Sabtu, 31 Mei 2008

Hizballah’s See The Gold...(Part I)

by Prima Avianti S. Psi (Ummi Hizba)

Golden One
Berat Badan : 4,4 kg
Aqiqah & Digundul : 5 Agustus 2007
Puput Pusar : 7 Agustus 2007
Pukul : 16.30 WIB
Imunisasi : BCG
Tanggal : 13 Agustus 2007
Ahli Medis : Bidan Sri Andam
Nutrisi : ASI dan Sufor

Motorik Kasar
Nendang-nendang, sehingga popok selalu lepas

Motorik Halus
Selalu tenang saat minum ASI


Golden Two
Berat Badan
: 5,7 kg
Imunisasi
: DPT I
Hepatitis B Combo I

Polio II

Tanggal
: 2 Oktober 2007
Ahli Medis
: Bidan Enny Muthrofifin
Nutrisi : Relaktasi menjadi ASI Eksklusif

Motorik Kasar
Tangan mencengkeram saat diberi stimulasi
Memiringkan badan ke kanan atau ke kiri
Saat ditengkurepkan umminya, Hizballah berusaha mengangkat-angkat sendiri kepala ma tangannya

Motorik Halus
Gerak mata sudah dapat mengikuti objek yang dilihatnya
Bisa tersenyum dan sedikit mengoceh, seperti ‘ah..ah’
Dapat membalas senyum umminya saat maen bersama


Golden Three
Berat Badan : 6,7 kg
Imunisasi : DPT II
Hepatitis B Combo II
Polio III
Tanggal : 6 November 2007
Ahli Medis : Bidan Enny Muthrofifin
Nutrisi : ASI Eksklusif

Motorik Kasar
Bisa memegang kedua kakinya dan berusaha dia masukkan ke dalam mulutnya
Bisa tengkurep dan kembali ke posisi terlentang sendiri

Motorik Halus
Stranger Anxiety: tidak mau dengan ‘orang asing’ selain objek lekat/attachment (abi, ummi, kung, uti, om) nya
Selalu tenang saat mendengar Adzan dan bacaan Al-Qur’an

Kalo ketawa sudah keluar suaranya, seperti ‘klikiklikiklik…’
Senyum dan excited banget saat nge-games ‘pok ame-ame’ dan ‘cilukba’


Golden Four
Berat Badan : 7,2 kg
Imunisasi
: DPT III
Hepatitis B Combo III
Polio IV
Tanggal
: 6 Desember 2007
Ahli Medis : Bidan Enny Muthrofifin
Nutrisi : ASI Eksklusif

Motorik Kasar
Bisa merayap…MUNDUR!! Haha..
Kadang juga merayap maju dengan cara memantulkan kaki dan mengangkat pantatnya juga menarik-narik kain sprei yang ada di depannya
Bisa memegang dan mengangkat benda-benda agak berat, seperti henfon, miniatur ‘naruto’ setinggi 50 cm, dan satu set diapers

Motorik Halus
Selalu menoleh atau bereaksi ‘uh..uh’ saat dipanggil namanya


Golden Five
Berat Badan : 7,725 kg
Nutrisi : ASI Eksklusif

Motorik Kasar
Bisa duduk sendiri dengan tegak
Mengoceh sambil memainkan lidah dan menyemburkan ludah
Hobi maen bola (all size ‘n…all-wayzz!!)
Bisa menggunakan lutut sebagai tumpuan seperti posisi menungging dan bisa merangkak sedikit-sedikit

Motorik Halus
Tidak mau ditinggal sendiri


Golden Six
Berat Badan : 8,4 kg
Imunisasi : IPD I
Tanggal : 6 Februari 2008
DSA : Tim DSA prof.dr. H. Bambang Permono, Sp.A (K)
(dr. Eko, Sp.A)
Vitamin : A
Tanggal : 22 Februari 2008
Ahli Medis : Bidan Enny Muthrofifin
Nutrisi : ASI dan MPASI

Motorik Kasar
Toilet Training

Cup Training

Teething Biscuits
Merangkaknya udah lancar

Motorik Halus
Langsung bereaksi (senyum, ngoceh, menghampiri) saat denger kring telfon rumah, biasa ‘ngobrol’ ma abinya lewat telfon siang-siang waktu abi masih di kantor


Golden Seven
Berat Badan : 8,8 kg
Nutrisi
: ASI dan MPASI

Motorik Kasar
Belajar menapakkan kakinya dengan media Baby Walker
Merangkaknya udah jauh
Ber’daa-daaaah’ ria

Motorik Halus
Identifikasi ketinggian dengan menjatuhkan benda


Golden Eight
Berat Badan : 9 kg
Nutrisi : ASI dan MPASI
Sakit (pertama kali setelah 7mos)
Diare selama 15 hari
Batpil parah hingga muntah, ga mo makan dan sulit tidur selama 10 hari
Demam selama 3 hari
Alergi daging ayam
Diduga phimosis (tapi ternyata DSAnya salah diagnosis…whuuuuww)
Ahli Medis : Bidan Farkha
Bidan Enny Muthrofifin
DSA : dr. Eko, Sp.A
dr. Narto, Sp.A

Motorik Kasar
Bisa berdiri sambil pegangan tembok/meja ato apapun yang ada di depannya
Bisa naik/manjat sofa tamu tanpa bantuan siapapun

Tepuk tangan
Melempar benda dengan sempurna

Motorik Halus
Kalo kebelet pipis suka diem aja, ngoceh ‘pis..pis’, dan pandangan mata yang memelas
Pipis ma pubnya uda di toilet terus, kecuali dini hari waktu Hizballah bobo pipisnya masi suka di perlak kasur (umminya kecolongan terrruusss…hiks)

Suka becanda dengan men’cilukba’-in abi umminya

Reflek duduk bersila dan tepuk tangan saat dinyanyiin ‘pok ame-ame’, meskipun lagi sibuk maenan dan merangkak kesana kemari
Reflek melihat ke atas/langit-langit sambil melambaikan tangan saat dinyanyiin ‘cicak-cicak di dinding’


Golden Nine
Berat Badan : 9,2 kg
Nutrisi : ASI dan MPASI
Imunisasi : Campak
Ahli Medis : Bidan Enny Muthrofifin

Motorik Kasar
Sambil di’tetah’ dapat nendang bola dengan sempurna

Motorik Halus
Ngoceh ‘pus…pus’ kalo ada kucing
Ngoceh ‘dah…dah’ tanda sudah selesai

Ngoceh ‘bis…bis’ tanda sudah habis
Ngoceh ‘mbah…mbah’ kalo manggil kung-utinya
Ngoceh ‘bwaa…bwaa’ kalo manggil omnya

Ngoceh ‘iss..bah…iss…bah’ kalo dituntun bilang ‘ini hizba’

Ngoceh ‘hap…buh…hap..buh’ kalo dituntun bilang ‘ini abi’

Ngoceh ‘miiiii’…miiiii’ kalo dituntun bilang ‘ini ummi’


Golden Ten
Berat Badan : 9,7 kg
Nutrisi : ASI dan MPASI
Tumbuh gigi pertama : 13 Juni 2008

Motorik Kasar
Bisa berdiri sendiri selama beberapa detik tanpa bantuan siapa/apapun
dan melangkahkan satu kaki (kiri)nya...his first step :)
Jongkok dengan seimbang
Tetah dengan satu tangan
Berjalan sejauh 1 meter...waww, that's progress!!...plok...plok...plok...alhamdulillah :-*

Motorik Halus

Membereskan mainan dengan memasukkannya sendiri satu persatu ke dalam keranjang, sebagai reward ummi selalu kasi applaus dan bilang ‘pinteeeerr’ untuk tiap satu mainan yang masuk
Menutup botol susu sendiri dengan sempurna
Menggunakan gayung dengan benar
Menggunakan telfon nyarisss dengan benar,,, angkat gagangnya --- taroh ditelinga untuk sound dan dimulut untuk speaker --- pencet tombol (yang ini sembarang tombol...heheh) --- bilang 'hauuu...huuu...huuu' --- selese, naroh gagang telfon ditempatnya lagi dengan benar


Golden Eleven
Berat Badan : 9,5 kg
Nutrisi : ASI dan MPASI
Sakit : Demam 4 hari dan diare kurleb 10 hari...hikss...akirnya ke dsa 'n cek darah
Batpil kurleb 10 hari...nerapin RUM/RUD...alhamdulillah sembuh tanpa harus ke dsa...

Tumbuh gigi kedua : 10 Juli 2008
Tumbuh gigi ketiga : 24 Juli 2008


Motorik Kasar
Masi hobi jalan
Duduk timpuh
Naek turun sofa ma meja tamu sendiri

Motorik Halus
Bilang "Awoooooh..." (maksudnya Allah) saat denger Adzan
Membuka kunci lemari di meja belajar om...waw, that's a miracle!!
Ikutan sujud (walo belom sempurna) kalo liat abi ato umminya sujud saat sholat
Bisa maen ke rumah sebelah sendiri (tanpa harus dikasi tau arahnya...namun harus tetep diawasi)


Golden Twelve
Berat Badan : 9,7 kg
Vitamin : A
Nutrisi : ASI dan MPASI

Motorik Kasar
Jalan da lancar jaya.. da bisa putar balik tanpa jatoh
Masi hobi maen di halaman depan rumah dan sekitarnya
Naik turun tempat yang aga tinggi.. such as tempat tidur, tiga anak tangga.. well, orang-orang yang lom tau pasti worried 'n reflek teriak 'jangan/ga boleh/awas'.. padahal tu justru bikin Hizba jadi kaget, trauma, krisis PD, ato malah nekat.. cukup tetep diawasi dan bilang 'ati-ati ya sayang' tanpa teriak 'n without saying negative words

Motorik Halus
Konsep berbagi.. kalo pas bawa sesuatu trs ada yg bilang ''pinjaaam..'', langsung de hizba ngasiin.. tapi ga lama diambil lagi.. haha!!
Hobi banget ma yang namanya telfon!!
Reflek sujud kalo liat orang sholat
Minum pake sedotan.. baru satu sruputan.. gpp,, natural aja menn!!

…be continued…

Kamis, 22 Mei 2008

Hati Seorang Bapak

dari Milis Yayasan Dana Sosial Al-Falah (donatur_ydsf@yahoogroups.com)

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya: Ayah , mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?" Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : "Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman : " Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya :"Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya."

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya."

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani. & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkalikebijaksa naannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya. " AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah... With Love
to All Father

Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya.... ......... ......... ......... .....
Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik Buat keluarga kita........ ......... .........

Jumat, 18 April 2008

Me Versus Me (Prolog)


Oleh : Prima Avianti S. Psi

‘’Jika surga dan neraka tak pernah ada...’’
‘’Masihkah kau bersujud kepadaNya…??’’
-inspired by Chrisye’s song-

Padahal baru beberapa waktu yang lalu, lidah ini bekata, bibir ini berucap, jari ini mencatat, juga hati ini bertekad, kalo diri ini harus berubah. Berubah jadi makhluk yang lebih baik. Makhluk yang bertanggung jawab, setidaknya bagi diri sendiri. Makhluk yang tidak pernah berhenti belajar bahkan hanya sekedar dari sebuah fenomena kedipan mata atau petikan jari. Makhluk yang selalu berusaha mengambil hikmah dari sebuah peristiwa sedetik yang lalu. Juga makhluk yang tahu bagaimana cara berterima kasih kepada Dzat yang Maha Agung. Namun hanya dalam hitungan tiga kali bulan purnama, semua janji itu berubah menjadi sederetan catatan ”list to-do” yang sifatnya boleh dilakukan boleh tidak. Bahkan diri ini cenderung permisif dan memaafkan diri sendiri apabila ternyata ada beberapa bahkan hampir semua poin yang terlewat. Astaghfirullah…

Terbersit dalam pikiran, tidak salah lagi ini pasti perbuatan syaitan. Syaitan yang sudah mempengaruhi diri ini untuk tidak apa-apa tidak melakukan janji-janji yang sudah tercatat. Syaitan yang sudah membujuk hati ini untuk boleh-boleh saja menunda-nunda pekerjaan. Syaitan yang sudah menyuruh keinginan diri ini untuk mengulur-ulur waktu. Syaitan yang sudah merasuki pikiran ini untuk menganggap wajar melanggar komitmen buatan sendiri. Syaitan lah yang menjadi tersangka utama dalam skenario pelanggaran undang-undang pribadi ini.

Diri ini juga terus berpikir dan melakukan rasionalisasi dalam rangka pembelaan diri. Meyakinkan pada segenap diri bahwa bukan diri ini yang bersalah. Berupaya untuk melakukan penyangkalan terhadap segala tuduhan dosa yang dialamatkan pada diri ini. Dan memaklumi diri sendiri apabila diri ini ‘belum’ mampu melakukan salah satu, salah dua, atau bahkan salah semuanya dari seluruh daftar prioritas yang ada.

Lucu sekali…

Padahal di saat yang sama, dalam hati ini seperti sedang terjadi semacam kompromi, negosiasi, tawar menawar, adu mulut, bahkan perang saudara antara diri ini dan ‘diri ini’ juga. Di satu diri mengatakan, hari ini diri ini ada beberapa poin prioritas yang harus dilakukan. Di diri yang lain mengatakan, prioritas itu tidak terlalu ‘penting’ bagi pemula, jadi boleh tidak dilakukan hari ini dan bisa dikerjakan nanti malam atau besok pagi. Ternyata diri yang lain juga telah mengetahui celah seluas lubang semut untuk melanggar peraturan dengan cara yang ‘sehat’. Seperti itulah diri yang lain bekerja. Dan celakanya, diri ini selalu takluk dan bertekuk lutut padanya.

Pernah suatu waktu diri ini mencoba mengalahkan diri yang lain itu. Diri ini ada deadline untuk menghafal QS. An-Naba’: 1-5 beserta tafsir untuk hari ini. Masya Allah, sungguh luar biasa beratnya! Walaupun tidak sampai mengeluarkan peluh dan darah, namun cukup membuang energi hati dan pikiran. Sempat terjadi debat kusir dalam hati, juga berpikir keras kalau tidak sekarang lalu kapan lagi. Diri ini pun terus memeras otak, mungkin saja kesempatan itu tidak lama atau kalau lama sekalipun diri ini bisa apa untuk mewariskan ilmu berharga kepada buah hati atau generasi selanjutnya. Sedemikian diri ini berjuang dan ternyata ‘berhasil’ memenangkan pertempuran sesaat ini. Diri ini berusaha menyetorkan hasil belajarnya kepada belahan jiwanya. Karena bagi diri ini, belahan jiwa bukan sekedar “half is mine” melainkan sesosok rekan kerja yang berfungsi sebagai korektor. Tidak terasa dalam seratus enam puluh delapan jam, diri ini sudah sampai pada ayat ketiga puluh dari empat puluh ayat QS. An-Naba’ berikut terjemahannya. Ini berarti diri ini hanya butuh dua puluh empat jam lagi untuk menyempurnakan satu surat di halaman pertama pada juz tiga puluh dalam sebuah kitab suci. Subhanallah, sungguh luar biasa leganya!

Namun justru disinilah letak kelemahan diri ini. Cepat sekali puas. Mudah sekali terlena akan kebanggaan-kebanggaan baru. Dan terus terbius akan keberhasilan pencapaian pribadi. Hingga diri ini tidak menyadari bahwa pada saat itulah diri ini sebenarnya belum berhasil. Belum melakukan apa-apa. Bahkan tidak memulai apapun. Ibarat sebuah pepesan kosong. Sudah disiapkan matang-matang namun tidak berisi. Just do nothing. Ironis sekali!

Dengan segala kekuatan hati, diri ini mencoba untuk bergerak kembali. Menggeliat dan bangkit. Mengumpulkan satu demi satu patahan-patahan puzzle semangat yang tercecer, nyaris berantakan. Hingga diri ini menjadi sosok yang berbeda, sosok yang baru, nyaris sempurna. Dan mulai mereview serta mereplay memori yang telah lalu. Hafalan surat ketujuh puluh delapan Makiyyah dari Al-Qur’anul Karim. Tertatih-tatih diri ini mencoba mengingat kembali pola-pola unik yang terjadi pada bacaan dan tafsir di tiap ayatnya. Tidak terlalu buruk untuk dinilai. Hanya saja agak tersendat dan tidak selancar dahulu. Dalam hati, diri ini berbisik ‘wajar’. Bahkan ada selentingan suara sumbang dalam diri ini bernada meremehkan, menggampangkan, dan menyepelekan. Ah, seperti itu-itu saja ayatnya, bisa lah kalau dibuat teknik ‘jembatan keledai’. Parahnya, ternyata diri ini melakukannya dengan sengaja dan terkesan tidak peduli dengan kesengajaannya itu. Diri ini lalu mengabaikannya. Hingga terlanjur melalaikannya.

Sementara pada kesempatan yang lain, pada suatu Subuh yang menenangkan, diri ini pernah membuka kitab paling suci sedunia akhirat dan tepat berada di surat Ali-‘Imran ayat 145. Allah berfirman ‘’sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur’’. Masya Allah! Terlebih setelah diri ini mengetahui ayat tersebut merupakan ayat teguran bagi para sahabat Rasul yang tidak berdisiplin. Sungguh, diri ini merasa sangat tersindir. Bukan persoalan diri ini sebagai sahabat Rasul. Justru ‘hanya’ sebagai umat Rasul saja itulah, kok bisa-bisanya diri ini berjalan melenggang seenaknya di atas bumi Allah. Tiba-tiba saja diri ini merasa semua jari telunjuk para makhluk mengarah ke diri ini sebagai terdakwa.

Ini jelas bukan sekedar syaitan. Bukan sekedar syaitan yang sudah mempengaruhi diri ini untuk tidak apa-apa tidak melakukan janji-janji yang sudah tercatat. Bukan sekedar syaitan yang sudah membujuk hati ini untuk boleh-boleh saja menunda-nunda pekerjaan. Bukan sekedar syaitan yang sudah merasuki pikiran ini untuk menganggap wajar melanggar komitmen buatan sendiri. Bukan sekedar syaitan yang sudah menyuruh keinginan diri ini untuk mengulur-ulur waktu. Juga bukan sekedar syaitan yang menjadi tersangka utama dalam skenario pelanggaran undang-undang pribadi ini.

‘’Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu’’
-QS. Al-Baqarah: 208-

Adalah syaitan yang berada dalam ‘diri ini’. Syaitan yang sudah menjelma menjadi ‘diri ini’. ‘Diri ini’ yang lain tapi tetap berada dalam diri ini juga. ‘Diri ini’ melawan diri ini. ‘Diri ini’ lah musuh yang nyata bagi diri ini. ‘Diri ini’ lah yang sudah memerintahkan dan menggerakkan segenap diri ini menjadi tidak bergerak. Tidak berfungsi dan tidak produktif. Menjadi diam. Menjadi MALAS.

Malas. Itulah kata yang paling representatif untuk mendeskripsikan sifat dan karakter yang melekat pada diri ini. Sungguh telah berdosa diri ini sudah ‘menuduh’ syaitan yang bukan-bukan. Entah sudah berapa kaya diri ini mengoleksi suatu hal yang bernama dosa. Bahkan bisa dikatakan diri ini lebih rendah daripada syaitan. Astaghfirullah. Na’udzubillah!

Tidak bermaksud membela syaitan. Walaupun sempat juga terlintas dalam pikiran, kasihan juga ‘ya syaitan terus yang disalahkan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa pasti syaitan yang memulai. Atau mungkin segala perbuatan yang berbau haram pastilah syaitan juga yang mempengaruhi. Menggelikan sekali. Atau mungkin memprihatinkan sekali. Hanya sebagai peringatan untuk diri sendiri, bahwa cukuplah sudah mengkambinghitamkan sesuatu dalam rangka pembelaan diri. Ataupun mencari tameng dalam rangka perlindungan diri. Lihatlah saja ke dalam diri ini. Berinstropeksilah. Berevaluasilah. Karena pada dasarnya ‘diri ini’ lah yang menjadi biang kerok atas semuanya. Karena sekali lagi ‘diri ini’ lah yang malas. Bukan lagi syaitan juga bukan siapa-siapa.

Beruntung diri ini karena Allah Maha Pengampun. Allah Maha Pemaaf. Allah Maha Penolong. Pada janjinya yang terbentang di surat Ali-’Imran ayat 133-136, Allah berfirman ’’Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, sedang mereka kekal didalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal’’

Subhanallah. Allahu Akbar!! Diri ini sudah sangat keterlaluan. Sudah sangat kurang ajar. Astaghfirullah. Jangan sampai diri ini menjadi makhluk yang tidak tahu berterima kasih. Menjadi makhluk yang hanya mengandalkan satu ayat yang berbicara tentang ampunan setelah membaca satu ayat lainnya yang berbicara tentang laknat. Berpikir tidak mengapa diri ini berbuat dosa toh Allah ‘kan Maha Pemaaf. Masya Allah. Astaghfirullah. Astaghhfirullah. Astaghfirullah. Na’udzubillah!

‘’Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang’’
-QS. Al-Baqarah: 159-160-

Bahkan jauh sebelum diri ini lahir ke dunia karena rahmat Allah, Allah sudah menjelaskan segala sesuatu dampak baik dan buruk dari perbuatan yang akan diri ini lakukan. Sungguh Allah Maha Mengetahui! Allah Maha Besar! Allah sudah teramat adil. Diri ini tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhlukNya yang lain. Yang menjadi pembeda adalah akal dan hati. Dengan keduanya diri ini tidak hanya sekedar mampu berpikir, akan tetapi lebih dari itu. Diri ini mampu memilih jalan yang Diridhoi, bahkan mengambil keputusan yang paling kecil hingga besar, ataupun yang paling sepele hingga penting sekalipun hanya karena Allah. Kalau memang ‘diri ini’ mampu berbuat tidak benar, lalu mengapa diri ini tidak mampu berbuat yang tidak salah. Kalau memang ‘diri ini’ sanggup memilih jalan yang menyimpang, lalu mengapa diri ini tidak sanggup memilih jalan yang lurus.

‘’Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian’’
‘’Melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh’’
‘’Juga nasihat kepada kebenaran dan kesabaran’’
-QS. Al-Ashr: 1-3-

Senin, 07 April 2008

Sebuah Wacana Hidup

oleh A. Indah Arifuddin Bama

Ini bukanlah tulisan yang melalui proses editing ataupun penyuntingan. Ini adalah ungkapan spontan dari seorang Arif dengan jari diatas keyboard, mata lurus ke layar monitor, dan pikiran fokus ke alam konseptual.

Ini adalah sebuah "self talking" yang mungkin akan selamanya menjadi sebuah pegangan.

Sebagai manusia yang "hidup" dan "diberi hidup" oleh Yang Maha Hidup, sudah tentu "cukup cerdas" untuk menjalani "sebuah kehidupan".

Sebagaimana telah diterangkan dalam kisah penciptaan Nabi Adam as, bahwa malaikatpun mengakui kelebihan manusia, dan bahwa manusia memiliki kemampuan berfikir yang ter"KONSEP". Manusia bisa berkembang dengan modal daya berfikirnya tersebut. Demikian Allah menciptakan kelebihan relatif pada manusia atas makhluk lain. Dan ternyata "Konsep" itu pulalah yang seharusnya kita jadikan "dasar berfikir" untuk menjalankan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan juga sebagai hamba Allah yang taat.

Kita kupas sejenak tentang "konsep".
Konsep merupakan suatu "bentuk", "map", "peraturan", "tujuan", "visi", "misi", "keinginan", "cita-cita" dan banyak hal lain yang kita "SATUKAN" untuk menjadi sesuatu yang "BERTUJUAN, TERSTRUKTUR, RAPI, DAN BERDASARKAN PADA..."

Dengan demikian jelas manusia diciptakan untuk "Bertujuan, berstruktur, teratur, dan memiliki pedoman yang haq" (sungguh merugi manusia yang tidak menyadari akan tujuannya dan juga pedoman yang haq untuk hidupnya).

Penentuan Tujuan

Pengantar

Manusia hidup pasti memiliki tujuan, begitu juga saya. Dalam sebuah pelatihan corporate culture programme, atau yang biasa pakai program motivasi, banyak diungkapkan bahwa "setiap orang ingin sukses dan sukses adalah tujuan seseorang dalam hidup. Anda ingin kaya pikirkanlah KAYA, anda ingin sekolah pikirkanlah SEKOLAH". Oke, saya ingin sekali jadi orang sukses maka saya fokuskan pikiran untuk jadi orang sukses.

Di lain kesempatan, seorang teman berkata "setelah kita sukses dan KAYA RAYA, SEKOLAH TINGGI, DAN MENJADI ORANG BERPENGARUH DI DUNIA, lantas apa yang kita lakukan? Mobil paling mahal di dunia sudah ada 2 di garasi rumah, rumah sudah ada di setiap benua bahkan yang terakhir dibeli berada di tengah laut dengan pulau buatan yang sangat indah, tentang istri, Paris Hilton hari Senin kesini untuk melamar, aku tolak, Hari Selasa giliran Jelena Jankovic dan Maria Sharapova yang bertanding untuk berebut melamar aku, Hari Rabu idolaku waktu aku masih miskin si seksi Angelina Jolie datang menawarkan diri, Hari Kamis si Bunga Citra Lestari ngajak kencan. Semua aku TOLAK, karena SUDAH BOSAN atau mungkin TERLALU MUDAH dan TAK MENANTANG. Lantas apa yang ditunggu... karena semua sudah MUDAH dan tak menarik, tentu saja kematian, karena itu satu2nya hal yang belum bisa dikendalikan bahkan disaat kita suksespun.

Dari sini kita bisa berfikir bahwa dari semua kehidupan ini ada satu yang pasti, "Kematian", dengan adanya kematian itu target dunia kita semua ternafikan. Hidup menjadi menarik karena ada kebutuhan, dan kebutuhan terus ter-up grade sesuai dengan tingkatan kita. Tapi ada satu kebutuhan yang bener-bener mutlak, yaitu kebutuhan akan suatu konsep kehidupan untuk kematian.

Kembali ke tujuan hidup

Terlalu pendek jika kita berfikiran akan tujuan2 hidup di dunia, karena itu semua "mudah" karena di dunia berlaku hukum alam (sunnatullah), yang biasa juga disebut hukum sebab akibat. Ingin pintar belajar, ingin berhasil harus berusaha, pisau tajam, es dingin, dll tinggal sejauh mana kecerdasan dan kesabaran kita. Tapi apa yang terjadi dengan kebutuhan setelah kematian, karena hal itu juga penentuannya adalah di dunia.

Kesimpulannya... tujuan hidup manusia harus lebih panjang dari hanya kepuasan di dunia, tapi sewajarnya dan mutlaknya menyangkut kepuasan di hidup selanjutnya juga.

Hilang konsentrasi... to be continued aja deh...

Kamis, 14 Februari 2008

Pemahaman Kisah Adam dan Hawa Lewat Al-Qur'an

Oleh Jeffrey Lang
Jaffrey Lang adalah satu diantara sedikit warga kulit putih Amerika Serikat yang telah menemukan cahaya Islam dan saat ini tengah menikmati indahnya memperoleh hidayah dari Allah SWT. Sebagai seorang mualaf, Jafrrey Lang memiliki pengalaman yang sangat menarik untuk disimak. Sebelum memutuskan memeluk Islam beliau telah mempelajari Al Qur’an dengan demikian kritis dan penuh pengujian mendasar. Diantara yang coba beliau kritisi saat itu adalah masalah dosa manusia pertama yakni Nabi Adam dan Siti Hawa. Berikut ini adalah penuturan beliau tentang kisah tersebut:“Kisah dalam Al Qur’an memiliki banyak persamaan dengan kisah dalam Al Kitab. Pada ayat 30-39 surat Al Baqarah disuguhkan kisah tentang pria dan wanita pertama. Aku membaca ayat-ayat itu beberapa kali, tetapi tidak kunjung sanggup menangkap apa persisnya yang hendak dikatakan Al Qur’an. watch "Adam & Eve's "Slip" From the Garden" Bagiku, Al Qur’an sepertinya sedang menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar atau mungkin keliru. Aku membaca lagi ayat 30 secara perlahan dan seksama, baris demi baris, untuk memastikan apakah ayat ini menyampaikan sebuah paparan logis.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 30)

Ayat ini menyergapku, bukan karena dimulai dengan kisah mengenai pria dan wanita pertama, tetapi karena cara penyampaiannya. Setelah membacanya beberapa kali, aku tiba-tiba merasa sangat kesepian seakan-akan penulis Kitab Suci itu telah menarikku ke dalam suatu ruang hampa dan sunyi untuk berbicara langsung hanya denganku sendiri.Mula-mula, aku bertanya apakah penulisnya salah dengar atau salah paham soal kisah tradisional tentang Adam dan Hawa ( maksudnya berdasarkan Al Kitab,-red), sebab ayat tersebut menolak seluruh inti kisah dan tujuan penciptaan mereka. Tetapi, setelah membacanya untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya, aku mulai merasakan bahwa penulisnya sengaja mengubahnya dan memodifikasi detail-detail cerita kuno itu.Allah memfirmankan ayat ini di surga dengan maksud memberitahu para malaikat bahwa Dia akan menempatkan manusia di bumi untuk mewakili-Nya: “Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Tuhan salah, protesku. Manusia ditempatkan di bumi bukan untuk berbuat kebaikan; manusia ditempatkan di bumi sebagai hukuman lantaran dosa Adam. Tetapi, tiada kata-kata dalam ayat tersebut yang menceritakan kesalahan Adam atau Hawa, dan seperti dituturkan ayat-ayat selanjutnya, tak ada informasi perihal dosa itu.Adalah para malaikat yang mengajukan keberatan sewajarnya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Engkau?” Pertanyaan para malaikat ini tentunya sangat signifikan sebab dilontarkan di dalam surga-yang suci.
Setelah akhirnya menciptakan makhluk yang memiliki banyak kekurangan ini, Tuhan menempatkannya di sebuah lingkungan yang di dalamnya makhluk tersebut dapat mengumbar hasrat-hasratnya yang paling liar apabila dia berjauhan dari-Nya. Dengan perkataan lain, mengapa Tuhan menciptakan makhluk jahat ini dan menempatkannya di bumi padahal Dia dapat dengan mudah menciptakan malaikat dan menempatkannya di surga?Inilah pertayaanku! Keberatanku! Hidupku dihantui oleh tiga atau empat pertanyaan di atas! Aku merasa seolah-olah Al Qur’an sedang mengaduk-aduk emosiku, menggunakan kisah tersebut untuk memprovokasiku. Lalu, masalahnya menjadi semakin kacau ketika Tuhan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat itu dengan sekedar berkata, "Sesungguhnya, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Seakan-akan, Dia berkata, “Aku tahu persis apa yang sedang Aku lakukan.” Engkau tak dapat hanya berkata demikian! Aku protes dalam hati. Engkau tak bisa sekedar berkata seperti itu padaku. Engkau tak bisa menyakitiku, membangkitkan kemarahanku, dan mempermainkan hidupku. Engkau tak bisa mengatakan semua itu didepanku, dan kemudian menutupnya dengan kata-kata, “Aku tahu apa yang sedang Aku lakukan.” Lalu, aku termenung: Aku sedang mengeluh kepada Tuhan yang tak kupercayai keberadaan-Nya.
Dalam Alkitab, setelah para malaikat bertanya, Tuhan mengguncang kesadaran pembaca dengan kembali pada kisah tradisional. Di sini Dia berkata: “Ya, kalian para malaikat benar sekali mengenai sifat manusia, dan karenanya Aku akan menghukum mereka dengan membiarkan pasangan ini dan seluruh keturunannya menderita di bumi karena mereka berdua telah berbuat dosa.” Jawaban ini belum sepenuhnya menjawab pertanyaan para malaikat sebab menerangkan mengapa Tuhan menciptakan makhluk jahat semacam itu, tetapi jawaban tersebut berbalik pada ide bahwa hidup di dunia adalah hukuman atas dosa manusia, bukan kesempatan bagi kita untuk beribadah sebagai wakil-Nya.Segeralah tampak jelas di mataku bahwa Al Qur’an mempunyai agenda lain, bahwa Kitab Suci ini mengandung sebuah pesan dan pandangan yang sama sekali berbeda. Alih-alih menuturkan kembali kisah tradisionalnya, Al Qur’an justru menjawab pertanyaan para malaikat dengan memperlihatkan kemampuan akal manusia, pilihan moral dan akhirnya bimbingan ilahi:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama (benda-benda), kemudian memperlihatkannya kepada para malaikat, dan Dia berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar.” (QS. Al Baqarah: 31)

Aku teringat bahwa dalam Alkitab Adam menyebut nama makhluk-makhluk di sekelilingnya, tetapi ini tidak menjelaskan justifikasi (kemampuan untuk pertimbangankan dengan hati nurani,-red) kemanusiaannya. Lain halnya dengan Al Qur’an, yang menjawab pertanyaan para malaikat dengan menunjukkan justifikasi kemanusiaannya.Aku terpesona dengan cara Kitab Suci Al Qur’an mewadahi makna hanya dalam beberapa patah kata. Coba perhatikan bahwa Adam tidak sekedar menyebut nama benda-benda di sekitarnya, tetapi Tuhan mengajarinya, yang berarti hal ini menegaskan kemampuan manusia untuk belajar, yakni kecerdasannya. Perhatikan pula apa yang Adam pelajari. Dia mempunyai kemampuan untuk menyebutkan nama “seluruh benda”, untuk menyebutkan simbol-simbol verbal segala sesuatu yang diketahuinya, seluruh pikiran, pengalaman, dan perasaannnya. Di antara semua karunia intelektual manusia, kemampuan bahasa manusialah yang paling ditekankan Al Qur’an. Jelaslah ini dikarenakan kemampuan bahasa adalah peranti intelektual yang amat canggih yang membedakan manusia dari semua makhluk bumi lainnya. Dengan kemampuan bahasa ini, lebih daripada kemampuan lain, manusia tumbuh, berkembang dan belajar secara individual maupun kolektif, sebab kemampuan bahasa menjadi alat untuk belajar dan mengajari orang lain yang tak sempat bertatap muka dengan kita-lewat tulisan-, termasuk orang-orang yang secara ruang dan waktu sangat jauh dari kita. Artinya, seluruh manusia dikaruniai dengan sebuah ‘sifat kumulatif’ yang amat maju.
Selanjutnya, Allah meletakkan benda-benda yang nama-nama mereka disebutkan oleh Adam di depan para malaikat dan berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar.” Ini secara gamblang memperlihatkan bahwa akal manusia merupakan argumen yang sangat penting dalam jawaban Tuhan atas pertanyaan para malaikat. Malaikat-malaikat bertanya mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang kasar dan jahat dengan asumsi bahwa mereka lebih unggul, sebab mereka tunduk sepenuhnya pada kehendak Tuhan, memuji, dan menyucikan-Nya. Al Qur’an rupanya hendak menyatakan dalam ayat ini dan ayat-ayat berikutnya bahwa ada sifat-sifat lain, yang membuat manusia setidaknya berpotensi lebih mulia daripada malaikat di hadapan Tuhan.

Mereka berkata: “Maha Suci Engkau, tak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah: 32)
Malaikat-malaikat mengakui ketidakmampuan mereka untuk menjawab tantangan Allah. Mereka tidak memiliki kelebihan akal untuk menciptakan simbol dan konsep bagi diri mereka. Mereka mengatakan bahwa untuk menciptakan semua itu dibutuhkan pengetahuan dan kearifan yang berada di luar batas kesanggupan mereka.
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS. Al Baqarah: 33)
Aku mulai percaya bahwa penulis Kitab Suci Al Qur’an bukan tidak mengetahui kisah penciptaan Adam dalam Alkitab, tetapi Dia menceritakannya kembali dengan menyuguhkan makna yang orisinil. Tuhan berfirman bahwa benarlah Dia telah menganugerahi manusia kemampuan untuk berbuat salah, tetapi juga memberikannya kemampuan-kemampuan lain yang sangat unggul yang tidak diberikan kepada malaikat. Al Qur’an menyatakan: “Dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan yang kamu sembunyikan.” Apa yang malaikat sembunyikan? Aku bertanya. Aku tahu para malaikat keberatan karena hanya memperhatikan satu sifat manusia, yaitu kemampuannya untuk berbuat kerusakan dan kesalahan. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui, sebagaimana diriku, sifat lainnya. Sesungguhnya, sebagian manusia dapat berbuat amat jahat, tetapi sebagian lainnya dapat berbuat luar biasa baik. Sebagian orang benar-benar rela berkorban, bertindak adil, senang berderma, murah hati, dan ramah. Namun diriku, sebagaimana para malaikat, tidak memikirkan sifat-sifat ini. Lama sekali aku hanya memperhatikan sisi gelap manusia.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” mereka pun bersujud kecuali iblis; ia menolak dan menyombongkan diri; dan ia termasuk golongan yang tidak beriman. (QS. Al Baqarah: 34)

Apabila semula aku meragukan kata-kata Al Qur’an bahwa manusia berpeluang menjadi lebih mulia daripada para malaikat, ayat tersebut di atas telah menyingkirkan keraguan itu. Ketika Adam mampu memperlihatkan kemampuannya dan para malaikat tidak mampu, Tuhan berfirman pada mereka, “Sujudlah kamu kepada Adam.” Mereka pun sujud dan mengakui kelebihan Adam. Sujud juga merupakan simbol ketundukan dan Al Qur’an menunjukkan bahwa para malaikat di kelak kemudian hari akan melayani manusia di bumi.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini, dan makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-oramg zalim.” (QS. Al Baqarah: 35)

Aku semakin tidak percaya pada Kitab ini. Ayat-ayat pembukaannya sangat menarik, tetapi cerita Adam dan Hawa sekarang jelas berbalik lagi ke versi Alkitab: Adam dan Hawa makan buah itu dan kemudian dihukum hidup di bumi. Tetapi, ada yang sangat aneh dari ayat ini. Dalam cerita Alkitab Tuhan sepertinya merasa khawatir dan mengancam manusia yang memakan buah itu, sebab ini merupakan buah pengetahuan dan kekekalan, dan bila manusia memakannya mereka akan menjadi tuhan-tuhan yang menyaingi Tuhan. Akan tetapi, dalam ayat ini, Tuhan sepertinya amat tenang dan bisa menguasai diri sepenuhnya. Tak ada kata yang mengindikasikan bahwa buah pohon itu sangat mempengaruhi Adam dan Hawa. Tampaknya, pohon itu disebut begitu saja. Al Qur’an kemudian menjelaskan bahwa setan menggoda pasangan Adam dan Hawa dengan mengatakan bahwa jika memakan buah tersebut, mereka akan meraih kehidupan abadi dan kerajaan yang tidak akan binasa. Tetapi perkataan ini berasal dari setan. Tidak ada isyarat bahwa Tuhan merasa khawatir kalau-kalau pasangan ini akan mengingkari-Nya; Dia sekedar memberitahu bahwa andaikata mereka memakannya, berarti mereka telah melakukan dosa. Kita pun tidak tahu apakah itu merupakan larangan pertama Tuhan kepada Adam dan Hawa. Al Qur’an tidak menyebutkannya. Mungkin saja ada larangan-larangan lain yang sebelumnya telah Tuhan sampaikan. Kita hanya tahu bahwa larangan ini merupakan yang pertama-tama mereka langgar. Aku bertanya-tanya apakah peristiwa ini menyiratkan sebuah makna yang amat penting-bahwa itulah pilihan bebas pertama Adam dan Hawa, itulah kali pertama mereka memilih selain apa yang diperintahkan oleh Tuhan.

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan di bumilah tempat tinggalmu dengan segala kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al Baqarah: 36)

Setelah membaca ayat ini, aku siap untuk menutup Al Qur’an dan menyimpannya sebab sekarang aku yakin Kitab Suci ini telah meretas jalan pertamanya dan berpulang pada kisah tradisional Adam dan Hawa bahwa kehidupan kita di bumi sebenarnya merupakan hukuman atas dosa mereka berdua. Tetapi, sekali lagi sebagian kata dalam ayat tersebut masih membingungkanku. Mengapa ayat itu menyebut dosa terbesar dalam sejarah manusia-dosa yang menyebabkan kita semua menderita, mengalami kesulitan, dan mati di dunia- hanya sebagai “digelincirkan”? Sebuah kesalahan kecil yang tak membawa konsekuensi serius. Semula, aku berpikir ini pasti salah terjemahan, tetapi aku segera tahu dari teman-teman Arabku bahwa kata Arabnya adalah azalla yang maknanya sama persis dengan makna terjemahannya. Mengapa begitu? Apakah penulis Kitab ini tidak tahu betapa besar dosa Adam dan Hawa?Aku surut ke belakang dan beberapa kali membaca ulang ayat ini dan ayat sebelumnya. Dan pertanyaan berikut inilah yang menghampiriku: Apakah pasangan Adam dan Hawa benar-benar melakukan dosa yang sedemikian besar? Mungkin aku termasuk orang yang tidak dapat berlepas diri dari tafsir tradisional. Barangkali aku menolak pesan Al Qur’an. Akan tetapi, setelah kupikir-pikir, senyatanya Adam dan hawa tidak melakukan pembunuhan, perkosaan, perzinahan, atau penganiayaan. Mereka hanya memakan buah suatu pohon. Aku merasa bahwa pemilihan kata “digelincirkan” untuk menyebutkan dosa mereka sepenuhnya tepat. Hal ini juga akan menjelaskan ketenangan penulis Kitab Al Qur’an dalam menyampaikan pesan itu. Alih-alih penulisnya mengatakan pada pasangan Adam dan Hawa bahwa mereka akan sangat menderita di bumi, mereka sekedar diberitahu bahwa, “di bumilah tempat tinggalmu dengan segala kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Ini bukanlah kata-kata Tuhan yang sedang marah atau menghardik.
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah: 37)
Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kemarahan Tuhan tetapi malah menekankan ampunan dan kasih sayang Tuhan. Ayat selanjutnya menunjukkan bahwa kata-kata yang Adam terima dari Tuhannya adalah kalimat pelipur lara yang sarat dengan harapan.
Kami berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah: 38)

Kita mendapati bahwa Allah mengampuni dan membantu Adam dan Hawa, tetapi mengapa kemudian Dia tidak mengembalikan mereka ke surga? Bila Tuhan mengampuni pasangan itu, mengapa Dia tetap menempatkannya di bumi?Jawabannya muncul dikepalaku secepat datangnya pertanyaan itu: sebab kehidupan di bumi, menurut Al Qur’an bukanlah hukuman. Sejak awal dituturkannya kisah ini, Tuhan menegaskan bahwa keberadaan kita di bumi mempunyai tujuan yang lebih besar. Sejauh ingatanku, kisah Adam dan Hawa dalam Al Qur’an seluruhnya koheren. Coba perhatikan bahwa Al Qur’an mengulang lagi perkataan “Turunlah kamu dari surga itu!” dalam ayat 38, tetapi kali ini disertai dengan kata-kata yang menekankan ampunan, hiburan, dan jaminan Tuhan pada mereka. Seakan-akan, Al Qur’an berkata kepadaku dan semua orang, “Tuhan tidak menempatkanmu di bumi untuk menghukummu.”
Adapun orang-orang yang tidak beriman dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah: 39)
Mengapa Al Qur’an berkata demikian? Aku merasa diserang oleh ayat tersebut, tetapi persinggungan yang singkat dengan Al Qur’an telah mengajariku bahwa ketika sebuah ayat menyerangku, ia seringkali mengandung isyarat penting. Syahdan, kita dapat secara tegas mengatakan bahwa Tuhan Maha Esa benar-benar ada. Apakah orang-orang dengan sengaja menolak dan mengingkari ayat-ayat-Nya, ataukah mereka melakukannya karena ayat-ayat tersebut terlalu kabur? Apakah mereka secara sadar menolak apa yang mereka rasakan benar? Apakah mereka secara sengaja mengingkari suara hati mereka?Tentu saja mereka secara sengaja mengingkari suara hati mereka, demikian pula aku. Berkali-kali aku menolak, menelikung, dan memanipulasi kebenaran untuk memperturutkan hawa nafsu. Berulangkali aku merasionalkan tindakan-tindakan merusak dan menolak untuk mengakui kekeliruanku, bahkan dihadapan diri sendiri. Andai Tuhan memang ada, pikirku, selama ini aku pasti telah mengabaikan ayat-ayat-Nya.
Manusia, pria dan wanita, adalah makhluk bermoral, makhluk yang memiliki hati nurani dan perasaan yang kuat untuk membedakan mana yang salah dan benar. Mereka dikaruniai dengan dorongan baik dan dorongan jahat, dan harus memilih salah satunya. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan kesadaran untuk memilah kebenaran dan kekeliruan moral, dan memberi mereka kemampuan untuk menjalankan pilihan-pilihan moral mereka. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menyadari kesalahan mereka dan mengoreksinya. Dan yang jelas, kehidupan di dunia dan kesengsaraan manusia tak dimaksudkan untuk menghukum mereka.
(dikutip dari buku berjudul ‘Losing My Religion: A Call for Help’ karya Jaffrey Lang dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Aku Beriman, maka Aku Bertanya’ halaman 40-56 dan 93-94)