Jumat, 28 November 2008

Muhasabah Tentang Hal-hal Yang Tidak Terpuji

Beberapa hari yang lalu sewaktu saya baca-baca Kitabullah Al-Qur’anul Karim, kebetulan tepat pada surat Al-Isro’, saya temui beberapa ayat yang saya rasa “pas” banget.

Flashback sedikit ke hari-hari sebelumnya. Bahwa akhir-akhir ini saya merasa “kering” dalam arti kurang siraman rohani, semangat tuma’ninah dan istiqomah terasa mulai terkikis secara gak sadar. Sholat mulai berantakan, hati menjadi keras, semangat belajar hilang sama sekali, mata hati menjadi sulit memisahkan yang haq dan yang bathil. Apa yang sudah terjadi pada diri saya? Hal buruk apa yang telah saya lakukan?

Berangkat dari sini, saya merasa harus segera berbenah, dan subhanallah, Allah memberikan banyak sekali petunjuk dengan cara-caraNya yang selalu unik dan tak terduga. Salah satunya yang cukup menguatkan adalah langsung lewat Al-Qur’an. Edisi baca Al-Qur’an kali ini saya mendapat hal berharga (bukan berarti edisi yang lain tidak).

Adalah Surah Al-Isro’ (walaupun juga ada di surat-surat yang lain secara terpisah), saya menemui ringkasan jelas mengenai amalan manusia yang sangat dibenci oleh Allah ‘azza wajalla. Sayangnya, akhir-akhir ini, amalan-amalan buruk ini sering saya temui disekeliling saya, mungkin juga di sekeliling Anda, baik itu kita sendiri ataupun orang lain sebagai subjeknya, na’udzubillah.

Amalan-amalan tersebut antara lain,

1. Menyekutukan Allah, Al-Isro’ ayat 22:

“Janganlah kamu adakan Tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)

2. Berlaku kasar dan menyakiti kedua orang tua, Al-Isro’ ayat 23 dan 24:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”

dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"

3. Menghamburkan harta dengan boros, Al-Isro’ ayat 26 dan 27:

dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

4. Berucap kasar kepada orang miskin ataupun orang2 lain yang berhak menerima pemberian dari kita, Al-Isro’ ayat 28:

dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas

Maksudnya: apabila kamu tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang disebut di ayat sebelumnya (memberikan hak orang miskin, ibnu sabil, dll), maka Katakanlah kepada mereka Perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

5. Bakhil (kikir), Al-Isro’ ayat 29:

dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (kikir dan terlalu boros) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal

6. Membunuh anak sendiri karena takut kemiskinan (ini banyak dilakukan orang2 dahulu, terutama untuk anak perempuan. Akan tetapi saat ini juga banyak kita temui orang membunuh anaknya sendiri karena khawatir mengurangi “jatah makannya”, nau’dzubillah “hewani sekali”), Al-Isro’ ayat 31:

dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar

7. Berzina, walaupun hanya “mendekati”, Al-Isro’ ayat 32:

dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

8. Membunuh sesama muslim, Al-Isro’ ayat 33:

dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar (maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya). dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan (maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau Penguasa untuk menuntut qishash atau menerima diat. qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih. diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan) kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

9. Memakan harta anak yatim, Al-Isro’ ayat 34:

dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

10. Berlaku curang dalam berdagang, Al-Isro’ ayat 35:

dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

11. Mengikuti ajaran tanpa dasar pengetahuan yang jelas (termasuk hal-hal syubhat), Al-Isro’ ayat 36:

dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

12. Sombong dan Congkak, Al-Isro’ ayat 37:

dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

Dari beberapa hal yang tersebut dalam Surah Al-Isro’, saya bermuhasabah untuk diri saya sendiri (sebatas hal-hal besar yang dengan jelas bisa direcord indera manusia). Sayangnya, walaupun itu hanya hal2 yang bisa dijudge secara manusiawi, banyak sekali “borok” saya yang mungkin juga bisa berakibat infeksi dan menggelapkan cermin hati. Dan parahnya lagi, borok ini sudah stadium akut. Astaghfirullah… semoga Allah mengampuni saya.

Bakhil… masya Allah… saya merasa tertohok dan seperti sedang dikursi pesakitan (mungkin tinggal nunggu waktu saja, disaat saya dipanggil oleh Allah pasti saya berada di kursi pesakitan untuk masalah ini).

Sombong… apalagi yang satu ini, astaghfirullah.

Berlaku curang dalam berdagang (saat ini istilah kerennya berbisnis). Nah, kena lagi deh! Sadar atau tidak sadar kadang saya “ngentengno” (menganggap enteng) hal-hal yang “orang lain sentries” dan cenderung menghitung yang menguntungkan diri sendiri. Semoga tidak terulang untuk seterusnya.

Dan masih banyak lagi yang lain.

Masya Allah, betapa banyak yang harus saya pertanggungjawabkan nantinya. Setelah muhasabah “kasaran” ini mungkin rapor saya merah semua, terbakarlah saya nantinya jika tak segera bertaubat. Tapi, apakah melakukan “taubat” itu semudah saya mengucapkannya? Semoga saja!!!!!!

Ditulis 28 November 2008

Kamis, 16 Oktober 2008

Jadi FTM, Berani ??!!

oleh: Kushidayati Septarini
seorang FTM (Full-time Mom) yang dulunya sempet jadi seorang WM (Working Mom)
*diambil dari milis HEBADD!!*



Setelah memutuskan untuk berhenti bekerja, saya sendiri juga butuh waktu setahun lamanya untuk merasa yakin inilah yang terbaik untuk saya dan keluarga. Berikut alasan-alasan yang mungkin juga bisa membuat mbak merasa bangga menjadi ibu rumah tangga :


1. Anak adalah amanah dari Tuhan.
Kewajiban kitalah sebagai orang tua yang melahirkan untuk membesarkan dan mendidik mereka, menjadikan anak-anak kita generasi yang sehat, cerdas, beriman, dan berhasil dalam hidupnya.
Kita semua tahu, periode emas tumbuh kembang anak (baik fisik maupun psikis) adalah dari usia 0-10 thn.
Relakah selama masa itu anak-anak kita lebih banyak diasuh oleh baby sitternya, kakek nenek, atau saudara?? Bisakah kita membentuk anak-anak kita sesuai keinginan kita padahal kita hanya sedikit punya andil atau waktu dalam proses di dalamnya?

2. Tugas mencari nafkah adalah tugas seorang ayah.
Memang kedengarannya klise tapi memang itulah gambaran sebuah keluarga ideal, dalam agama apapun, dan di negara manapun.
Dari seorang ayahlah, anak diajarkan bagaimana bekerja keras, disiplin, kemandirian, dan kedewasaan hidup. Dan dari seorang ibu anak diajarkan kelembutan, kasih sayang, kesabaran, dan kesantunan. Dengan gabungan "perbedaan" peran ayah dan ibu inilah anak akan memperoleh keseimbangan psikis atau mental dalam tumbuh kembangnya.
Bagi saya, mengalihkan peran ibu kepada orang lain berarti mengalihkan pula amanah dan tanggung jawab yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita, sayang bukan...??


3. Bagaimana dengan kondisi finansial??
Terus terang ketika saya berhenti bekerja penghasilan keluarga kami otomatis berkurang cukup banyak. Tapi, dengan sedikit menurunkan standar hidup, alhamdulillah kami bisa survive.
Waktu itu, kami mengurangi frekuensi jalan-jalan, memangkas anggaran belanja yang tidak perlu, mengatur pola makan dengan tetap memperhatikan kualitas, dan lainnya.
Yang perlu diketahui adalah bahwa kekurangan materi merupakan satu bentuk pendidikan anak juga. Dengan membeli baju dan sepatu yang tidak terlalu mahal, anak diajarkan hidup sederhana. Dengan mengurangi jajan di luar, anak diajarkan untuk hidup sehat (sudah tahu kan alasannya?). Dengan keterbatasan mainan, anak diajarkan kreatif memanfaatkan apa saja sebagai alat bermainnya. Dan dengan keterbatasan uang, anak diajarkan untuk menghargai uang. Bahkan dengan sekolah di tempat yang biasa (bukan tempat yang mewah dan mahal), anak diajarkan kepekaan sosial dengan sesama. Bukankah juga dengan ikut milis ini secara tidak langsung kita diajarkan untuk hidup hemat? (tidak perlu sering-sering ke dokter dan RS, tidak perlu banyak obat, tidak perlu makanan-makanan tidak sehat yang berharga mahal, dan lain-lain)
.
Materi memang perlu, tapi tidak perlu dana yang melimpah untuk menjadikan anak-anak kita anak-anak yang sukses, karena materi bukan segalanya. Mengapa kita lebih mementingkan kecukupan materi, sementara anak-anak kita kekurangan kasih sayang dan pendidikan dari ibunya sendiri?

4. Untuk aktualisasi diri, tidak perlu pekerjaan yang menyita waktu
seharian (dari jam 8 pagi - 5 sore).
Banyak peluang bisnis dan karir yang bisa dikerjakan di rumah. Bahkan aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan rumah pun merupakan aktualisasi diri. Tak perlu minder dengan titel pendidikan yang tinggi tapi tak bekerja (formal). Kita sekolah sebagai bagian dari proses hidup, mencari kematangan berpikir, dan tentu saja, untuk mendapatkan pasangan hidup yang sekufu atau selevel pendidikannya dengan kita.


5. Coba kita renungkan, wanita bekerja hanya sebagai pelengkap.

Kebutuhan finansial keluarga, sementara pria bekerja karena merekalah tulang punggung keluarga masing-masing. Jika kesempatan kerja dan karir cemerlang banyak 'direbut' oleh kaum wanita, secara otomatis banyak pula kaum pria yang kehilangan kesempatan tersebut. Karena penghasilan mereka tidak mencukupi, mereka 'meminta' para istri mereka untuk bekerja pula. Seperti lingkaran setan bukan?
Maka, lebih baik kesempatan karir atau pekerjaan (formal atau kantoran) diberikan untuk para pria, sehingga mereka merasa tenang dalam mencari nafkah. Saya bisa memahami kenapa sebagian pria di tempat kerja sedikit 'cemburu' dengan para rekan wanitanya, karena merekalah yang harus menanggung beban keluarga lebih besar dibanding para wanita.


6. Banyak pelecehan (kata-kata, seksual, dan lain-lain) yang dialami para wanita ketika bekerja di luar rumah, baik di luar maupun di dalam kantor, sekecil apapun bentuknya.

Bukankah lebih terhormat (dan lebih terlindungi) jika para ibu tinggal di rumah serta mendidik anak-anak mereka? Sebagai renungan, Tengoklah ke dlm hati nurani kita, tegakah kita meninggalkan anak kita yang sakit di rumah karena harus mengejar deadline di kantor?
Kecewakah kita saat baru tahu anak kita sudah bisa mengucapkan kata pertamanya beberapa hari yang lalu? Merasa bersalahkah kita karena setiap pulang kantor hanya bisa melihat anak kita tertidur lelap?
Cukupkah waktu untuk memberikan kasih sayang sepenuh tenaga pada saat akhir pekan saja? Dari mana anak-anak kita bisa belajar berdoa, ditanamkan kegemaran membaca, diajarkan semangat berbagi dan peduli sesama, kalau bukan dari orang tua? Kita semua tahu, pendidikan di rumah adalah bekal penting kehidupan anak ketika mereka dewasa kelak. Dalam kenyataannya, para baby sitter, kakek nenek, om tante yang mengasuh anak kita punya kehidupan sendiri, punya masalahnya sendiri, dan tak akan bisa menyamai pendidikan sepenuh jiwa yang diberikan langsung oleh seorang ibu.

Bagi saya, kedekatan kualitas dan kuantitas dalam mendidik anak adalah ASI bagi kehidupan anak, sementara meninggalkan anak (untuk bekerja karena alasan syar'i atau darurat) adalah SUFOR. Bila tidak dalam keadaan 'gawat darurat', sebaiknya tidak usah dilakukan.


Saya disini tidak bermaksud menyinggung para ibu yang bekerja, ataupun membuat kontroversi yang tidak perlu. Saya sangat menghormati keputusan para ibu berkarir tersebut. Saya juga tidak men-judge bahwa anak-anak yang ibunya di rumah akan lebih sukses dibanding anak-anak yang ibunya bekerja, tidak sama sekali.
Masa depan itu hanya Tuhan yang tahu, kita hanya berusaha sesuai dengan yang kita anggap terbaik.

Hidup itu pilihan, dan bagi para wanita yang mengorbankan karir demi keluarga, jangan pernah menyesali pilihan tersebut.
Berbanggalah, dan tunggulah (hasilnya) nanti saat anak-anak kita jadi anak-anak yang berhasil dalam hidupnya, bukan hanya kesuksesan dalam bentuk materi, yang penting adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bagi agama, orang tua, dan negaranya.

Selasa, 23 September 2008

Raja Yang Sakit (Seri Hikmah)

dikutip dari eramuslim.com

Pada suatu kesempatan ketika sedang Jum'atan, seorang Ustadz bercerita dialog antara Malaikat dan Allah. Dialog terjadi berawal dari keputusan Allah yang membuat Malaikat menjadi bertanya-tanya...? Masalahnya perihal ada seorang raja yang sholeh terlihat nasibnya kurang baik. Tetapi di daerah lain ada seorang raja yang dzolim, nasibnya lebih baik dari pada raja yang sholeh tadi.


Kisahnya begini. Pada suatu ketika raja yang sholeh menderita sakit keras dan untuk bisa sembuh, seorang tabib mengatakan agar raja itu memakan ikan tertentu.bukan ikan yang biasa, masalahnya ketika ikan itu dicari.. Ternyata saat itu ikan tidak dapat ditemukan. Padahal seharusnya pada saat itu biasanya ikan sejenis itu banyak bermunculan..Tapi berhubung Allah berkehendak lain, ikan tersebut tidak muncul-muncul, akhirnya wafatlah sang raja yang sholeh itu karena tidak mendapat obat.

Namun, sebaliknya di negara lain ada raja juga mengidap sakit yang sama seperti raja sebelumnya, tapi raja yang satu ini bukan raja yang sholeh, melainkan raja yang dzolim. Lalu sang tabib pun menyarankan untuk memakan ikan yang sama sebagai obatnya. Tapi anehnya saat itu di mana ikan-ikan itu biasanya tidak bermunculan, tapi Alloh berkehendak lain..ikan-ikan itu pun bermunculan dan akhirnya sembuhlah si raja dzolim itu.


Dengan kejadian itu, Malaikat pun jadi bertanya-tanya...dan saking penasarannya, bertanyalah malaikat pada Allah " Ya Allah, kenapa raja yang dzolim itu Kau permudah urusannya, sedang raja yang sholeh itu Kau persulit hingga akhirnya dia meninggal dunia?" Lalu Allah menjelaskan "Sengaja Aku tidak memberi ikan pada raja yang sholeh untuk kesembuhannya dan Aku putuskan dia meninggal dunia, karena dengan begitu wafatnya dia Ku-anggap sebagai penggugur dosanya dari kesalahan yang pernah dia lakukan di dunia. Sehingga dia meninggal dunia tidak membawa dosa, melainkan membawa amal-amal sholeh. Karena keburukannya telah kubalas di dunia."


Malaikat melanjutkan pertanyaannya, lalu bagaimana dengan raja yang dzolim itu ya Allah? Allah pun menjelaskannya kembali "Sebaliknya untuk raja yang dzolim itu sengaja Kuberi dia kesembuhan, karena walau gimana raja yang dzolim itu mempunyai kebaikan juga di dunia dan kebaikannya Kubalas di Dunia. Sehingga pada saatnya dia nanti meninggal dunia, dia tidak akan membawa amal kebaikan, melainkan yang diamembawa hanya amal buruk karena kebaikan-kebaikannya sudah Kubalas di dunia.


Dari cerita di atas saya berfikir setidaknya kita mendapat pencerahan mengenai suatu dugaan yang salah dari peristiwa yang kita lihat atau yang kita alami sendiri, dugaan yang membuat kita bertanya-tanya kenapa Alloh berlaku tidak menguntungkan padaku padahal aku sudah ibadah...?! dan kita juga pernah melihat ada beberapa orang yang baik (sholeh/sholeha)tapi mereka dapat ujian juga tertimpa bencana alam atau musibah lain berupa sakit keras, kehilangan harta dan ada juga orang yang kecelakaan sampai cacat kehilangan anggota tubuhnya dan ada beberapa musibah lainnya.


Di sisi lain kita kadang sempat iri melihat orang yang ibadahnya biasa-biasa atau bahkan tidak ibadah sama sekali tapi kehidupannya makmur, sampai ada yang bergelimang harta, lalu kembali lagi kita menduga-duga, kenapa Alloh berlaku demikian...??? Jawabannya: Biar lah Allah berlaku sesuka-Nya pada kita dan pada hamba-hamba-Nya yang lain, karena Dia lah (Tuhan) Sang Pemilik Alam beserta isinya dan yang Maha Mengetahui apa yang akan diperbuat-Nya, kita sebagai manusia teruslah Ikhtiar dan meningkatkan ibadah tanpa harus mendikte Allah, keikhlasan kita dalam menerima segala ketentuan dari Allah, itu lah sesuatu yang teramat penting sekali! karena bila kita ridho terhadap ketentuan Allah, Allah pun akan memberikan ridho-Nya pada kita, sehingga kita akan mendapat rahmat-nya dijauhkan dari siksa api neraka yang amat pedih.


Mengenai musibah yang terjadi/menimpa, seperti itu tadi ikhlaskan saja, Insya Allah itu akan menjadi penggugur dosa yang nantinya akan mengurangi timbangan dosa di akherat dan akan memberatkan timbangan amal baik, seperti kisah raja yang sholeh di atas, dia tidak mendapat kebaikan di dunia, tapi Allah memberikan kebaikan untuknya di akherat, subhanallah.

Sura al-Baqarah : Ayat 216. diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Senin, 22 September 2008

Gula (Seri Hikmah)

dikutip dari eramuslim.com

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop. Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.


Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti. Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.


Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirop." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, " dan seterusnya. Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, "Andai aku seperti kamu." **Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.


Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirop!"

Bocah Misterius

dari milis sebelah




Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak beranimelarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yangmelarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda Tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..” Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itukan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan,dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalianjuga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankahkalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementarakalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemputajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?” Bocah itu terus saja berbicara tanpa member kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itumenyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihandalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupaada, lantas kalian menyebutnya denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘IdulFithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.
Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…”

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yangdisampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampong Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi iatidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikanpelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkandada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterimakasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya, entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernahlagi melihatnya,selama- lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.