Selasa, 05 November 2013

Jundallah dan Iqro' 3


Sebenernya 2 bulan lalu Junda uda lulus iqro' 2 dan bole lanjut iqro' 3, etapi dianya ogah. Katanya ada 'kasroh', Junda gak suka sama garis yang di bawah, sukanya sama garis yang di atas alias fathah :D

Btw ngaji ini kan, selaen sholat, jadi syarat maen PS. Ngaji 1 halaman = PS 1 jam. Nah karena Junda gak mau lanjut iqro' 3, jadilah dia ngaji iqro' 1 ato 2 ato yang dia rasa bisa, DEMI maen PS.

Lama-lama ummi ngerasa kok kayanya ada yang salah ya. Ummi 'dikerjain' ato Junda yang uda 'naik kelas' dan ummi yang ketinggalan jaman ini. Hmmm.. saatnya bikin sepakatan yang smart deh.

Ummi putuskan untuk rapat sama Hizba Junda. Kami bikin aturan baru untuk maen PS. Terutama yang ngaji, harus sesuai dengan batas akhirnya. Kalo Hizba nyampe juz 5 QS. An-nisa, ya silakan dilanjutkan. Begitu pun Junda, uda nyampe iqro' 3 ya berarti lanjut berikutnya, bukan ngulang sebelumnya. Ato ngaji yang dianggep gampang aja. Ngaji gak lanjut, sorry to say, gak ada PS. Deal!

Sepakatan pun jalan. Sabtu pagi, Hizba masi sekolah, Junda mau maen PS. Langsung dia ambil iqro' dan buka jilid 3. Subhanallah, gak nyangka, kok dia enjoy banget ya. Bacanya sih masi per huruf, tapi panjang pendeknya uda bener. Salah-salah dikit juga wajar lah ya, kaya hamzah kasroh i, dia baca: hamzi *ngakak dalam hati :))))))
Ato nun fathah na dia hubungkan sama lagu spongebob yang edisi berburu ubur-ubur. Jadinya malah nyanyi: na na na na na, na na na na na.. wakakakak sak karepmu leeee
Ada juga yang lam fathah la, lam kasroh li. Dia selimurin jadi 'aku LaLi pakde, aku lali' +___+
Wes mbuhkah..

Yang penting dia mau berusaha, semangat ngaji dan uda paham kalo kasroh itu dibaca 'i'. Padahal sebelumnya, boro-boro. Ngaji iqro' 3 itu nightmare buat Junda. Kalo salah gak mau dibenerin. Pengennya cepet-cepet selesei. Gak mau muroja'ah. Tragedi dramaqueen mesti terjadi. Capek belajarnya ih, boring. Ini sik murnik karena umik gak asik! *pengakuandosa*

Uda habis 1 halaman, dia minta lagi, katanya mau maen PS 2 jam. Beres bos! Abis ngaji, Junda galau. Karena Hibban masi beredar. Itu berarti dia gak bisa khusuk maen PS karena bakalan diganggu sama Hibban. Akirnya dia tahan, nunggu sampe Hibban bobok. Yang ini surprize juga buat ummi, dia rela nungguin loh. Biasanya sih uda esmosih jiwa ya.

Dzuhur tiba, Hizba uda di rumah, Hibban bobok juga. Tapi karena uda timebond, jadi sholat dan ngaji harus diperbarui. Hizba Junda sepakat maen PS 3 jam. Jadinya mereka butuh bayar ngaji 3 halaman. Hihihi, gak berasa, dalam sehari, Junda uda dapet 6 halaman aja iqro' 3 nya.

Senin sore ada yang langgar sepakatan euy: maennya melebihi timebond. Jadi ya otomatis PS mati dan gak ada PS 1 hari. Gak ada yang protes tuh, apalagi tantrum ato saling menyalahkan. Yang ada saling menguatkan satu sama laen. Hizba nya bilang: gpp ya dek, besok PS nya libur dulu ya. Yang Junda jawab: iya gpp mas, besok maen laptop aja ya mas. Gyahahaha teuteeeeup ngegame.. Tapi no worries ah, uda ada sepakatannya sendiri kok. Untuk maen kompie ato lappie sepakatannya sholat dan tahfidz dulu *tingggg! ;)

Si Junda uda rikues ngaji 2 halaman lagi dari sekarang. Ceritanya uda nyampe halaman 12 dianya. Nih barusan ngaji lagi sampe halaman 14. Kalo kaya gini sih taon depan siap-siap sediain budget khusus buat beli Al-Qur'an baru neyhhh.. ehehehe Insyaa Allah :D

Kamis, 25 Oktober 2012

Satu Jam Saja...

Oleh : Prima Avianti

Berawal dari masa kehamilan. Bahkan saya tidak tahu kalau sedang mengandung anak ketiga. Sempat ingin program untuk mendapatkan babygirl, hehe. Belum ke dokter juga sih, cuma browsing dan tanya sana sini yang (kira-kira) sudah berpengalaman. Ternyata eh ternyata sudah telat tiga bulan, dan benar saja waktu kontrol ke dsog, perut ini sudah 12 minggu usianya. Alhamdulillah.

Seperti biasa trimester pertama saya selalu morningsick, teler bau-bauan, tapi tetap harus mengurus rumah dan anak-anak. Waktu itu belum ada asisten. Selama kehamilan hampir tidak ada masalah, hanya saja kenaikan berat badan saya tidak seheboh waktu sedang mengandung Hizba-Junda yang mencapai angka 20 kiloan. Di kehamilan ketiga ini, total kenaikan berat badan saya hingga melahirkan hanya 14 kg saja.

Menginjak trimester ketiga, tepat di usia 28 - 32 minggu, ujian itu datang juga. Junda sakit dan harus opname. Awalnya saya masih biasa saja hingga dokter memberitahu bahwa Junda menderita bronchopneumonia (radang paru-paru). Masya Allah, mendadak diri ini rasa mati rasa. Dengan segenap kemampuan saya berusaha apapun asal Junda cepat sembuh.

Dalam kondisi hamil tujuh bulan saya coba melakukan relaktasi pada Junda, setelah dua bulan ia lepas ASI. Tidak mudah saya melakukannya. Bukan karena saya tidak yakin. Bukan juga karena kehamilan saya. Melebihi itu, saya tidak tega melihat Junda. Dada ini terasa sesak, sakit. Sakit sekali. Saya masih tidak percaya. Junda yang selama dua tahun lebih dua bulan yang lalu jarang sekali sakit. Kalaupun sakit, Junda hanya demam ataupun GE. Itu juga biasanya sembuh hanya dengan perbanyak ASI dan perkembangan kekebalan tubuhnya.

Empat hari opname hingga akhirnya Junda diperbolehkan pulang. Baru dua minggu di rumah, Junda demam (tinggi) lagi dan batuk-batuk hebat. Tanpa menunggu lagi, kami segera larikan Junda ke RSI Siti Hajar dan harus opname (lagi). Ternyata bronkitis Junda masih ada. Terpuruk lagi jiwa ini. Saya benar-benar sedih melihat kondisi Junda. Sudah badannya kurus (9,5 kg di usianya yg ke 2,5 th), matanya sayu, tampak lemas dan tidak bergairah. Sempat saya ragu, apa Junda bisa sembuh total atau tidak. Ya Allah hanya Engkau yang Maha Penyembuh, syafakallah Jundallah.. begitu doa saya di setiap akhir sholat.

Alhamdulillah setelah 4 hari opname yg kedua di RS, Junda diijinkan pulang. Dan yang membuat saya lega, ternyata Junda 'hanya' alergi makanan yang belum tahu apa spesifiknya, sehingga menu Junda HARUS diawasi. Harus diet BSTIK (Buah, Susu sapi, Telur, Ikan dan seafood, Kacang-kacangan) selama 3 minggu. Yah, Junda akhirnya hanya makan tahu-tempe dan sayur. Camilannya pun sebangsa umbi-umbian seperti kentang, ketela rambat, dan singkong. Itupun harus direbus bukan digoreng. Susunya ganti susu kedelai. Setelah 3 minggu, menu Junda mulai diujicoba dengan menu BSTIK satu persatu. Itupun secara bertahap dan apabila terjadi reaksi batuk maka itulah alergennya. Jadi praktis saya punya note sendiri untuk menu Junda.

Jujur saja pikiran ini lebih banyak tercurah untuk Junda daripada kandungan saya. Hingga suatu malam selesai telpon-telponan dengan ibu saya, perut ini terasa mulas. Tampaknya terjadi kontraksi. Semakin lama kontraksi semakin sering. Setiap 10-15 menit sekali. HPL sih masih 10 hari lagi. Saya pun membangunkan suami yang tengah tertidur pulas. Waktu itu setengah dua belas malam. "Yok bi ke bidan depan coba ngecek sudah pembukaan berapa. Kalau masih satu atau dua kita pulang lagi". Suami tidak setuju. Segera ia menelepon taksi. Ia ingin saya melahirkan di tempat bulek, bidan juga sih, yang dulu pernah membantu saya dalam proses persalinan Junda.


Sesampainya di tempat bulek, saya langsung di cek. Ternyata masih pembukaan dua. "Tuh kan bi, masih buka dua. Yok pulang lagi". Waktu menunjukkan pukul 1.30 dini hari. Asisten bidan melarang saya untuk pulang lagi. Mau diobservasi dulu, katanya. Ya sudah, saya manfaatkan waktu untuk jalan-jalan di depan ruang persalinan. Kontraksi semakin sering. Asisten bidan mengatakan bahwa melahirkan anak ketiga itu sama sakitnya dengan saat melahirkan anak pertama. Bahkan katanya tempo hari ada pasien yang pembukaan dua tidak bertambah sampai seminggu dan akhirnya dioperasi. Gawat nih asbidnya, kompor juga ternyata. So, gue harus guling-guling bungee jumping sambil bilang WOW gituh? Hehe enggaklah. Waktu itu saya hanya tersenyum. Saya meyakini Allah bersama saya. Cukup bagiku Allah penolongku. Saya pasrahkan segala urusan pada Allah. Biarlah Allah yang mengatur. Terserah Allah.

Saya terus lakukan self-talk bahwa melahirkan itu luar biasa indah. Tidak semua wanita bisa mengalaminya. Sedangkan bagi saya ini adalah yang ketiga kalinya. Sungguh sebuah keajaiban. Inilah saatnya! Tidak lupa jagoan yang di dalam perut ini pun saya ajak ngobrol, nyanyi bersama, dan berdoa tentunya. Saat asisten bidan coba cek lagi ternyata sudah pembukaan lima, enam, tujuh, dan delapan terjadi begitu cepat. Saya masih ngobrol dengan calon jagoan saya. "Yang pinter ya sayang. Bentar lagi mau ketemu ummi, abi, mas hizba ma mas jun nih. Kita kerjasama ya sayang. Adek yang nyari jalan keluar, ummi yang dorong". Asisten bidan sampai terheran-heran dan bertanya "Ibu ini betah sakit ya? Kok mukanya nyantai banget?" :)

Dan tepat di 2.30 dini hari, tangisan bayi mungil itu terdengar juga. Terhitung satu jam saja proses dari saya datang yang masih pembukaan dua hingga melahirkan. Hanya dengan dua kali ngejan dua jahitan hehe. Iya, dialah Hibbantauhid Jabrullah Amma. Tentang seorang yang mencintai agamanya dan senantiasa mendapat pertolongan Allah. Begitulah kira-kira makna namanya. Sekenanya saya coba raih tubuh Hibban saat tali plasentanya belum dipotong, hingga asisten bidan memotongnya dan meletakkan tubuh mungil itu di dada saya untuk IMD. Subhanallah, tubuh mungil itu begitu rapuh. Begitulah saya saat baru lahir. Tiba-tiba saya teringat ibu saya. Dan air mata ini tak terbendung juga :')

Akhirnya setelah perjalanan sembilan bulan yang penuh kejutan itu, terutama di trimester ketiga yaitu saat Junda sakit dan perhatian saya tidak lagi terfokus pada kandungan saya, Allah memberi hadiah pada saya. Melahirkan dengan lancar dan begitu rileks. Begitulah janji Allah, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Allah tidak akan membebani umatNya melainkan karena ia mampu. Dan rasanya masih seperti mimpi, menjadi ummi dari tiga anak laki-laki. Alhamdulillah :)


Pinang, dua belas malam..
"Saat menjadi istri, ia menyempurnakan Dien suaminya. Saat menjadi Ibu, surga di bawah telapak kakinya. Begitulah perempuan dalam Islam.."

Rabu, 27 Juni 2012

Tentang Raport "Hizballah"


Ummi-nya Hizba Junda Hibban


Dibanding semester kemarin, catatan untuk Hizba di semester ini jauh lebih banyak. Antara lain absen yang mencapai angka 40 hari, buku kegiatannya banyak yang kosong, bintang dua lebih banyak dibanding bintang empat, nilai C dimana-mana, hingga tidak bergairah saat mengerjakan tugas di kelas.

Lalu saya bertanya pada guru kelasnya tentang kapan Hizba tampak bersemangat saat di sekolah? Gurunya pun menjawab saat istirahat tiba. Saya bertanya kembali, kenapa bisa demikian? Apa yang Hizba lakukan saat istirahat? Gurunya menjawab, saat istirahat Hizba bisa bermain sesuka dia termasuk menyusun balok atau bercanda bersama teman-teman. Saya pun hanya tersenyum. Lega saya mendengarnya.

Anyways, dua hari sebelum terima raport tiba. Saat sepulang sekolah, baru juga sampai depan pagar. Sepatu juga masih nempel di kaki. Seperti tidak sabar, Hizba masuk rumah sembari berlari dan berteriak "Alhamdulillah mi.. kata Bu Jaroh, mas mau kelas B! Yey..yey mas sudah tambah besar ya mi! Tar mas jagain ummi terus sama adek-adek juga". Lalu saya dipeluknya. Sumpah, merinding saya dibuatnya!

Bukan karena naik kelasnya. Bukan juga nilai raportnya. Tapi karena kepribadiannya. Hizba yang belum genap 5 tahun, dengan segala kesederhanaannya mampu menciptakan sesuatu yang - menurut saya - selalu ajaib! Cara ia bersyukur, begitu spontan, membuat saya takjub. Dan pelukan itu, berhasil membuat air mata saya akhirnya menetes juga.

Bagi saya, Hizba sudah cukup berprestasi. Apa yang Hizba lakukan di usianya sudah lebih dari cukup. Kemampuannya untuk membaca, berhitung, dan menulis saya anggap sebagai bonus. Lebih dari sekedar itu semua. Hizba begitu peduli dengan orang-orang yang menyayanginya dan yang ia sayangi. Karakternya yang suka mengalah tidak jarang menjadikan ia sebagai penikmat yang kedua. Namun selalu menjadi inspirasi bagi siapapun yang mengenalnya. "Adek mau beresin maenan ndak? Kalo ndak, mas yang beresin lho". Hehe. Polos, tapi penuh makna. Pada akhirnya membuat adeknya termotivasi untuk membereskan mainan.

Ia juga begitu dekat dengan alam hingga membuatnya dan orang disekitarnya ingat akan Penciptanya. Pertanyaan yang selalu muncul saat Hizba bangun tidur di pagi hari, tapi saya tidak pernah bosan mendengarnya. Mataharinya sudah keluar apa belum mi? Planet venus sama Mars kelihatan ndak mi? Bulannya masih ada tah mi? Awannya kenapa mendung mi? Sungguh, itu bukan pertanyaan sembarangan! Paling tidak menurut saya. Dan, saya bangga.

Hizba yang tidak pernah puas dengan jawaban singkat. Ia selalu mencari tahu dan mencari tahu. Hizba yang selalu bersemangat saat menemukan passionnya. Masih ingat kemarin Hizba tidak mau berhenti belajar mengaji Iqro'. Alhamdulillah sudah hampir Iqro' 3. Hafalan surat dan doa-doanya juga nambah. Katanya, "mas suka ngaji mi. mas suka yang gandeng-gandeng. tambah lama tambah banyak ya mi gandengnya. seru!". Lucunya, ia hanya mau belajar mengaji sama saya atau abinya. Tidak mau dileskan.

Hizba, di mata saya begitu sederhana tapi istimewa. Begitu juga anak-anak saya yang lain. Dan anak-anak kita semua. Biarkan mereka tumbuh seiring dengan kemampuannya. Senatural alam ini tumbuh. Karena hanya dengan begitu, mereka bisa menjadi sempurna. Tugas kita, orangtuanya, hanya mendampingi dan membantu menemukan jati dirinya. Biarkan mereka yang menentukan sendiri kapan dan dimana ia nyaman dan mencintai dunianya.


Pinang, saat ketiganya terlelap..
ummi

Senin, 31 Oktober 2011

Pemuda, Pengendali Perubahan, dan Pembuktian

Sumber : Dakwatuna.com

Pemuda, kata yang sudah tak asing lagi terdengar di telinga khalayak. Kata tersebut terdengar sampai seantero Indonesia ketika momentum sumpah pemuda 1928, kemerdekaan 1945, dan reformasi 1998. Bahkan kata tersebut sering dihubung-hubungkan dengan perubahan dan cita-cita. Namun sesungguhnya apakah pemuda? Siapa yang menyandang gelar pemuda, umurkah yang menentukan? Dan bagaimana profil pemuda ideal yang tentunya disukai Allah? Mari kita kupas tentang pemuda.

Identitas dan Keistimewaan Pemuda

Banyak yang menyatakan pemuda sebagai agent of change, kenapa? Karena pemuda adalah harapan bangsa, ia adalah agen-agen perubah di negerinya berada. Tapi lebih dari itu, pemuda bak motor gerakan sebuah entitas yang ingin selalu membuat perubahan demi terciptanya cita. Lalu seperti apa identitas pemuda? “Umur dan watak adalah dua unsur penting dalam identitas pemuda sekaligus pembeda dengan golongan lainnya : kaum tua, balita, anak-anak, dan remaja.” Ujar Mi’raj Dodi Kurniawan, seorang mantan aktivis Islam Bandung. Umur, sebagian pihak mengelompokkan antara umur 25 dan 35 sebagai pemuda, ada juga pihak yang menyatakan pemuda berada di antara umur 20 sampai 45. Jika kita melihat umur yang dikelompokkan, pemuda bisa digambarkan sebagai kaum yang energik, mempunyai fisik prima dan bertenaga sedangkan yang lemah dan tak bertenaga adalah kaum tua. Berbanding lurus dengan unsur yang kedua, watak, pemuda memiliki watak pendobrak tatanan layaknya Nabi Musa yang melawan kesewenang-wenangan Firaun, dan kaum tua cenderung berwatak anti perubahan dan mempertahankan status quo seperti para rezim otoriter pada umumnya.

Deskripsi di atas menunjukkan identitas sekaligus keistimewaan pemuda, yang secara tegas terdapat dalam ayat di bawah ini :
 “…Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri (di hadapan penguasa)…” (QS Al Kahfi : 13-14)

Terdapatnya keistimewaan tersebut, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa pemuda tidak pantas jika hanya disebut sebagai agent of change tetapi mereka lebih pantas disebut director of change (pengendali perubahan), karena sangat berbeda seorang agen (aktivis biasa) dengan director (tokoh) namun dengan syarat memenuhi profil pemuda ideal yang disukai Allah (karena pemuda dalam Islam adalah pemuda yang dicintai Allah). Seperti yang dikutip dalam buku “Menyiapkan Momentum”-nya Rijalul Imam, di antaranya adalah meningkatkan rasa tanggung jawab, memiliki kebanggaan dengan Islam, baik dalam memahami Islam, melayani masyarakat, mengajak ke jalan Islam, membekali diri dengan ilmu, memiliki rasa solidaritas dengan sesamanya, waspada diri dari fitnah, pakai perhitungan, dan tidak terburu-buru.

Tantangan Hari Ini

Dengan profil di atas pemuda di masing-masing zamannya telah membuktikan bahwa mereka pantas disebut sebagai pengendali perubahan, sebut saja Hasan Al Banna dan Mohammad Natsir. Pertanyaannya, bagaimana di zaman ini, setelah lebih dari 10 tahun momentum reformasi. Dimana kaum muda? Plato, seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa “Nantinya dalam kehidupannya manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan kemapanan dan mereka senang berada di dalamnya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya mereka takut untuk keluar dari gua tersebut. Memang mereka bahagia tapi diri mereka kosong dan tak pernah menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mereka tidak mempunyai mimpi.” Itulah gambaran sebagian besar pemuda zaman sekarang, yang terjerumus dalam hegemoni kenikmatan, yang katanya ingin mengalihkan kekuasaan dari kaum tua. Tiga tahun silam Sultan HB X menantang pemuda untuk membuat deklarasi nyata arah perjalanan Indonesia. Sultan mengatakan, kaum muda belum pernah mengungkapkan deklarasi nyata selama Indonesia merdeka. Terakhir, deklarasi kaum muda diungkapkan lewat Sumpah Pemuda tahun 1928. bisakah kita menjawab tantangan Sultan? Sudah tiga tahun tantangan tersebut berlalu, namun belum ada yang bisa menjawab dan membuktikannya.

Menyimak apa yang dikatakan oleh Plato dan Sultan, harusnya pemuda menjadi sadar dan tertantang bahwa mereka harus bergerak, keluar dari gua yang gelap, jauhkan diri dari zona kenyamanan. Pemuda harus mempunyai konsepsi yang jelas untuk mengalihkan kekuasaan dari kaum tua yang mengacau. Jangan cuma berkata, tapi bergerak untuk memenuhi profil ideal pemuda yang disukai Allah, bahkan seorang mujadid abad ke-20, Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan dalam ”Wajibatul Akh”-nya di Risalatu Ta’lim, ”Hendaklah kalian bersungguh-sungguh meningkatkan kapasitas dirimu, hingga tongkat kepemimpinan itu diserahkan kepada kalian yang memiliki kualitas.”

Pembuktian para pengendali perubahan masih ditunggu sampai hari ini, sebentar lagi di bulan ini kita akan memperingati kembali hari Sumpah Pemuda. Jangan sampai idealism pemuda hanya sebatas kelihaian wacana saja, tetapi butuh pembuktian dengan membumikan idealisme tersebut. Wahai para pemuda mari sama-sama kita renungkan kembali makna dan falsafah perjuangan Sumpah Pemuda, wahai para pengendali perubahan, bangkit dan ubah stempel di wajahmu yang hanya bertuliskan agen perubahan. Karena realita pemuda masa kini menunjukkan hari esok suatu bangsa, maka mulailah untuk berkarya.

Minggu, 30 Oktober 2011

Agar Anak Tidak Malas Belajar

Sumber : (Sarah Handayani/ummi online)

Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua. 

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

1. Komunikasi tidak efektif

Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan

‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas

Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik

Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.