tiba saatnya, saya ingin berakhir dalam keadaan husnul khotimah. Disisi lain, saya hanya ingin proses itu cepat selesai. Saya ingin segera beristirahat setelah semua peristiwa itu. Saya benar-benar sudah tidak sabar.

Namun dokter spesialis kandungan yang menangani saya pada saat itu tidak berkenan meluluskan permohonan saya. Beliau adalah seorang dokter muslimah berjilbab. Senyumnya ramah. Pembawaannya juga sangat tenang dan menyejukkan. Jauh dari sikap panik dan terburu-buru. Sambil tersenyum, dokter hanya mengatakan “Tenang, Bu. Tetap menyebut nama Allah ya. Kepalanya sudah kelihatan”. Demi Allah, saya mengerahkan seluruh energi untuk berjuang mengeluarkan sang calon pejuang dari rahim saya. Saya ingin segera melihatnya. Dan Alhamdulillah – tepat pukul tiga lebih empat puluh lima menit pagi tanpa kehadiran ibu saya – pejuang kami lahir ke dunia dengan normal, sehat dan selamat. Lantas kami menamainya Hasannashr Hizballah Amma, Tentang Seorang Penolong yang Baik dari Golongan Allah.

Masya Allah, seketika itu saya merasa tertohok. Jadi begini rasanya melahirkan. Lalu apa yang sudah saya lakukan terhadap ibu saya? Berapa banyak kata dan sikap yang sudah saya berikan untuk menyakiti hati ibu saya? Budi baik apa yang sudah saya persembahkan pada sang ibu? Doa apa selain Allahummaghfirli Dzunubi Waliwalidayya Warhamhuma Kama Rabbayani Shoghiro yang sudah saya panjatkan untuk keselamatan ibu? Apakah saya sudah berbirrul walidain terutama pada sang ibu?

Ternyata benar kata sebagian orang, bahwasannya kita baru terbangun dari ketidaksadaran untuk berbuat baik kepada kedua orangtua terutama sang ibu setelah kita menikah dan memiliki anak. Setelah kita dihadapkan sendiri pada kenyataan menjadi dan berperan sebagai orangtua. Setelah kita mendapati sendiri bahwa ternyata anak kita sulit diatur. Na’udzubillah.

Maka berbahagialah mereka yang masih memiliki ibu dan selalu berbuat yang terbaik bagi beliau. Berbahagialah mereka yang masih memiliki ibu dan pernah berbuat kesalahan namun sesegera mungkin untuk bertobat kepada Allah dan bersujud di kaki sang ibu. Berbahagialah mereka yang sekarang ini sedang menjadi seorang ibu. Dan bahkan berbahagialah mereka yang sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang ibu namun senantiasa menjaga nama baik dan mendoakan keselamatan akhirat untuk beliau.