Senin, 22 September 2008

Gula (Seri Hikmah)

dikutip dari eramuslim.com

Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop. Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.


Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti. Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.


Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirop." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, " dan seterusnya. Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, "Andai aku seperti kamu." **Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.


Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirop!"

Bocah Misterius

dari milis sebelah




Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak beranimelarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yangmelarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda Tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..” Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. “Itukan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan,dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalianjuga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankahkalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementarakalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemputajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian..!?” Bocah itu terus saja berbicara tanpa member kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba. “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja. Dan ketahuilah juga justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itumenyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihandalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupaada, lantas kalian menyebutnya denga istilah menyambut Ramadhan dan ‘IdulFithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.
Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak…”

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yangdisampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampong Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi iatidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikanpelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkandada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterimakasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya, entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernahlagi melihatnya,selama- lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Minggu, 24 Agustus 2008

An Unconditional Love...

taken from mailing list of psiunair01

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam.
He called his parents from San Francisco.

"Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me."

"Sure," they replied, "we'd love to meet him."

"There's something you should know", the son continued, "he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us."

"I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live."

"No, Mom and Dad, I want him to live with us."

"Son," said the father, "you don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own."

At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told.

The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg.

Anyway...
The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable.

We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are.

We all should have the strength to accept people as they are, and be more understanding of those who are different from us!!!

Rabu, 20 Agustus 2008

Cucu Presiden

oleh: Prima

Mumpung masih dalam nuansa Agustusan. Hehe.. Ada-ada saja ya ide orang-orang jaman sekarang. Ternyata bukan hanya balap karung, makan kerupuk, kepruk kendil, dan sejenisnya saja yang menjadi bahan 'langganan' warga masyarakat untuk memeriahkan HUT kemerdekaan negara tercinta ini. Yang lain daripada yang lain pun ada. Intip saja Bapak Indonesia kita, yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih akrab disapa dengan sebutan Pak SBY, tepat di tanggal 17 Agustus 2008 kemarin resmi sudah menjadi kakek dari Almyra Tunggadewi Yudhoyono (Ayra). Seorang bayi mungil nan cantik terlahir dari pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Pohan.


Ceritanya singkat saja. Sejak hari Sabtu, 16 Agustus 2008 pukul 16.00 WIB, Annisa sudah masuk Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI). Pada saat itu masih terjadi simpang siur mengenai kelahiran calon cucu Presiden. Ada yang mengira kelahiran cucu Pak SBY ini akan ditepatkan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ada juga yang mengira kalau Annisa hanya berjaga-jaga untuk menyambut kelahiran anak pertamanya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Ternyata eh ternyata keesokan harinya yaitu hari Minggu, 17 Agustus 2008, bayi mungil yang dinanti-nanti pun lahir. Yah.. 'agak' kebetulan memang! Hehe.. Seorang Presiden yang berjiwa Nasionalis memiliki cucu pertama yang lahir di Hari Kemerdekaan, sementara Agus Yudhoyono menyatakan bahwa prediksi kelahiran menurut
ultrasonografi adalah sekitar tanggal 4 September 2008.

Menurut kabar dari kabar berita.com, proses kelahiran yang ditempuh Annisa adalah melalui operasi caesar. Proses kelahiran tersebut diketuai oleh dr. Azen Talim dari RSPI. Menurut Gatot, operasi harus bergeser dari jadwal yang seharusnya karena pematangan plasenta ternyata lebih cepat. Kalau hal ini tidak dilakukan akan mempengaruhi kelincahan bayi.

Bahkan ada salah satu sharing dari seorang ibu --mengaku sebagai 'korban' infotainment-- yang tergabung dalam milis sehat mengatakan bahwa pada dasarnya suami Anisa bilang maunya juga normal tapi karena ada indikasi yang mengharuskan caesar ya mau gimana lagi. Katanya lagi disuruh milih antara tanggal 15-17 Agustus, jadilah dipilih tanggal bersejarah itu. Kemudian ada ibu lain yang menanggapi komentar ibu tadi dengan menceritakan pengalaman pribadinya seperti ini.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear all,

Kebetulan saya ditangani oleh SpOG yg sama dgn ketua tim dokter Annisa Y tsb. Pada kasus saya yg mengalami pre-eklampsia yg lumayan heboh, SpOG tsb masih mengusahakan normal, tetapi melihat bahwa tekanan darah naik dgn sukses, langsung diputuskan operasi & waktunya juga langsung ditentukan keesokan harinya.. padahal saya cuma lagi periksa rutin & baru masuk minggu-38..
padahal anak
pertama lahir normal & asiknya minta ampun karena jam 6 pagi melahirkan,jam 4 sore sudah mandi & jalan2..ngeri banget pas diputuskan harus caesar..(Curhat colongan ni)
Boro2 mau milih hari, wong harusnya operasi jam 4 sore malah dipercepat jadi jam 12 karena tekanan darah meningkat pesat sekali..
Yah mungkin lain kasus lain lagi penanganannya..siapa tau kalo kasusnya tdk emergency banget bisa milih hari untuk operasi..
Asik juga ya kalau bisa milih hari..kan lumayan tuh bisa milih hari bersejarah, jadi ultah anak ga akan kelupaan..ga seperti saya yg suka lupa tgl lahir anak..hehehe..


AW

Mama yg suka pikun tanggal lahir anak

------Original Message------
From: segaintil
Sender: Mailing List Sehat Group

To: Mailing List Sehat Group

ReplyTo: Mailing List Sehat Group

Sent: Aug 20, 2008 5:28 PM

Subject: [sehat] Re: Bayi 17 Agustus ....


Dear semuanya,

Saya juga ternyata melahirkan harus sesar, sekalipun dijadwalkan normal. Tapi engga bisa tuh milih tanggal apalagi bedanya sampai dua hari. Ini kasus saya lho.
Saya melahirkan lebih maju 2 minggu dari jadwal normal, tetapi anakku itu selain gede banget juga terlalu banyak gerak di dalam perut, jadilah ketubannya pecah dini, lalu diinduksi semalam ya gak mau keluar juga karena kepalanya gede banget booo...
Akhirnya diputuskan besok siang dioperasi saja. Keputusan itu diambil jam 12 malam, karena sudah sehari semalam sang bayi gak mau juga keluar.
Tetangga saya sebelah rumah, kita melahirkan bersama-sama ditanggal yang sama di rumah sakit yang sama, bayinya kecil hanya 2,5 kilo, tetapi juga disesar karena pinggulnya kecil.
Bayinya gak mau keluar juga. Saat harus lahir normal gak bisa, jadilah disesar, tapi gak
boleh nunggu-nunggu tuh. Apalagi milih tanggal hehehe...

JM
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

sementara itu, masih dalam milis yang sama, seorang dokter berpendapat seperti ini:

Re: [sehat] Bayi 17 Agustus ...hmhm:-)

hehehe...
jd pengin ikutan.

analoginya gampang

coba buah kalau belum masak terus dipetik......apa rasanya.....asem....kecut..sepet.....lan sapanunggale.
tongkol...buahnya tanaman anthuriumpun demikian...biarkan mecotot dengan sendirinya......tinggal nanti disemai.....Insya Alloh akan lebih eksis di dunia fana ini.

terlepas dari pro kontra anisa.....soalnya ada juga yg punya alasan...supaya awet muda..singset gitu........ndak tahu yg punya pemikiran seperti ini dapat wangsit dari mana.....

secara ilmiah..sudah dijelaskan panjang lebar.....masalah caesar ini.....lebih banyak mudhorotnya.....monggo silakan bisa di googling.... pun secara kodrat manungso...alias manusia.......wong sudah diatur........kecuali...ini kecuali......karena alasan medis yg tdk dapat di hindari.

salam prihatin,
bapakeghozan--heran kadang saya sama menungso
duh maaf..maaf...maaf......ikutan ngerrorrrrr.


yang kemudian ditanggapi oleh seorang anggota milis lainnya, seperti ini:

Re: Bayi 17 Agustus ...hmhm:-)

Ikut komentar boleh tidak?
Rasanya membuat program melahirkan di caesar di dunia ini cuma terjadi di Jakarta. Bagaimana pun melahirkan normal akan jauh lebih baik daripada caesar. Umumnya kelahiran bayi diupayakan normal, jika tidak dimungkinkan karena beberapa hal, barulah di caesar.
Jakarta yang macetlah, awal-awalnya dokter dan pasien memilih kesepakatan di caesar saja. Tetapi lama-lama menjadi mode untuk memilih tanggal yang dimaui.
Setahu saya, awal-awalnya dahulu program ini sudah dikritik juga di kelompok kedokteran, tapi kok malah engga bisa dibendung lagi, bahkan keluarga presiden juga ikut-ikutan.
Memberi contoh?


Salam,
Julia Maria


Bukannya mau bagaimana yang bagaimana yaa.. Kalau memang dibilang ini sudah takdir, ya boleh lah. Lha wong ultrasonografi bukan Gusti Allah tho?! Walaupun sebenarnya anak SD sambil merem saja juga tahu, kalau apapun yang sudah terjadi itu dinamakan 'takdir'. Tapi kalau ada yang bilang beliau hanya ingin mencari sensasi, ya silahkan saja. Ini negara demokrasi kan?! Hehe..

Sekali lagi, teruntuk keluarga besar Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, saya pribadi bersama keluarga mengucapkan "Selamat atas kelahiran Ayra, moga menjadi pemimpin yang sholihah...amin"

Piss ahh!!

Jumat, 15 Agustus 2008

Berjodoh Via Internet

based on the true stories

Hanya berbagi…
Sebut saja Diana, 23 tahun. Alumnus PTN ternama di Surabaya yang lulus dengan predikat cumlaude. Kebetulan Diana tercatat sebagai mahasiswi jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi tahun 2002, mundur setahun karena gagal lulus di UMPTN 2001.

Diana termasuk cerdas dalam hal akademis. Hobi membaca serta fasih berbahasa Inggris dan Mandarin. Selepas kuliah, Diana langsung ‘dilamar’ perusahaan asing milik India yang berlokasi di Sidoarjo, kota kelahirannya. Gayung bersambut, karena memang Diana tipe-tipe wanita karir.

Sepintas, Diana terlihat biasa saja. Menjadi sedikit istimewa karena Diana kini tidak sendiri lagi. Yah, Diana sudah menikah! Dengan seorang Akuntan Bank ternama – berkewarganegaraan Arab Saudi – di negara yang sama, yang dia kenal melalui obrolan via Yahoo! Messenger.

Sebut saja Elsayd. Dua puluh tahun lebih tua dari Diana. Diana dan Elsayd baru hitungan bulan berkenalan melalui chatting. Tanpa berlama-lama, Elsayd langsung melamar Diana dan menikahinya, dengan pesta yang sangat sederhana. Hanya upacara akad-nikah. Berlangsung kurang lebih sekitar dua jam termasuk makan-makan yang dihadiri rekan dan kerabat dekat yang dikenalnya saja.

Sebulan setelah menikah, Diana langsung diboyong suami ke Saudi dan tinggal di apartemen. Dan yang paling membanggakan, Diana sekarang memakai burkah, lebih dari sekedar memakai cadar. Padahal dulu Diana asal-asalan memakai jilbab. Bahkan lebih sering melepas jilbab pada saat keluar rumah, dengan alasan ribet atau lupa. Surprise-nya adalah Diana sekarang menjadi seorang full-time mom dan lebih memilih untuk mengabdi pada suami. Yah, adakah pekerjaan yang lebih baik dari itu, saudara??

Insya Allah empat bulan lagi, lengkap sudah kebahagiaan pasangan ‘berjodoh via internet’ ini karena kehadiran malaikat kecil dari rahim Diana…

Hanya berbagi…
Rahmi, beberapa orang memanggilnya. Usianya
menginjak 25 tahun sekarang. Tercatat sebagai mahasiswi Psikologi PTN ternama di Surabaya tahun 2001 dan lulus di tahun 2006.

Siapapun yang mengenal Rahmi pasti akan mengatakan tiga hal. Cantik, smart, dan perfeksionis! Sangat berambisi menjadi wanita karir. Dan hal itu pun berhasil dia raih. Rahmi menjadi seorang advisor pendidikan di salah satu SD di Jombang, kota kelahirannya. Terkadang Rahmi juga dimintai tolong untuk menjadi pembicara dalam suatu seminar-seminar terkait pendidikan.

Dua bulan yang lalu Rahmi menikah. Dengan seorang Teknisi IT yang dia kenal lewat ajang mencari teman di situs friendster. Daniel namanya. Beda setahun saja dengan Rahmi. Mahasiswa lulusan Institut ternama di Surabaya.

Sekarang ini Rahmi mengikuti suami tinggal di Kalimantan untuk kepentingan pekerjaan Daniel. Sekarang pun Rahmi lebih memilih untuk mengabdi pada suami dan menjadi seorang full-time mom di rumah sambil berbisnis.

Satu lagi, pasangan tercipta karena ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Haidar dan Matahari harus bersabar menunda hari jadinya un
tuk sementara waktu. Ada satu pekerjaan penting yang harus Haidar lakukan. Tepat di September tahun ini, Haidar harus melanjutkan studi Psikologinya ke Rusia selama tiga tahun. Sedangkan Matahari pun masih kurang sekitar tiga tahun lagi untuk meraih gelar sarjana Psikologinya di PTN ternama di Yogyakarta.

Setali tiga uang dengan pengalaman Diana-Elsayd, Yahoo! Messenger lah yang telah ‘berjasa’ memperkenalkan dan mempertemukan mereka berdua. Mereka sama sekali tidak menganggap ‘penting’ jarak usia diantara mereka yang berbeda sekitar sepuluh tahun lebih tua Haidar.

Yah, mungkin saja mereka memang ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Sampai sekarang Anita masih panik bercampur bahagia untuk me
mpersiapkan hari yang selalu menjadi mimpi indah bagi para anak perempuan sewaktu kecil. Yah, insya Allah akhir tahun ini Anita akan mengakhiri masa gadisnya! Bersama seorang teknisi IT – tak beda jauh dengan suami Rahmi – berkewarganegaraan Afrika. Mauritius, tepatnya. Kota kelahiran Govinda, calon pendamping seumur hidup Anita.

Pria keturunan India-Iran ini dikenal Anita sejak mereka berdua sama-sama tergabung sebagai member dalam situs ajang mencari teman di facebook. Sebelas-dua belas dengan situs friendster.

Hanya satu syaratnya, Anita – yang masih tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi di PTN ternama Surabaya tahun 2001 – harus menyelesaikan skripsinya terlebih dahulu untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Semoga mereka benar-benar menjadi pasangan never endless love yang secara kebetulan ‘berjodoh via internet’…


Hanya berbagi…
Bersyukur sekali saya termasuk orang yang hobi berselancar di dunia maya. Karena sama sekali saya tidak mengira kalau ternyata jodoh saya adalah pria yang saya kenal melalui situs friendster.

Mulanya biasa saja. Hingga hanya dalam hitungan bulan saja saya dilamarnya. Kaget, tidak percaya, antara takut dan senang, benar-benar seperti mimpi. Di usia saya yang baru 23 tahun waktu itu, tentu bukan menikah yang menjadi target utama saya. Karir! Yah, saya harus berkarir dan menjadi orang berhasil dahulu. Baru tiba saatnya nanti saya akan memikirkan masalah pernikahan. Pun dengan orangtua saya, setali tiga uang dengan saya. Mereka menganggap saya masih kecil dan awam untuk urusan membuat sebuah komitmen dengan seseorang. Dasar pemahaman kami mengenai ‘kesuksesan’ yang memang masih konvensional waktu itu.

Baru sekali bertemu, waktu itu kami memadu janji untuk bertemu di sebuah warung sederhana depan kampus idola kami. Tentu saja kami tidak hanya berdua, akan tetapi berempat. Yah, kami datang dengan ditemani oleh masing-masing muhrim kami.

Bulan depannya sang belahan jiwa sudah membicarakan masalah waktu yang tepat untuk pertemuan orangtua dan keluarga kami masing-masing. Beberapa minggu sebelum pertemuan itu, sedikit demi sedikit saya semakin yakin dengan keseriusan sang belahan jiwa untuk menjadikan saya sebagai istrinya. Istikharah memantapkan hati saya. Jalan saya semakin diarahkan ke arah sang belahan jiwa. Pun dengan orangtua saya. Mereka percaya kalau pilihan anaknya tidak salah. Dan yang pasti adalah keputusan yang terbaik! Allah mendengar doa kami dan mungkin karena memang kami berjodoh…

Tepat di Sabtu, 29 Juli 2006, sumpah itu terucap dari sang belahan jiwa. Untuk seumur hidup menjadi imam bagi saya dan anak-anak kami kelak. Dengan tanpa keraguan sedikitpun, sang belahan jiwa mengucapkan sumpahnya di depan orangtua kami masing-masing, di depan para saksi, dan beberapa undangan baik dari para kerabat juga sahabat yang hadir kala itu. Dan yang terpenting adalah disaksikan oleh Allah…

Alhamdulillah… saya dan sang belahan jiwa termasuk pasangan yang ‘berjodoh via internet’…


Mari berbagi…
Andalah yang akan mengisi kisah anda di ruang “Mari Berbagi” ini. Suatu anugerah yang tidak biasa, karena telah menjadi pasangan yang “berjodoh via internet”. Terlalu ind
ah kalau hanya untuk disimpan sendiri. Mari berbagi...